kamu pilih CAGUB DKI JAKARTA yang mana ?

Inilah 9 Benda-Benda Unik dan Ajaib Yang Ada di Zaman Rasulullah


https://sahabatnewsonline.files.wordpress.com/2015/01/benda-benda-unik-zaman-rasulullah.jpg


 Subhanallah, Banyak kisah menakjubkan tentang batu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi beliau maupun sahabat tidak menjadikan ajimat maupun benda sakti seperti kisah-kisah berikut ini :

1. Kisah Batu Khandak.

Berkata Amru bin ‘Auf: Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggariskan kepada kami khandak (parit yang dalam) pada waktu perang Ahzâb. Lalu ditemukan sebuah batu besar putih yang bulat. Batu tersebut tidak bisa dihancurkan bahkan membuat alat-alat kami patah. Maka kami menyebutkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu Rasulullâh n menggambil linggis dari Salmân Al Fârisi dan beliau memukul batu tersebut dengan sekali pukul. Maka, batu tersebut terbelah dan mengeluarkan cahaya yang menyinari kota Madinah, bagaikan sinar lampu di malam hari yang gelap gulita. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbîr. Kemudian dipukul lagi untuk yang kedua kali, maka batu tersebut terbelah dan mengeluarkan cahaya yang menyinari kota Madinah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbîr. Maka Rasulullâh memukul lagi untuk yang ketiga kali, maka batu tersebut terbelah hancur dan mengeluarkan cahaya yang menyinari kota Madinah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbir [3].

Para sahabat tidak menganggap sakti batu itu, atau menjadikannya sebagai ajimat, penangkal dan sebagainya.

2. Kisah Batu Yang Memberi Salam Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Semasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekah sebelum diangkat menjadi nabi; ada batu yang memberi salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau masih mengetahui batu tersebut, tetapi beliau maupun para sahabat tidak pernah memungutnya atau membawanya pulang untuk dijadikan penangkal atau alat terapi jika beliau sakit.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari sahabat Jabîr bin Samrah, ia berkata bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi nabi. Sesungguhnya aku mengetahuinya sampai sekarang” [HR. Muslim]



3. Batu Hajar Aswad.

Seluruh umat Islam sepakat bahwa Hajar Aswad adalah batu yang paling mulia dari segala batu. Tapi tidak ada seorangpun dari para sahabat yang menganggap sakti, apalagi minta kesembuhan kepadanya. Oleh sebab itu Amirul Mukminin Umar bin Khatâb Radhiyallahu anhu saat menciumnya di hadapan para kaum Muslimin, beliau berkata:

“Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak memiliki mudharat dan tidak pula memberikan manfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, tentu aku tidak akan menciummu”[HR Bukhari]

Hukum mencium Hajar Aswad hanya sekedar mengikuti sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang disebutkan oleh sahabat Umar Radhiyallahu anhu. Tidak sebagaimana yang diyakini oleh kebanyakan orang-orang yang berebutan untuk menciumnya, bahwa Hajar Aswad dapat menyembuhkan penyakit, memurahkan rezki, dan dugaan-dugaan khurafat lainnya.

 http://3.bp.blogspot.com/_6UwlB5jz6g8/SaiviQA_5PI/AAAAAAAAADk/kNnbOu5MSE8/s400/5.jpg

4. Ka’bah Dan Maqâm Ibrâhîm.

Banyak anggapan dari sebagian orang-orang yang pergi haji dan umrah, bahwa Ka’bah dan Maqâm Ibrâhîm memililki berbagai kesaktian, sehingga mereka mengusab-usab bangunan Ka’bah dan Maqâm Ibrâhîm dengan tangan dan kain mereka. Padahal tidak ada anjuran dalam agama tentang perbuatan tersebut. Apalagi meyakini dapat memberikan berbagai keistimewaan kepada manusia.

Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah berkata: “Amat disayangkan, sebagian orang menjadikan segala ibadahnya hanya untuk bertabarruk (mencari berkah) semata. Seperti apa yang terlihat bahwa sebagian manusia mengusap rukun (tiang) yamani lalu mengusapkan ke muka atau dada. Artinya mereka menjadikan mengusap rukun yamani sebagai tabarruk bukan untuk berta’abud (beribadah). Ini adalah sebuah kebodohan” [4]. Lalu beliau menukil ungkapan Amîrul Mukminîn Umar bin Khatab yang kita sebutkan di atas.

