Ini Pandangan Islam Tentang Kebiasaan Menyebarluaskan Foto Orang Yang Sakit di Medsos


http://1.bp.blogspot.com/-LBnyt4dHNEY/Vojk41hLKUI/AAAAAAAAAE4/cjZzZR03vQ8/s400/Etika%2BMenjenguk%2BOrang%2BSakit.jpg

 PERNAHKAH Anda melihat foto orang sakit berkeliaran di beranda media sosial Anda? Lengkap dengan selang infus, atau luka-luka, atau apa pun yang menyertainya.

Tak diragukan, Islam sangat menganjurkan tiap orang untuk berempati kepada sesama, termasuk menjenguk saat datang musibah sakit ataupun kematian. Anjuran ini tersebar dalam banyak teks hadits. Orang yang dijenguk pun bisa siapa saja, mulai dari keluarga, tetangga, ulama, hingga orang-orang yang membenci kita.

Menjenguk orang sakit adalah bagian dari ibadah yang utama. Saking pentingnya ibadah ini, dalam sebuah hadits riwayat Imam ath-Thabrani dijelaskan bahwa di antara kewajiban terhadap tetangga adalah menjenguknya kala sakit dan mengiringi jenazahnya saat meninggal dunia.

Penjenguk orang yang tertimpa musibah memiliki nilai lebih karena memang ia bukan sekadar penonton. Ada aspek solidaritas dalam aktivitas tersebut. Kehadirannya dibutuhkan sebab orang-orang yang sakit memerlukan ketenangan jiwa, motivasi, semangat, dan juga doa. Peran para penjenguk adalah memberikan itu semua. Lebih berfaedah lagi bila ada uluran tangan dalam bentuk lain, seperti biaya pengobatan atau sejenisnya.

Lantas, apakah tingkah sebagian penjenguk yang mengambil gambar orang sakit dan memublikasikannya ke media sosial seperti jamak dilakukan belakangan ini memenuhi etika tersebut?

Foto-foto yang diumbar umumnya melukiskan kondisi pasien yang sedang tergolek lemah di atas ranjang, kadang bertelanjang dada, dan lengkap dengan cairan infus dan tancapan selang di rongga hidung dan mulut. Seberapa penting mengekspos gambar-gambar seperti ini?

Islam sangat menghormati privasi (rahasia) seseorang. Islam memuliakan manusia dan menjamin terlindunginya hak yang menyangkut kehormatan pribadinya. Termasuk jika privasi tersebut menyangkut dosa personal atau aib lainnya. Sebuah hadits mengingatkan:

مَنْ سَتَرَ مُسْلمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنيا وَالآخِرَة


“Barangsiapa menutup (aib/cacat) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)


http://4.bp.blogspot.com/-6g_NjwWxnkY/ULh8VqETUXI/AAAAAAAAANU/lCuRGN7NSE4/s200/rs.jpg

Orang-orang yang sakit bisa jadi sangat tidak menginginkan gambar tentang keadaan dirinya yang ringkih, nelangsa, dan tak berdaya, tersebar bebas di media sosial semacam Facebook, Twitter, Whatsapp, Instagram, BBM, atau lainnya.

Walaupun, ia tahu ungkapan simpati dan doa pasti bakal membludak—bukan langsung kepada dirinya yang sedang sakit melainkan kepada akun si penyebar gambar. Tubuh adalah bagian dari citra kehormatan seseorang.

Jika dalam kondisi normal sehari-hari saja seseorang berusaha berpenampilan bagus di hadapan orang lain, bagaimana mungkin dalam situasi “buruk” seperti itu rela ditonton banyak orang?

Para penjenguk barangkali bermaksud baik dengan mempublikasikan foto orang sakit. Bukan pamer kesalehan sosial, tapi sedang menggalang solidaritas dan doa dari lebih banyak orang lain. Atau mungkin sebatas menyampaikan informasi ke masyarakat bahwa si A tengah sakit. Namun, apakah penyebaran foto-foto itu sudah memperoleh izin dari yang bersangkutan? Tidak adakah cara yang lebih santun dan elegan dalam menggalang simpati selain dengan mengumbar foto-foto penderitaan dan ketidakberdayaan pasien?

Di sinilah perlunya kita mengerti bahwa prinsip menjenguk orang sakit adalah meringankan beban penderitaan, atau minimal tak menambah ketidaknyamanannya.

Niat baik memang penting, namun cara dan adab dalam mengejawantahkan niat tersebut juga tak kalah penting. Karena menyangkut privasi seseorang, maka yang harus ditekankan adalah restu atau izin dari si pemilik privasi.

Karena menyangkut pula ranah publik, konten yang ditampilkannya pun seyogianya tak melanggar kepantasan di mata umum (‘urf). Garis etis ini tak hanya berlaku untuk foto penderita sakit, tapi juga gambar jenazah, korban kecelakaan, atau sejenisnya.

Wallâhu a‘lam.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Bolehkah Kita Membuat Kopi dengan Air Zam-Zam?

kopi dari zam-zam

Maaf tadz, bolehkah ndak memanaskan air zam-zam, misalnya untuk dibuat kopi. Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memuji zam-zam, dan beliau menyebutnya sebagai makanan. Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

“Air ini berkah, air ini adalah makanan yang mengenyangkan.” (HR. Muslim 6513, Ibnu Hibban 7133 dan yang lainnya).

Karena itu, yang dilarang adalah menggunakan zam-zam untuk kegiatan yang bentuknya menghinakan zam-zam. Seperti untuk bersuci setelah buang air besar maupun kecil.

Al-Buhuti mengatakan,

وكذا يكره استعمال ماء زمزم في إزالة النجس فقط؛ تشريفا له ولا يكره استعماله في طهارة الحدث

Demikian pula, tidak boleh menggunakan zam-zam untuk membersihkan najis saja. Dalam rangka memuliakan zam-zam, dan tidak masalah jika digunakan untuk bersuci dari hadats (wudhu). (Kasyaf al-Qana’, 1/28).

Adapun menggunakan zam-zam untuk dimasak, atau dibuat kopi, atau teh atau minuman hangat lainnya, hukumnya dibolehkan.

Dalam Fatwa yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Soleh al-Fauzan, beliau ditanya tentang hukum menggunakan air zam-zam untuk dimasak. Rekaman Fatwa ini bisa anda saksikan di link video:



 
Pertanyaan

هل يجوز استعمال ماء زمزم للطبخ والاغتسال؟

Bolehkah menggunakan air zam-zam untuk dimasak dan dipakai mandi?

Jawab beliau,

لا بأس بذلك ولا مانع من ذلك لأنه ماء مبارك وماء مباح فلا مانع من أن يطبخ منه وأيضا أنه يزال فيه الحدث ويتوضأ به لأنه طهور والحمد لله

Tidak masalah, tidak menngapa hal itu. Karena zam-zam adalah air yang berkah, air mubah. Sehingga tidak masalah dimasak. Juga bisa digunakan untuk menghilangkan hadats dan digunakan untuk berwudhu. Karena air ini mensucikan, wal hamdulillah…

Demikian pula yang disebutkan dalam fatwa Syabakah Islamiyah,

فيجوز غلي ماء زمزم واستعماله في الطبخ ونحو ذلك من أنواع الاستخدام، وإنما الذي لا ينبغي هو امتهانه واستعماله فيما استقذر كإزالة النجاسة ونحو ذلك، وأما شربه والطبخ به فلا حرج فيه فهو طعام وشفاء سقم

Boleh mendidihkan air zam-zam dan digunakan untuk masak atau penggunaan lainnya. Yang tidak boleh adalah menghinakan zam-zam dan menggunakannya posisi kotor, seperti menghilangkan najis atau semacamnya. Sedangkan untuk diminum atau dimasak, tidak masalah. Karena zam-zam itu makanan dan obat untuk menghilangkan penyakit. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 67118)

Demikian, semoga bermanfaat..

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits


 
 
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Benarkah Adanya Budaya Titip Salam untuk Nabi Ketika Haji dan Umrah


https://1.bp.blogspot.com/-k5FpyBs7FbM/VsiSgfWb5FI/AAAAAAAAEuc/WStOiFumHts/s640/Nabi%2BMuhammad.jpg

Saya pernah dengar bahwa titip salam itu salah satu yang disunnahkan dalam Islam, namun apakah bisa dibenarkan budaya titip salam untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada jamaah haji/umroh? Syukron atas jawaban.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, para sahabat banyak yang keluar dari Madinah untuk mengajarkan islam. Ada yang tinggal di Kufah, di Syam, di Yaman, dst. dan kita tidak menjumpai adanya riwayat bahwa para murid Nabi (sahabat) yang berada di jauh itu, menitipkan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang mau datang ke Madinah.

Dan sebenar, nitip salam semacam ini tidak perlu. Karena dimanapun kaum muslimin berada, dia bisa menyampaikan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salam itu pasti akan sampai kepada beliau dengan yakin.

Dari mana bisa dikatakan dengan yakin sampai ke beliau?

Tentu dengan dalil.

Ada hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ فِى الأَرْضِ يُبَلِّغُونِى مِنْ أُمَّتِى السَّلاَمَ

Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di muka bumi, mereka menyampaikan salam untukku dari seluruh umatku. (HR. Nasai 1290, dan dishahihkan al-Albani).

Beliau juga mengabarkan bahwa beliau akan menjawab salam dari umatnya yang disampaikan kepada beliau,

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَىَّ إِلاَّ رَدَّ اللَّهُ عَلَىَّ رُوحِى حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Setiap muslim yang menyampaikan salam kepadaku, maka Allah akan mengembalikan ruhku, hingga aku bisa menjawab salamnya. (HR. Abu Daud 2043 dan dihasankan al-Albani).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyuruh kita untuk menyampaikan shalawat kepada beliau di manapun kita berada.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Dan kalian jadikan kuburanku sebagai tempat ibadah tahunan. Berikanlah shalawat untukku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada. (HR. Abu Daud 2044 dan dishahihkan al-Albani)


http://1.bp.blogspot.com/-AaxVq1HjcGo/TrdiXIhCt7I/AAAAAAAAALM/rcwGT4tqX7I/s400/Nabi-Muhammad-SAW.jpg

Ketika shalat, kaum muslimin menyampaikan shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

Salam untukmu wahai Nabi, berikut rahmat Allah dan keberkahan dari-Nya. Salam untuk kami dan semua hamba-hamba Allah yang soleh. (HR. Bukhari 835 dan yang lainnya).

Kalimat ini kita baca saat tasyahud di manapun kita shalat. Sehingga tidak perlu titip salam.

Syaikh Abdurrahman bin Natsir al-Barrak mengatakan,

إرسال السلام على النبي صلى الله عليه وسلم مع مَن يسافر إلى المدينة : لا أصل له ، فلم يكن من عادة السلف الصالح من الصحابة رضي الله عنهم ، والتابعين ، وأهل العلم إرسال السلام ، ولم ينقل عن أحد منهم شيء من ذلك ؛ لأنه صلى الله عليه وسلم يُبلَّغُ صلاة أمته وسلامها عليه

Menitipkan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang sedang safar ke Madinah, tidak memiliki landasan dalil sama sekali. Bukan bagian dari kebiasaan orang soleh masa silam, dari dari sahabat radhiyallahu ‘anhum, Tabi’in maupun para ulama. Karena salam dan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan disampaikan kepada beliau. (Fatwa Islam, no. 69807)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Bolehkah Orang Yang Tidak Shalat Menjadi Saksi Nikah ?


saksi nikah dalam islam

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Pertama, diantara syarat sah nikah adalah adanya saksi dari kaum muslimin yang adil. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل

“Tidak sah nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.” (HR. Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Jami’us Shaghir, no. 7557).

Ibnu Qudamah mengatakan,

لا ينعقد النكاح إلا بشهادة مسلمين , سواء كان الزوجان مسلمين , أو الزوج وحده. نص عليه أحمد. وهو قول الشافعي…. لقوله عليه السلام: (لا نكاح إلا بولي , وشاهدي عدل)

“Pernikahan statusnya tidak sah kecuali jika ada dua saksi yang muslim. Baik sang pengantin keduanya muslim atau hanya pengantin pria saja yang muslim. Ini yang ditegaskan Imam Ahmad dan pendapat Imam Syafii…. berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak sah nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.” (al-Mughni, 7:7)

Kedua, syarat saksi nikah sebagaimana dalam hadis di atas adalah adil. Standar, menurut pendapat yang lebih kuat, dikembalikan keadaan masyarakat setempat. Selagi orang itu disebut baik secara agama dan sosial masyarakat maka dia bisa menjadi saksi nikah.

http://3.bp.blogspot.com/-2yG9qfG5LxI/U9GBavIaKKI/AAAAAAAAAmU/kE4HMyHjh8M/s1600/akad+nikah.jpg

Ketiga, orang yang meninggalkan shalat statusnya diperselisihkan ulama apakah dia masih muslim ataukah sudah keluar dari Islam. Imam Ahmad dan mayoritas sahabat dan tabi’in berpendapat bahwa orang yang tidak shalat hukumnya kafir. Sementara mayoritas ulama mengatakan, dia belum kafir, hanya saja melakukan dosa yang sangat besar dan statusnya orang fasik.

Berdasarkan hal ini, orang yang tidak shalat, tidak boleh menjadi wali. Karena jelas dia bukan orang yang adil, baik yang berpendapat bahwa dia kafir atau orang fasik.

Imam Ibnu Baz pernah ditanya,

Ada lelaki yang baik agamanya, menjaga shalat 5 waktu, menikah dengan wanita muslimah. Ketika akad nikah, salah satu saksinya adalah orang yang tidak shalat, dan bahkah terkadang melakukan dosa besar lainnya, seperti minum khamr. Apakah akad nikahnya sah secara syariat?