Tidak dipungkiri bahwa Ka’bah atau Masjidil haram memiliki berkah. Tetapi mengambil berkah bukan dengan mengusap-ngusap dinding masjid atau Ka’bah. Tetapi beribadah pada tempat tersebut sesuai dengan ketentuan agama, seperti shalat, i’tikaf, tawaf, atau berhaji dan umrah.

Demikian pula tentang kisah pohon kayu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau maupun para sahabat tidak menjadikannya sebagai tempat sakti yang dapat menyembuhkan penyakit, seperti kisah-kisah berikut ini:

1. Kisah pohon yang merunduk ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti dalam perjalanan beliau ke Syam bersama paman beliau.

Para ulama sîrah (sejarah nabi) menyebutkan bahwa saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan ke negeri Syam bersama paman beliau Abi Thâlib, beliau selalu dinaungi awan. Ketika berhenti di sebuah tempat di negeri itu, di dekat rumah seorang Rahib (pendeta), beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam disuruh paman beliau untuk menunggu barang dagangannya di pinggir jalan. Tiba-tiba Rahib itu melihat sebatang pohon merunduk ke arah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menaunginya dari panas terik matahari. Saat melihat hal tersebut, Rahib berkata dalam hatinya: ”Sesungguhnya ini tidaklah terjadi kecuali pada seorang Nabi.” Lalu Rahib itu mengajak mampir ke rumahnya, dan menyuruh Abu Thâlib membawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam cepat-cepat pulang ke Mekah. Ia berkata: ”Anak ini akan memiliki kemulian, jika orang-orang Yahudi mengetahuinya maka mereka akan membunuhnya.” Rahib itu mengetahui hal itu dari kitab Taurât dan Injîl yang dimilikinya [5].

Demikian kisah tersebut. Namun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak menganggap pohon itu keramat atau sakti.

2. Pohon Hudaibiyah.

Allah Azza wa Jallaberfirman dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jallatelah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Allah Azza wa Jallamengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”.[al-Fath/48:18]

Tatkala Amîrul Mukminîn Umar bin Khatâb melihat sebagian orang mendatangi tempat tersebut dan shalat di situ, beliau menebang pohon tersebut untuk menentang perbuatan syirik[6].

3. Kisah Tangis Tiang Masjid Dari Batang Korma.

 “Dari Jâbir bin Abdillâh ia berkata: “Jika Rasulullâh berkhutbah beliau bersandar kepada batang kurma di salah satu tiang masjid. Tatkala mimbar telah dibuat dan beliau duduk di atasnya, tiang tersebut menangis bagaikan rintihan seekor onta, semua orang yang ada dalam masjid mendengarnya. Lalu Rasulullâh turun dan mengusapnya, barulah ia diam”.

Dalam hadits ini disebutkan bahwa tiang tersebut sedih karena tidak lagi menjadi sandaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Suara tersebut terdengar oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap tiang itu, agar berhenti dari kesedihannya; bukan karena untuk mencari berkah. Sebagaimana saat musim haji, betapa banyaknya orang yang mengusap-ngusap dan berebut untuk shalat dekat tiang tempat mu’adzin mengumadangkan azan di masjid Nabawi.

4. Kisah Pohon Yang Berjalan Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits berikut:

Dari Ya’la bin Murrah ats-Tsaqafy, ia berkata: “Ketika kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, kami berhenti di suatu tempat, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur. Tiba-tiba datang sebatang pohon berjalan membelah bumi sampai menaungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian ia kembali lagi ke tempatnya semula. Tatkala Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun, aku sebutkan hal tersebut kepada beliau. Beliau berkata: ”Ia adalah pohon yang meminta izin pada tuhannya untuk memberi salam padaku, lalu Allah Azza wa Jalla mengizinkannya“. [8]

Nabi dan para shahabat tidak mengkeramatkan pohon tersebut sebagaimana kebiasaan orang-orang terhadap pohon-pohon yang biasa mereka anggap sakti, padahal pohon tersebut tidak memiliki keluarbiasaan. Hanya karena sudah berumur ratusan tahun, tidak tumbang ditiup kangin kencang, maka seolah-olah sering terdengar suara-suara ghaib di situ. Atau berbagai kepercayaan khurafat lainnya yang mereka buat-buat sendiri. Mereka tidak mengetahui bahwa suara ghaib itu bisa suara jin yang tinggal di atas pohon itu.