Jawaban Syaikh Ibnu Baz

إذا كان عند العقد عند قول الولي: زوجتك، وعند قول الزوج: قبلت، لم يحضرهما إلا شاهدان أحدهما لا يصلي، فيعاد العقد؛ لأنه ليس بعدل؛ لأن العقد لا بد فيه من شاهدي عدل مع الولي

“Jika ketika akad nikah, dimana wali mengatakan: “Saya nikahkan kamu”, sementara lelaki menjawab: ‘Aku terima nikahnya’, ketika ijab qabul ini tidak ada yang menyaksikan selain dua saksi, sementara salah satunya tidak shalat, maka akadnya harus diulang. Karena salah satu saksi bukan orang adil. Mengingat dalam akad nikah, harus disaksikan dua saksi yang adil bersama wali.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 20:45).

Keempat, semua orang yang turut menyaksikan ijab qabul akad nikah termasuk saksi

Sebagian ulama, diantaranya Syaikhul Islam Ibn taimiyah, bahwa jika dalam proses akad nikah ada banyak orang yang turut menyaksikan maka itu sudah melebihi syarat saksi. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

وقال بعض العلماء: إنه يشترط إما الإشهاد، وإما الإعلان، أي الإظهار والتبيين، وأنه إذا وجد الإعلان كفى؛ لأنه أبلغ في اشتهار النكاح، وأبلغ في الأمن من اشتباهه بالزنا

Sebagian ulama mengatakan, dalam pernikahan disyaratkan dua hal: persaksian atau pengumuman (yang hadir saat akad banyak orang). Dan jika sudah seperti pengumuman (yang hadir saat akad banyak orang) itu sudah cukup, karena sudah dianggap maksimal dalam mengumumkan pernikahan, dan sudah sangat jauh dari kemiripan dengan zina (asy-Syarhul Mumthi’, 12:95).

Dengan demikian, jika dalam acara akad nikah, saksi resmi yang ditunjuk, tidak memenuhi standar adil, seperti orang yang tidak shalat, namun dalam peristiwa itu ada banyak orang yan ikut hadir menyaksikan maka status nikahnya sah, dan tidak perlu diulang.

Allahu a’lam

Referensi: Fatwa Islam, no. 132983

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Hukum Melakukan Permainan Sabung Ayam


hukum sabung ayam

Assalamu alaikum , ustadz, apa hukum sabung ayam disertai judi dan tanpa berjudi ? Bukankah ini menyakiti binatang ? Syukran

Dari Bang Andang

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ الْبَهَائِمِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengadu binatang. (HR. Abu Daud 2562, Turmudzi 1708, dan yang lainnya).

Hanya saja, hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama, karena statusnya hadis mursal. At-Turmudzi mengisyaratkan bahwa hadis ini adalah mursal Mujahid.

As-Syaukani ketika menyebutkan hadis ini mengatakan,

ووجه النهي أنه إيلام للحيوانات وإتعاب لها بدون فائدة بل مجرد عبث.

Sisi larangannya, karena adu binatang akan menyakiti binatang, membebani mereka tanpa manfaat, selain hanya main-main. (Nailul Authar, 8/99)

Meskipun hadisnya dhaif, bukan berarti mengadu binatang hukumnya dibolehkan. Karena para ulama menegaskan bahwa mengadu binatang hukumnya terlarang.

http://1.bp.blogspot.com/-wqaBgv727bA/VTdH5U1aUHI/AAAAAAAAALg/rfxq8wZBAeI/s1600/sejarah%2Bsabung%2Bayam.jpg

Dalam al-Adab as-Syar’iyah, Ibnu Muflih mengatakan,

ويكره التحريش بين الناس، وكل حيوان بهيم، ككباش وديكة وغيرها. ذكره في (الرعاية الكبرى)، وذكر في: (المستوعب) أنه لا يجوز التحريش بين البهائم.

Sangat dibenci mengadu manusia dan seluruh binatang. Seperti kambing, ayam, atau yang lainnya. Sebagaimana keterangan yang disebutkan dalam kitab ar-Ri’ayah al-Kubro. Dan disebutkan dalam kitab al-Mustau’ib bahwa dilarang mengadu binatang. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).

Ibnu Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah,

يُكْرَهُ التَّحْرِيشُ بَيْنَ الْبَهَائِمِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ إي لَعَمْرِي، وَالْأَوْلَى الْقَطْعُ بِتَحْرِيمِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ النَّاسِ

Apakah mengadu binatang hukumnya makruh?

Beliau menjawab,

Subhanallah, sungguh aneh. Yang lebih layak, ini dihukumi haram melebihi mengadu manusia. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/342).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Hukum Melaksanakan Shalat Arba’in di Masjid Nabawi


shalat arba'in di masjid nabawi

Jika ada orang tidak bs shalat arba’in ketika berangkat haji, lalu bagaimana dg status safarnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Yang dimaksud shalat arba’in adalah shalat wajib sebanyak 40 kali di masjid nabawi. Kata Arba’in [أربعين] artinya 40.

Hadis tentang shalat arba’in teks sebagai berikut,

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ada yang ketinggalan, maka dia dicatat bebas dari neraka, keselamatan dari siksaan dan bebas dari kemunafikan.”


https://arminarekasurabaya.files.wordpress.com/2011/12/raudhah-tempat-mustajab-berdoa-di-masjid-nabawi-16.jpg

Status Hadis

Hadis ini diriwayatkan dari jalur Abdurrahman bin Abi ar-Rijal, dari Nabith bin Umar, dari Anas bin Malik secara marfu’. Dalam  as-Silsilah adh-Dhaifah, untuk keterangan hadis no. 364 dinyatakan bahwa hadits ini dhaif (lemah),

وهذا سند ضعيف، نبيط هذا لا يعرف في هذا الحديث

Hadis ini sanadnya dhaif. Nabith ini tidak dikenal dalam hadis tersebut.

Sementara itu, dalam kitab Dhaif at-Targhib wa at-Tarhib, untuk keterangan hadis no. 755, penulis menyatakan bahwa  hadis ini munkar.

Karena itulah, para ulama menegaskan, tidak ada anjuran untuk tinggal di Madinah selama 8 hari agar bisa melakukan shalat wajib sebanyak 40 kali di masjid nabawi. Dan kita bisa lihat dalam sejarah ashabus suffah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan mereka untuk tinggal selama 8 hari di Madinah.

Sehingga mereka ada yang hanya tinggal selama 3 hari, atau 4 hari atau jumlah hari sesuai kebutuhan mereka.

Imam Ibnu Baz mengatakan,

“Yang banyak beredar di tengah masyarakat bahwa bagi orang yang berkunjung di Madinah, dianjurkan menetap di sana selama 8 hari agar dapat melakukan shalat arbain (40 waktu). Meskipun ada sejumlah hadits yang diriwayatkan, bahwa siapa yang shalat empat puluh waktu, akan dicatat baginya kebebasan dari neraka dan kebebasan dari nifaq, hanya saja haditsnya dhaif menurut para ulama peneliti hadits. Tidak dapat dijadikan dalil dan landasan. Berziarah ke Masjid Nabawi tidak ada batasannya. Bisa berziarah satu jam atau dua jam, sehari atau dua hari atau lebih dari itu, semua tidak masalah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 17/406).

Lalu apa keutamaan shalat di masjid nabawi?

Keuntamaannya seperti yang disebutkan dalam hadis berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari pada 1000 shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Harom.” (HR. Bukhari 1190 dan Muslim 1394)

Orang yang shalat wajib 40 kali di masjid nabawi, nilainya lebih besar dibandingkan shalat 40.000 kali di selain masjid nabawi, kecuali Masjidil Haram.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Bagaimana Cara Menghadapi Sengketa Utang?



http://2.bp.blogspot.com/-1XZ4On-EZ3U/VqYJNgGhogI/AAAAAAAAEac/Tg-luYy9JIc/s1600/20151017-memberi-uang-dan-membayar-hutang-ilustrasi.jpg

Bagaimana cara menyelesaikan sengketa utang. Si A mengaku bahwa si B punya punya utang ke dia. Tapi si B mengaku, tidak pernah utang ke A. Sementara keduanya tidak memiliki bukti.

Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ketika terjadi perselisihan antara orang yang memberi utang (kreditur) dengan penerima utang (debitur) mengenai nilai utang maka yang dimenangkan adalah mereka yang memiliki bukti dan ada saksi.

Yang menjadi masalah adalah ketika keduanya tidak memiliki bukti maupun saksi.

Sebelumnya, kita akan mempelajari cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan sengketa.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينُ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ

“Bukti itu menjadi tanggung jawab mudda’i dan sumpah menjadi pembela bagi mudda’a alaih.” (HR. Turmudzi 1391, Daruquthni 4358 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam sebuah sengketa, di sana ada 2 pihak,

[1] Pihak yang menuntut. Dialah yang mengajukan klaim. Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya denganmudda’i.

[2] Pihak yang dituntut. Dia yang diminta untuk memenuhi klaim. Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan mudda’a alaih.

Kewajiban dan tanggung jawab masing-masing berbeda,

[1] Untuk pihak penuntut (mudda’i), dia diminta mendatangkan bukti atau saksi.

[2] Untuk pihak yang dituntut (mudda’a alaih), ada 2 kemungkinan posisi;

(1) Jika  mudda’i bisa mendatangkan bukti yang bisa diterima, maka dia bertanggung jawab memenuhi tuntutannya.

(2) Sebaliknya, Jika mudda’i tidak bisa mendatangkan bukti yang dapat diterima, maka mudda’a alaih diminta untuk bersumpah dalam rangka membebaskan dirinya dari tuntutan. Jika dia bersumpah maka dia bebas tuntutan.



Selanjutnya, bagaimana cara menentukan mudda’i dan mudda’a alaih? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada 2 kriteria yang terkenal, yang disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar,

واختلف الفقهاء في تعريف المدعي والمدعى عليه، والمشهور فيه تعريفان: الأول: المدعي من يخالف قوله الظاهر والمدعى عليه بخلافه، والثاني: من إذا سكت ترك وسكوته، والمدعى عليه من لا يخلى إذا سكت، والأول أشهر، والثاني أسلم…

Ulama berbeda pendapat mengenai batasan mudda’I dan mudda’a alaih. Yang masyhur, ada 2 pengertian,

[1] Mudda’i adalah orang yang keadaannya tidak sejalan dengan kondisi normal (yang dzahir). Sementara mudda’a alaih adalah kebalikannya.

[2] Mudda’i adalah orang yang ketika meninggalkan kasus dia dibebaskan. Sementara mudda’a ‘alaih adalah orang yang  ketika diam meninggalkan kasus, tidak dibiarkan.

Kata Ibnu Hajar, “Yang pertama itu yang masyhur, sementara yang kedua yang lebih selamat…” (Fathul Bari, 5/283)

http://4.bp.blogspot.com/-MQnS2AeGIuo/VSOH2QssEFI/AAAAAAAACAM/0HMFYKnzQJU/s1600/agar-terbebas-dari-utang.jpg

Kita terapkan dalam kasus sengketa utang,

Paijo mendatangi Paimen dan menuntut agar dibayarkan utangnya senilai 1 juta. Sementara Paimen merasa tidak ada utang 1 jt ke Paijo. Akhirnya mereka berselisih. Bagaimana cara penyelesaiannya?

Kita akan merunut sebagai berikut:

[1] Hukum asal manusia adalah tidak memiliki utang. Sehingga bebas utang adalah status normal manusia. ketika ada orang mengatakan, si A itu punya utang, berarti ini tidak sejalan kondisi normal.

[2] Ketika si X mengklaim bahwa si A memiliki utang kepadanya maka siapa yang ketika meninggalkan kasus dia bisa dilepaskan?

Jawabannya adalah si X. jika si X diam dan meninggalkan kasus sebelum diputuskan, orang tidak akan menuntutnya. Berbeda dengan si A. ketika si A meninggalkan kasus sebelum diputuskan, maka si X akan tetap menuntut, sehingga si A tidak bisa lepas.

Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan untuk kasus Paijo dan Paimen, siapa yang harus mendatangkan bukti dan siapa yang cukup mengingkari dengan sumpah. Penyelesaian sengketa,

[1] Kepada Paijo diminta untuk mendatangkan bukti bahwa Paimen pernah utang 1 juta kepadanya. Jika Paijo punya bukti yang bisa diterima, maka Paimen wajib bayar utang. Dalam hal ini, kasus dimenangkan Paijo.

[2] Jika Paijo tidak punya bukti maupun saksi, maka Paimen diminta bersumpah bahwa dirinya tidak pernah berutang ke Paijo. Jika Paimen bersumpah, maka dia tidak berkewajiban membayar utang 1 jt itu, dan dalam kasus in Paimen dimenangkan.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Wow! Kementerian Agama Akan Segera Luncurkan Aplikasi Al-Quran Digital


Kementerian Agama Luncurkan Aplikasi Al-Quran Digital

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Balitbang dan Diklat, Kementerian Agama, akan meluncurkan aplikasi Al-Quran digital, dengan sebutan Quran Kemenag, pada 30 Agustus 2016.

Peluncuran Quran Kemenag tersebut bertepatan dengan diselenggarakan Seminar Internasional Al-Quran, sekaligus memperingati 1450 tahun turunnya Al-Quran, kata Plt. Kepala Bidang Pengkajian Al-Quran Balitbang Kemenag, Mukhlis M. Hanafi di Jakarta, Antaranews, Rabu (24/08/2016) .

Quran Kemenag adalah aplikasi Al-Quran digital yang pertama kali dibuat oleh Kemenag c.q. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Badan Litbang dan Diklat. Aplikasi ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan mushaf Al-Quran yang berbentuk digital.