5. Kisah Onta Yang Berbicara Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut:

Dari Ya’la bin Murrah Ats Tsaqafy, ia berkata: ”Ketika kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Kami melewati seekor onta yang sedang diberi minum. Tatkala onta tersebut melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengeluh dan meletakkan lehernya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dekatnya dan bertanya: ”Mana pemilik onta ini?” Lalu datanglah pemiliknya, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Juallah ia padaku!” Lalu pemiliknya menjawab: ”Kami hadiahkan padamu ya Rasulullâh. Ia adalah milik keluarga yang tidak memiliki mata pencaharian selain onta ini.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:“Sesungguhnya ia telah mengadukan tentang banyak bekerja dan kekurangan makanan, maka berbuat baiklah kamu kepadanya”.

Onta tersebut tidak pernah disaktikan oleh pemiliknya, atau diambil kotorannya untuk penangkal atau pelaris dagangan, apalagi dianggap sebagai wali/syaikh.

Dengan memperhatikan contoh-contoh di atas, sangat nyata perbedaannya dengan sebagian manusia abad modern dewasa ini. Meskipun disebut manusia modern, namun mereka mengangap sakti berbagai macam barang seperti, keris, batu, pohon tua, kuburan, sungai atau laut. Termasuk perabot rumah tangga, peningalan kuno, binatang ternak, batu kali, kayu di hutan, bahkan kuburan sekalipun.

Demikian juga seandainya contoh-contoh di atas terjadi di zaman sekarang, tidak bisa dibayangkan akibatnya. Sebagian besar orang yang menyaksikan tentu akan mengkeramatkan batu, pohon atau binatang itu dan menjadikannya sebagai tempat berundi nasib, menyembuhkan penyakit, mencari jodoh, dan seterusnya.

Dan seandainya peristiwa-peristiwa itu terjadi di hadapan orang-orang yang mengidap penyakit “TBK” (tahyul, bid’ah dan khurafat), sangat mungkin mereka akan melakukan pemujaan atau penyembahan

Maka sungguh amat mengherankan dan menyedihkan kita, jika baru-baru ini, hanya sebuah batu kecil milik seorang bocah cilik dapat melindas tauhid sebagian umat ini.

Demikian bahasan kita kali ini semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta segenap kaum muslimin. Wallâhu A’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIII/Rabiul Tsani 1430/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Lewat Sajadah, Begini Cara Iblis Untuk Sesatkan Manusia

http://2.bp.blogspot.com/-Q8b5RA3P2fQ/VnLK_ITLv6I/AAAAAAAAACY/K4QRA1aqSpU/s1600/post%2B1%2Bkaskus.jpg

IBLIS memang sangat membenci manusia. Ia tidak akan membiarkan manusia menemukan jalan kebenaran. Ketika manusia menemukannya, maka Iblis akan memalingkan perhatian manusia itu agar kembali melihat pada jalan yang salah. Itulah Iblis, tak suka melihat manusia bahagia berada dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk melancarkan misinya, maka Iblis rela melakukan berbagai macam cara. Ya, cara apapun ia tempuh agar manusia tersesat. Termasuk melalui sajadah. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa! Sebab, misinya begitu kuat, maka ia mampu melakukan tiga cara menyesatkan manusia melalui sajadah. Apa sajakah itu?

1. Masuk ke Dalam Diri Setiap Pemilik Saham Industri Sajadah
Hal pertama yang dilakukan oleh Iblis lewat sajadah adalah masuk ke dalam diri setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan menjebak pemilik saham industri sajadah tersebut dengan mimpi untung besar. Tentu saja demi keuntungan besar tersebut membuat orang-orang itu tega memeras buruh untuk bekerja dengan memberikan gaji di bawah rata-rata.

2. Masuk ke Dalam Diri Setiap Desainer Industri Sajadah
Tidak hanya masuk ke dalam diri pemiliki saham industri sajadah, ternyata Iblis juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Di sinilah ia akan menumbuhkan gagasan agar para desainer tersebut membuat sajadah yang lebar-lebar. Untuk apa?

Tujuannya adalah untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum muslimin yang menggunakan sajadah tersebut. Selain itu, hal ini juga akan membuat Iblis lebih leluasa masuk ke dalam barisan shalat. Dengan sajadah yang lebar tersebut akan membuat barisan shaf menjadi renggang, di sinilah Iblis beraksi menggoda manusia ketika shalat. Padahal sebenarnya kita diperintahkan untuk merapatkan shaf saat melaksanakan shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka?” Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka?” Beliau menjawab, “Mereka menyempurnakan barisan-barisan (shaf-shaf), yang pertama kemudian (shaf) yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan,” (HR. Muslim, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).

 http://files.buktidansaksi.com/sajadah.jpg

3. Masuk ke Dalam Diri Pemilik Sajadah Lebar
Cara terakhir Iblis untuk menyesatkan manusia lewat sajadah adalah dengan masuk ke dalam diri pemiliki sajadah lebar. Pemilik sajadah lebar diidentikkan dengan orang yang memiliki kekayaan. Hal ini memudahkan Iblis untuk merasuki pikirannya agar selalu merasa diri lebih tinggi dibanding orang lain.

Saat shalat, mereka akan meletakkan sajadah lebarnya di atas sajadah kecil milik orang lain. Tidak mau kalah, pemilik sajadah kecil juga akan melakukan hal yang sama. Hal ini mereka lakukan dari shalat tersebut berlangsung hingga berakhir. Di atas sajadah inilah Iblis telah mengajari manusia agar selalu menguasai orang lain.

Wah, ternyata dari sajadah juga kita bisa terjerumus pada jalan yang salah. Oleh sebab itu, kita harus lebih cerdas dalam menyikapi hasutan Iblis. Bagaimana caranya?

Sebagai pemilik saham sajadah, ia harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah dan menyadari bahwa keuntungan akan ia peroleh dengan sendirinya jika bekerja dengan baik sesuai syariat Islam. Kemudian, bagi orang yang mendesain sajadah, harus lebih menggunakan kemampuan berpikirnya, agar tidak membubazirkan kain, artinya bentuklah sajadah sesuai dengan kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Sedangkan, bagi pengguna sajadah lebar dan kecil, seharusnya bisa saling melengkapi. Tidak usah saling menimpa, tetapi berendengan saja. Hal ini mencerminkan bahwa umat Muslim itu bersatu. Wallahu ‘alam.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Mengapa Para Nabi Ujiannya Paling Berat?


http://3.bp.blogspot.com/-YLbLtMkTq3E/TctLbKDZ4QI/AAAAAAAAAqk/imJTWcjOBzo/s1600/Kata-Mutiara-Kehidupan.jpg

Tanya:

Bismillaah. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.
Ustadz, ana ada sebuah pertanyaan:
Dalam Qs. Asy Syuraa: 30. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Dan dalam sebuah hadits disebutkan (yang intinya) bahwa para Nabi adalah orang yang mendapatkan ujian yang paling berat.

Pertanyaannya:
Bagaimana cara memahami keduanya? Jika musibah disebabkan oleh dosa dan maksiat, maka mengapa para Nabi adalah orang yang ujiannya paling berat, sedangkan mereka ma’shum?
Jazakallaahu khayr atas jawabannya.

(Abdullah)

Jawab:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh.