Aplikasi ini tersedia dalam format Android, web, dan IOS. Di samping menyajikan teks Al-Quran lengkap 30 juz, aplikasi ini juga dilengkapi dengan terjemahan, tafsir dalam dua varian: tahlili (30 juz) dan ringkas, suara murattal Al-Quran dari Syekh Mahmud Khalil al-Husairy, dan asbabun nuzul.

Tulisan Al-Quran yang digunakan dalam aplikasi ini bersumber dari Mushaf Al-Quran Suharto yang dalam penulisannya mengikuti Mushaf Al-Quran Standar Indonesia.

Mushaf Al-Quran Standar Indonesia adalah Mushaf Al-Quran yang dibakukan cara penulisan teks, harakat, tanda baca, dan tanda waqafnya sesuai dengan hasil yang dicapai Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Ahli Al-Quran yang berlangsung 9 kali dari tahun 1974 – 1983, dan dijadikan pedoman bagi mushaf Al-Quran yang dicetak dan diterbitkan di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Agama.

Adapun Terjemahan Al-Quran yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari Al-Quran dan Terjemahnya yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Kemenag.

Sedangkan Tafsir Tahlili yang terdapat dalam aplikasi ini bersumber dari Al-Quran dan Tafsirnya yang diterbitkan Kementerian Agama, ujar Muchlis.


http://1.bp.blogspot.com/-8NB6UDFc_sA/T0JDEwrBkDI/AAAAAAAAAdk/7wbwkFklYV4/s1600/Al%2Bquran.jpg

Tafsir Ringkas Al-Quran Al-Karim adalah sebuah buku hasil kajian tafsir yang disusun oleh tim yang dibentuk Kementerian Agama dengan bekerjasama dengan Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Jakarta.

Saat ini, ia menjelaskan, tafsir ini baru hadir satu jilid yang terdiri juz 1 – 15. Adapun jilid kedua yang berisi juz 16-30, in sya Allah akan ditambahkan nanti setelah edisi cetaknya diterbitkan pada lahir tahun 2016.

Asbabun Nuzul yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari buku Asbabun Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Quran yang diterbitkan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Kementerian Agama pada tahun 2015.

Riwayat-riwayat tentang Asbabun Nuzul yang dimuat dalam buku tersebut merupakan riwayat yang dapat diterima (maqbul).

Di samping itu, juga dipilih riwayat yang secara jelas (sharih) menerangkan bahwa satu atau beberapa ayat itu turun berkaitan dengan peristiwa yang terjadi ketika itu, katanya lagi.*

Rep: Ahmad

Editor: Cholis Akbar


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

12 Tank Turki Telah Memasuki Wilayah Suriah Guna Usir Milisi IS


Tank Turki Memasuki Wilayah Suriah Guna Usir Milisi IS

Sebanyak 12 tank Turki hari Rabu (24/08/2016) memasuki wilayah Suriah untuk mengambil bagian dalam pertempuran mengusir kelompok Daulah Islamiyah wa Syam (DAESH/IS)  dari kota Jarabulus, demikian kutip AFP.

Kelompok  ini diduga kuat telah melancarkan serangkaian teror di perbatasan Turki belakangan ini. Unti-unit tank Turki dan pasukan oposisi Suriah yang didukung pasukan aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan AS menyeberang  utara Suria untuk mendorong IS keluar dari wilayah itu.

Serangan darat Turki juga didukung oleh serangan udara pesawat-pesawat tempur Ankara.

http://4.bp.blogspot.com/-xI9HNcZ-eaY/VlhanC-nGkI/AAAAAAAAFb0/pDOxTy0agyM/s1600/turki%2Bkirim%2Btank%2Bdi%2Bperbatasan%2Bsuriah.jpg

“Pagi ini pukul 4 dini hari operasi dimulai di Suriah bagian utara melawan kelompok teror yang terus menerus mengancam negara kita, seperti Daesh (ISIS) dan PYD,” kata Erdogan dalam pidato yang dari dilansir Reuters, Rabu (24/8/2016).

Rusia yang merupakan sekutu Rezim Bashar dan Iran meradang dengan Turki.

“Moskow sangat khawatir dengan perkembangan di perbatasan Suriah-Turki,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan terbaru.

Operasi bertajuk Euphrates Shield merupakan operasi militer terbesar pertama diluncurkan Turki sejak kudeta  yang gagal bulan Juli 2016 lalu.*

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

“Atas Nama Cinta dan HAM, Bolehkah Jika Seorang Anak Menzinai Ibunya?”


“Atas Nama Cinta dan HAM, Bolehkah Anak Menzinai Ibunya?”

PERSIDANGAN di gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, siang itu sempat menjadi ajang perenungan. Saat itu, Dr Hamid Chalid, SH, LLM sedang berdiri di sisi podium menghadap ke jajaran majelis hakim.

Pakar hukum tata negara Universitas Indonesia ini bertindak sebagai ahli pemohon dalam sidang lanjutan perkara Nomor 46/PUU-XIV/2016.

Selasa, 20 Dzulqa’dah 1437 H (23/08/2016) itu, Hamid menyampaikan keterangannya secara lisan dan tulisan –melalui slide yang ditampilkan dari laptopnya ke berbagai layar di ruang sidang.

Mengawali keterangannya, Hamid menayangkan diagram yang menyoroti Pasal 284, 285, dan 292 KUHP. Ketiga pasal inilah yang diujimaterikan (Judicial Review) oleh Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia bersama sejumlah akademisi.

Dengan ketiga pasal tersebut, kata Hamid, Indonesia telah memberikan legalitas bagi perzinaan, seks bebas, pelacuran, kumpul kebo, dan homoseks di negeri ini.

Ia lantas mengungkap berbagai realitas memilukan generasi muda Indonesia saat ini. Misalnya, kata dia mengutip berita headline koran yang gambarnya ditampilkan pada sidang, kasus siswi SMK yang diperkosa oleh 11 cowok.

Kasus berikutnya, ungkap dia, pelaku homoseksual di Depok, Jawa Barat, yang membagikan kondom dan pamflet cara berhubungan jenis, mengutip artikel sebuah media online bertanggal Kamis, 5 Mei 2016.

Dampak kasus-kasus asusila seperti itu, kata Hamid, menimbulkan keresahan masyarakat yang akhirnya memilih “hukum jalanan” alias main hakim sendiri. Seperti terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur.

Dimana, ungkap Hamid berdasarkan berita sebuah media online bertanggal Jumat (15/07/2016), seorang cewek yang ketahuan melakukan mesum diarak warga dalam keadaan bugil sampai menangis.

Pengamatan hidayatullah.com, kasus berikutnya yang diungkapnya terjadi di Padang, Sumatera Barat. Diberitakan pada Kamis (21/07/2016), pasangan anak baru gede (ABG) yang melakukan mesum di toilet masjid didenda membayar 30 sak semen.

Dr Hamid Chalid di depan Majelis Hakim MK. [Foto: Syakur]
Dr Hamid Chalid di depan Majelis Hakim MK. [Foto: Syakur]
Renungan Filosofis

Dari sederet realitas memilukan itu, para hakim dan hadirin di persidangan diajak merenungkannya. Apa iya, tanya Hamid, kasus-kasus serupa itu dapat dibenarkan atas dasar kebebasan hak asasi manusia (HAM)?

Selain “peran negara yang terkesan membiarkan kasus amoral”, kebebasan HAM juga disoroti Hamid. [Baca juga: Pakar: Negara Membiarkan Pencabulan dan Perzinahan di Luar Nikah]

Diketahui bersama, kebebasan HAM kerap dijadikan dalih para pelaku dan pendukung praktik asusila, seperti perzinaan dan homoseks, untuk membenarkan perilaku dan sikap mereka.

Padahal, kata Hamid, “Atas nama cinta dan hak asasi manusia, bolehkah dan pantaskah seorang anak laki-laki menzinai ibunya sendiri?” gugahnya mencontohkan dengan intonasi penuh tekanan.

“Apakah,” lanjutnya, “atas nama kebebasan dan hak asasi, seorang bapak dapat menzinai anak perempuannya sendiri?”

Sederet pertanyaan lain pada slide berjudul “Perenungan Filosofis” yang dibacanya itu terus Hamid lontarkan:

“Senang hatikah ibu bapak sekalian, apabila melihat anak laki-laki kita yang telah menginjak dewasa berpeluk-cium bermesraan dan melakukan sodomi dengan teman laki-lakinya sesama jenis?”

“Apakah diterima oleh ibu bapak sekalian, anak kita dicabuli oleh teman sekelasnya sesama jenis?”

Seisi ruang sidang seakan larut dalam perenungan. Salah satu kuasa hukum pemohon sempat terlihat seperti menyeka air matanya. Para hakim dan hadirin yang menjawab renungan itu tentu dalam benak masing-masing.

Kuasa hukum pemohon seperti menyeka air matanya. [Foto: Syakur]
Kuasa hukum pemohon seperti menyeka air matanya. [Foto: Syakur]

“Jika jawaban atas semua pertanyaan di atas adalah ‘YA’,” ujar Hamid, “maka itulah saat yang pantas bagi kita untuk berdiam diri.”

“Jika jawaban atas semua pertanyaan di atas adalah ‘TIDAK’,” lanjutnya menggugah, “maka inilah saatnya Para Hakim MK Yang Mulia untuk menorehkan tinta emas sejarah untuk membenahi moral bangsa kita.”

Harapan ke MK

Para Hakim MK, yang duduk di bawah lambang negara Garuda Pancasila itu, tampak serius menyimak perenungan Hamid.

Mereka, pengamatan hidayatullah.com, berderet dari selatan ke utara, adalah Dr H Patrialis Akbar SH, MH; Prof DR Maria Farida Indrati, SH; Dr I Dewa Gede Palguna, SH, MHum; dan Dr Anwar Usman, SH, MH (Wakil Ketua).

Lalu berurutan di samping kiri Anwar yaitu Prof Dr Arief Hidayat SH, MS (Ketua); Dr Wahiduddin Adams, SH MA; Prof Dr Aswanto, SH, MSi, DFM; Dr Suhartoyo SH, MH; dan Dr Manahan MP Sitompul, SH, MHum.

Di tangan kesembilan Hakim MK itulah, atas kehendak Allah, hasil Sidang Uji Materi itu nanti diputuskan.

“Harapan tertumpu kepada MK. Apapun yang diputuskan oleh Para Hakim MK Yang Mulia, itulah tinta sejarah yang Bapak Ibu Hakim Yang Mulia torehkan, baik bagi diri sendiri, bagi MK, dan bagi bangsa ini,” ujar Hamid.

Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, memberi bimbingan dan petunjuk bagi para Hakim MK, lanjut Hamid di penghujung renungannya, “untuk meninggalkan catatan sejarah yang baik bagi negeri dan bangsa yang kita cintai ini.”

Usai itu, sekitar pukul 12.01 WIB, pada sesi diskusi Hakim Patrialis menyampaikan apresiasi kepada tiga ahli pemohon.

Selain Hamid, keduanya adalah Dr Asrorun Niam Sholeh (Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia/KPAI) dan Atip Latipulhayat SH, LLM, PhD (dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung).

“Saya mengapresiasi kepada para ahli yang memang ahli,” ujar Patrialis. Hakim lainnya mengabarkan jika sidang berikutnya dilangsungkan pada Selasa (30/08/2016).  [Baca juga: Hakim MK: HAM di Indonesia Dibatasi Nilai-nilai Moral dan Agama]*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Didatangi FPI Soal Jaket Bermotif Salib Yang Dipakai Paskibra , Dispora Banten Minta Maaf

Didatangi FPI Soal Jaket Paskibra Bermotif Salib, Dispora Banten Minta Maaf

Front Pembela Islam (FPI) mendatangi kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Banten di Kota Serang, Selasa (23/08/2016) lalu, guna meminta penjelasan soal jaket pasukan pengibar bendera (paskibra) bermotif salib yang membuat heboh warga.

“Kedatangan kami untuk silaturahim sekaligus tabayyun (klarifikasi) terkait masalah tersebut,” ujar Ketua FPI Serang Nasehudin saat dihubungi hidayatullah.com, Kamis (25/08/2016).

Pada kesempatan itu, Nasehudin ditemui langsung oleh Kadispora Banten, Ali Fadila, beserta staf dan Kepala Paskibra Banten.

Menurut Nasehudin, Ali Fadila mengaku tidak ada unsur kesengajaan sama sekali dari pihaknya atas pembuatan motif salib tersebut. Hal itu, klaim Ali, murni karena faktor kelalaian.

“Bahkan sampai mengangkat sumpah di hadapan FPI bahwa sungguh tidak ada unsur kesengajaan,” kata Nasehudin menerangkan.


Jaket Paskibra Banten bermotif salib.
Jaket Paskibra Banten bermotif salib.

Nasehudin mengungkap, pihak Dispora juga meminta maaf serta menarik kembali jaket tersebut dari peredaran. Dispora juga mengaku akan menyobek kain putih yang menutupi resleting jaket yang membuat motif terlihat seperti salib itu.

“Alhamdulillah Kadispora sepakat menjaga pemuda-pemudi Banten yang cinta NKRI dan menolak kristenisasi,” tandasnya.

FPI, terang Nasehudin, akan terus mengawal hal-hal yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Sekaligus melindungi Banten dari upaya kristenisasi dan sebagainya yang mengancam aqidah umat.*

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor: Muhammad Abdus Syakur


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Rachid Nekkaz, Seorang Pengusaha Muslim yang Siap Bayar Denda Pemakai Burkini


http://3.bp.blogspot.com/-dzSljRTrrAM/Um34NH_8cdI/AAAAAAAAH6I/Hdb_eArP8Oo/s1600/553269-l-homme-d-affaires-rachid-nekkaz-le-22-juin-2011-a-lille.jpg

PRANCIS–Seorang pengusaha Prancis Rachid Nekkaz keturunan Aljazair menyatakan siap membayar seluruh denda yang dijatuhkan pemerintah Prancis terhadap wanita Muslim yang memakai burkini, baju renang yang menutup seluruh tubuh dan kepala.