Para nabi ‘alaihimussalam ma’shum (terjaga) dari dosa besar, adapun dosa kecil maka kadang terjadi pada sebagian mereka, namun dosa kecil tersebut tidak berhubungan dengan penyampaian wahyu, kemudian dengan segera mereka bertaubat dan beristighfar kepada Allah, sebagaimana kisah nabi Adam ketika memakan buah terlarang, nabi Musa ketika memukul orang Mesir, nabi Yunus ketika pergi dari kaumnya, dll. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu:

فإن القول بأن الانبياء معصومون عن الكبائر دون الصغائر هو قول أكثر علماء الاسلام وجميع الطوائف حتى إنه قول اكثر أهل الكلام كما ذكر ابو الحسن الآمدى أن هذا قول اكثر الاشعرية وهو ايضا قول أكثر أهل التفسير والحديث والفقهاء بل هو لم ينقل عن السلف والائمة والصحابة والتابعين وتابعيهم الا ما يواقف هذا القول

“Maka sesungguhnya pendapat bahwa para nabi ma’shum dari dosa besar tanpa dosa kecil adalah pendapat sebagian besar ulama islam dan semua kelompok, sampai sebagian besar ahli kalam, Abul hasan Al-Amidi menyebutkan bahwa ini adalah pendapat sebagian besar Asy-‘Ariyyah, dan ini pendapat sebagian besar ahli tafsir, ahli hadist, dan ahli fiqh, bahkan tidak dinukil dari para salaf , para imam, para sahabat, para tabi’in, dan para tabi’ut tabi’in kecuali ucapan yang sesuai dengan pendapat ini ” (Majmu’ Al-Fatawa 4/319)

Dan perlu diketahui bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa hikmah dari musibah yang menimpa orang yang beriman selain menggugurkan dosa adalah mengangkat derajatnya, sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawy. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 16/128)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما يصيب المؤمن من شوكة فما فوقها إلا رفعه الله بها درجة أو حط عنه خطيئة

“Tidaklah menimpa seorang mukmin sebuah musibah, duri atau musibah yang lebih besar dari itu kecuali Allah akan mengangkat derajatnya atau menggugurkan dosanya”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim, dan lafadznya milik Imam Muslim)

 http://1.bp.blogspot.com/-O1G3qL7C04A/TsPNrx7KwQI/AAAAAAAAA8w/OYCos5101P8/s1600/Nature_Plants_Old_Autumn_leaf_008448_.jpg

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat:

(وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ) (آل عمران:141)

beliau berkata:

يكفر عنهم من ذنوبهم، إن كان لهم ذنوب وإلا رُفعَ لهم في درجاتهم بحسب ما أصيبوا به

“Yaitu Allah menggugurkan sebagian dosa-dosa mereka kalau memiliki dosa, dan kalau tidak (memiliki dosa) maka diangkat derajatnya sesuai dengan musibah yang menimpanya” (Tafsir Al-Quranil ‘Adhzim 2/127)

Dengan demikian insya Allah kita bisa memahami hadist Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang antum isyaratkan, ketika beliau bertanya: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling keras ujiannya? Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه وإن كان في دينه رقة ابتلى على حسب دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشى على الأرض ما عليه خطيئة

“(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)

Yaitu bahwasanya musibah yang menimpa mereka adalah untuk mengangkat derajat mereka, menunjukkan kepada ummat tentang kesabaran mereka, dan menjadi teladan bagi manusia dalam menghadapi ujian.

Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu:

الله عز وجل يبتلي عباده بالسراء والضراء وبالشدة والرخاء ، وقد يبتليهم بها لرفع درجاتهم وإعلاء ذكرهم ومضاعفة حسناتهم كما يفعل بالأنبياء والرسل عليهم الصلاة والسلام والصلحاء من عباد الله

“Allah ‘azza wa jalla menguji hamba-hambaNya dengan kesenangan dan kesusahan, dan terkadang Allah menguji mereka untuk meninggikan derajat mereka, mengangkat penyebutan mereka, dan melipatgandakan pahala mereka sebagaimana apa yang Allah lakukan terhadap para nabi dan rasul ‘alaihimushshalatu wassalam, dan juga hamba-hamba Allah yang shalih” (Majmu Fatawa wa Rasail Syeikh bin Baz 4/370)

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Berhutang ke Bank untuk Membangun Masjid, Bagaimana Hukumnya?


https://4.bp.blogspot.com/-GjlFhwNQ9Yk/V291QhzqXoI/AAAAAAAACcU/ARJ2UmnxDv0TQ1vw0ia58Z_vdxIQyiKCACLcB/s1600/Kejamnya-BANK-RIBA-Lancar-Kena-bunga-Macet-Kena-Denda-dan-Dipercepat-Pelunasan-kena-Penalti-660x330.jpg