Dilansir CNN, Pengusaha kaya yang juga aktivis HAM di Prancis itu, menyiapkan buku cek untuk membayar denda-denda tersebut. Nekkaz mengatakan, tindakan ini dilakukan demi mendukung kebebasan berpakaian wanita Muslim di Prancis.

“Saya memutuskan membayar seluruh denda para pemakai burkini demi menjamin kebebasan wanita dalam berpakaian, dan lebih dari itu, untuk menetralisir penerapan hukum yang tidak adil dan menindas ini,” ujar Nekkaz, Selasa (23/08/2016).

Larangan burkini diterapkan di beberapa kota di Perancis, salah satunya Cannes. Di kota ini, Muslimah yang memakai burkini terancam didenda hingga 38 euro atau hampir Rp. 600 ribu.

Larangan ini diberlakukan oleh wali kota Cannes mulai dari 28 Juli hingga 31 Agustus.

Pelarangan burkini kali ini diterapkan di tengah ketakutan pada Islam di Eropa, menyusul serangan di Paris, Nice dan Brussels yang total menewaskan ratusan orang. Nekkaz mengaku tidak terima jika negara-negara Eropa memanfaatkan Islamofobia untuk menekan kebebasan umat Islam.

http://4.bp.blogspot.com/-rRhqT4Y3Zpg/UWxRSUUdDrI/AAAAAAAABrY/vwY76GGjDO4/s1600/Rasyid_Nikaz_-_mazlumder.jpg

“Tugas saya adalah mengingatkan negara-negara demokrasi di Eropa bahwa apa yang membuat demokrasi mereka luar biasa adalah penghormatan terhadap hak-hak fundamental,” tutur Nekkaz.

“Kebebasan yang direnggut dari wanita yang memilih memakai pakaian tradisional Islam,” lanjut pengusaha real estate ini.

Hingga saat ini sudah 15 wanita yang menghubungi Nekkaz untuk dibayarkan dendanya. “Saya kira hingga akhir bulan ini akan ada sekitar 100 denda,” ujar Nekkaz.

Bukan kali ini saja Perancis menerapkan hukum yang mengatur pakaian Muslimah. Sebelumnya tahun 2011 saat pemerintahan Nicolas Sarcozy, Perancis adalah negara pertama di Eropa yang menerapkan larangan memakai cadar bagi wanita Muslim dengan denda hingga 150 euro atau lebih dari Rp. 2,2 juta.

Saat itu, Nekkaz juga membayarkan setiap denda wanita yang memakai cadar. Bahkan dia berhasil menggalang dana hingga setara Rp. 10 miliar untuk membayarkan denda-denda tersebut.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Polisi Skotlandia Secara Resmi Setujui Penggunaan Hijab bagi Polwan


https://3.bp.blogspot.com/-oXFW_62usXg/V72IJNEEknI/AAAAAAAAIVw/B6v66Usakd0Oll7bS65oqzvEG6HipqEywCLcB/s1600/metropolitan-police-hijab-large_trans%252B%252BqVzuuqpFlyLIwiB6NTmJwfSVWeZ_vEN7c6bHu2jJnT8.jpg

SKOTLANDIA—Hijab kini menjadi bagian opsional dari seragam Polisi Skotlandia, sebagai kekuatan yang bekerja untuk mendorong Muslimah bergabung dengan layanan tersebut.

Sebelumnya petugas dapat mengenakan jilbab namun harus dengan persetujuan, akan tetapi sekarang hijab resmi menjadi salah satu seragam opsional kepolisian Skotlandia.

Polisi Skotlandia mengatakan bahwa hijab bekerja menjadi sebuah kekuatan, “mewakili masyarakat yang kami layani”.

Pengumuman resmi tersebut disambut oleh Asosiasi Polisi Muslim Skotlandia (SPMA), sebuah organisasi yang dibentuk pada tahun 2010 untuk membangun hubungan lebih dekat dengan komunitas Muslim.

Kepala Polisi Phil Gormley mengatakan, saya senang telah mengumumkan hal ini dan menyambut dukungan dari komunitas Muslim, masyarakat luas, serta petugas polisi dan staf.

“Seperti banyak pengusaha lain, terutama di sektor publik, kami bekerja dengan memastikan layanan kami mewakil dari masyarakat yang kami layani,” kata Phil, lansir Telegraph, Rabu (14/8/2016).

“Saya berharap bahwa selain menjadi opsi seragam kami, hijab akan memberikan kontribusi untuk membuat staf kami menjadi lebih beragam, menambah keterampilan hidup, pengalaman dan kualitas pribadi yang dibawa oleh pejabat serta staf kepolisian pada masyarakat Skotlandia.”

Sebuah laporan untuk Otoritas Polisi Skotlandia pada awal tahun ini, menunjukkan 4.809 permohonan untuk bergabung dengan Polisi Skotlandia pada 2015/16, dimana 127 permohonan (2,6%) berasal dari latar belakang berbagai etnis.


https://3.bp.blogspot.com/-HpNrvffMCEg/V14RUdemgTI/AAAAAAAAHjY/5FQuYH2xTcMyeXsgpRRc_IHc9234KwL7wCLcB/s640/hijaber.jpg

Laporan itu berbunyi, “berdasarkan angka-angka ini jelas terlihat bahwa Polisi Skotlandia menghadapi tantangan untuk menambah anggota dari etnis kulit hitam dan minoritas (BME), dimana rata-rata staf nasional dengan latar belakang seperti itu hanya 4%. Itu harus dipenuhi dalam organisasi, tambahan 650 personil dari BME diperlukan untuk semua bidang.

Di lain pihak, Polisi Metropolitan London telah menyetujui penggunaan hijab sebagai bagian dari seragam lebih dari satu dekade lalu.

Anggota parlemen Skotlandia mengatakan, “ini adalah langkah positif ke arah yang benar, dan saya senang bahwa Polisi Skotlandia mengambil langkah-langkah produktif dalam rangka untuk memastikan bahwa organisasi kami dipandang inklusif dan mewakili beragam komunitas yang kami layani di Skotlandia”.

“Tidak diragukan lagi bahwa hal ini akan mendorong lebih banyak Muslimah dan mereka dari latar belakang etnis minoritas untuk bergabung dengan Polisi Skotlandia.”


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Ketika Menguburkan Mayit, Ada Hukum-hukumnya Lho


http://1.bp.blogspot.com/_m79z9aUVyLA/TQmynjcLt9I/AAAAAAAAAMw/GO1FTbN6lP4/s1600/Dimakamkan1.jpg

SUDAH menjadi hal yang dianjurkan bagi seorang muslim untuk mengantarkan mayit hingga ke kuburan. Dan sebagian dari mereka wajib untuk menguburkan mayit tersebut. Sebab, seseorang yang telah wafat, harus dikembalikan lagi ke dalam tanah. Dan penguburan merupakan langkah yang benar dalam mengembalikan mayit ke tempat asalnya, sebagaimana yang telah disyariatkan dalam Islam.

Penguburan mayit berarti menguruk seluruh tubuh mayit dengan tanah. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,” (QS. Abasa: 6).

Tetapi barangsiapa meninggal dunia di laut, maka ditunggu satu atau dua hari untuk dimakamkan di daratan dan itu pun jika badannya tidak berubah. Jika tidak mungkin tiba di daratan sebelum mayit tersebut berubah, maka ia dimandikan dan dishalati, kemudian diikat dengan sesuatu yang berat kemudian di lempar ke laut. Inilah fatwa ulama.

Dalam menguburkan mayit, terdapat hukum-hukum yang perlu kita perhatikan. Apa sajakah itu?

1. Kuburan diperdalam agar binatang buas atau burung pemangsa bangkai tidak bisa menembusnya, dan agar baunya tidak keluar hingga mengganggu orang. Karena Rasulullah ﷺ bersabda, “Galilah, perdalamlah, perbaikilah dan kuburlah dua orang atau tiga orang di satu kuburan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang mesti kita dahulukan wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ bersabda, “Dahulukan orang yang paling banyak hafalan Al-Qurannya,” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya).

2. Di kuburan dibuatnya liang lahat, sebab lahat itu lebih baik. Lahat ialah galian di sebelah kanan kuburan. Dan jika ada syiqq (galian di tengah kuburan) maka diperbolehkan. Karena Rasulullah ﷺ bersabda, “Liang lahat itu untuk kita, sedang syiqq itu untuk selain kita,” (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi. Di sanad hadis ini terdapat catatan, namun dishahihkan sebagian dari mereka).


http://3.bp.blogspot.com/-X1McJkuGmco/UmY37UQeyzI/AAAAAAAAAD0/BQMo4fxImgE/s1600/tata+cara+menguburkan+jenazah8.jpg

3. Orang yang menghadiri acara penguburan disunnahkan menggaruk tanah tiga kali dengan tangannya kemudian melemparkannya ke dalam kuburan dari arah kepala si mayit. Karena Rasulullah ﷺ berbuat seperti itu sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah dalam hadis yang sanadnya tidak ada masalah.

4. Mayit dimasukkan dari ujung kuburan jika memungkinkan, di hadapkan ke kiblat dengan memiringkannya di atas lambung kanannya, tali kafannya dibuka, dan orang yang meletakkannya ke kuburan berkata, “Busmillah wa a’la millati Rasulillah,” karena Rasulullah ﷺ berbuat seperti itu (Diriwayatkan Abu Daud dan Al-Hakim yang menshahihkannya).

5. Kuburan jenazah wanita ditutup dengan kain ketika dietakkan di dalam kuburan, karena para salafush shalih menutup kuburan jenazah wanita dengan kain ketika mereka meletakkannya ke dalam kuburan, dan ini tidak mereka berlakukan kepada mayit laki-laki. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Beda Perlakuan Antara Tantowi-Liliana, Rio Haryanto, dan Musa


https://4.bp.blogspot.com/-I3R5c4qcrw4/V72ZIaqEP9I/AAAAAAAAF2s/2rQ14I1Ld48zuWZUdEJxuIo0A2Dn7ycXwCLcB/s640/tantowi_liliana_rio_musa_20160824_184928.jpg

Oleh: Habieb Riziq Shihab

KEEMPAT nama ini menjadi trending topik di media sosial tanah air maupun dunia. Mereka adalah Tantowi-Liliana, Rio Hariyanto dan Musa. Keempat anak bangsa ini telah sama-sama berjuang menjadi yang terbaik di dunia dalam pertarungan di medan mereka masing masing.

Tantowi Liliana di bidang bulutangkis, Rio sang pembalap juga bertarung menjadi manusia tercepat di dunia, Musa sang hafidz berjuang menjadi penghapal Al-Qur’an terbaik di dunia.

Namun perlakuan kepada keempatnya sangat berbeda.

TANTOWI – LILIANA

Usai meraih medali Emas cabang bulutangkis di Olimpiade Brazil, media begitu gegap gempita mempublikasikan kemenangan Tantowi-Liliana ini. Beberapa media bahkan menyebut keduanya sebagai pahlawan.

Setibanya di tanah air, keduanya pun memang disambut bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang dengan kemenangan besar. Keduanya diarak keliling jalanan Ibu Kota. Luar biasa.

Tidak sampai di situ, pemerintah juga memberikan hadiah uang masing-masing senilai 5 milyar. Keduanya juga dijanjikan akan mendapat tunjangan sebesar masing-masing 20 juta setiap bulan selama seumur hidup. Selain itu, masih ada hadiah lainnya, yaitu keduanya mendapat fasilitas gratis naik pesawat armada tertentu ke seluruh dunia selama seumur hidup.

RIO HARYANTO

Rio Haryanto sang pembalap, juga begitu gegap gempita, asa kemenangan begitu tinggi walau sebenarnya tidak pernah memulai pitcnya di 10 besar pada saat start. Dengan dukungan dana yang melimpah, yaitu 15 juta euro (Sekitar 225 milyar rupiah), yang diberikan para sponsor (Pertamina, Garuda Indonesia, dan lain sebagainya) wajarlah jika harapan memenangkan pertarungan di aspal ini begitu tinggi.


https://4.bp.blogspot.com/-HBjOfSAvpQo/VxIjaP8uu5I/AAAAAAAADcU/A0BPig4PBqMbd_JjRMgNS82neFwvTOIaQCLcB/s1600/27as.jpg

MUSA

Perkenalkan, namanya Musa, usianya 7 tahun, kelahiran Bangka Barat. Soal prestasi, Musa tidak kalah membanggakan dibanding dengan Tantowi-Liliana serta Rio Haryanto.

Musa cilik ini pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Ia menjadi juara terbaik ke-3 dalam kompetisi penghafal Al-Qur’an tingkat DUNIA.

Musa meraih prestasi membanggakan itu dengan kegigihan dan kesederhanaam. Tidak ada sponsor, tidak ada 15 juta euro, tidak ada imbalan 5 milyar, tidak ada tunjangan 20 juta perbulan seumur hidup, serta tak ada bonus-bonus menggiurkan lainnya.

Mediapun tidak pernah menyebut Musa sebagai pahlawan. Boro-boro menyebut pahlawan, diliput saja tidak. Sunyi senyap dari pemberitaan media nasional. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Miris!

Ketidakadilan sedang berlangsung di negeri ini, dalam berbagai sudut kehidupan sosial masyarakat. Begitu pula media yang hanya memberitakan apa yang sesuai dengan kepentingannya.

Berita kemajuan tentang Islam telah menjadi anak tiri di negeri muslim terbesar di dunia. Innaalillahi!

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

YES MUSLIM

" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler




Back to Top