Pertanyaan:

Kami sekelompok imigran muslim yang berasal dari Maroko, tinggal di Jerman, dan kami memiliki satu tempat yang kami sewa untuk menjalankan shalat berjama’ah setiap saat, shalat Jum’at, dan hari raya. Dan karena banyaknya orang yang shalat di sana –alhamdulillah- pemerintah Jerman melarang kami untuk shalat di sana, dengan alasan tempat tersebut sempit dan tidak cocok. Dan sekarang kami merencanakan untuk membeli suatu tempat yang luas di luar kota, dan pemerintah Jerman telah memberikan izin kepada kami untuk membelinya. Harga tempat tersebut adalah 3,5 juta Mark, dan kami sekarang baru memiliki dana 1,5 juta Mark. Apakah boleh bagi kami untuk berhutang kekurangan dana tersebut dari bank dengan membayar bunga, agar dapat membeli tempat tersebut, dan apakah keadaan ini tergolong ke dalam darurat (dharurat)? Dan bila telah terlanjur dibeli dengan uang riba, bolehkan kita shalat di dalamnya, hingga didapatkan tempat lain untuk shalat di negeri ini? Mohon jawabannya, semoga Allah membalas kebaikan Anda semua.

Jawaban:


https://lh3.googleusercontent.com/-ulQ5JcCFiCg/VmTPhbJJ0pI/AAAAAAAABC4/HXS6X9RmVHQ/%25255BUNSET%25255D.jpg

Tidak boleh bagi kalian untuk berhutang dengan bunga/riba, karena Allah telah mengharamkan riba, dan memberikan ancaman yang keras kepada pelaku riba. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati orang yang memakan riba, yang memberikannya, kedua saksinya dan penulisnya, dan riba tidak dibolehkan dalam keadaan apapun. Oleh karena itu, tidak boleh bagi kalian untuk membeli tempat tersebut kecuali bila kalian memiliki kemampuan finansial untuk membelinya tanpa harus berhutang dengan riba.

Dan shalatlah sesuai dengan kemampuan kalian, baik dengan satu jama’ah atau dengan terbagi-bagi menjadi beberapa jama’ah di tempat yang berbeda-beda.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
(Majmu’ Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 13/295, fatwa no. 20002).

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Bolehkah Kita Beristighasah kepada Orang Yang Sudah Mati?


https://4.bp.blogspot.com/-5N8W4k3bfN0/U93dy3xu_GI/AAAAAAAAFEY/AberkD1LOhw/s1600/doa.jpg

Pertanyaan:

Di antara amalan yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh di sekitar kuburan adalah meminta sesuatu, beristighasah, memohon kesembuhan, memohon kemenangan atas musuh mereka, atau pun meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati. Hal ini sering kita dapatkan di berbagai negara di penjuru dunia ini, maka bagaimana hukum perbuatan tersebut?
Jawaban:

Amalan ini termasuk syirik besar, yaitu syirik yang dilakukan oleh kaum musyirikan dahulu, seperti kaum Quraisy dan lain sebagainya. Mereka senantiasa menyembah Lata, ‘Uzza, Manat, berhala-berhala, dan patung. Mereka juga beristighasah dan meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan tersebut, agar mereka dimenangkan atas musuh-musuh.

Hal tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan pada waktu perang Uhud, “‘Uzza adalah penolong kami dan ‘Uzza bukan penolong kalian.” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat, “Katakanlah kepada Abu Sufyan, ‘Allah adalah penolong kami dan penolong bagi kalian.’ ”

Abu Sufyan berkata lagi, “Hubal, kalahkanlah!” Maksudnya adalah, “Wahai Hubal, kalahkanlah!” Hubal adalah nama sebuah patung yang disembah oleh kaum Quraisy di Mekkah. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bantahlah Abu Sufyan.” Maka, para sahabat bertanya, “Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Allah lebih tinggi dan lebih luhur.’ ”

Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa meminta sesuatu, beristighasah, memohon kemenangan, menyembelih hewan, bernazar, serta tawaf kepada orang-orang yang sudah mati, patung-patung, bebatuan, pohon, dan makhluk-makhluk lainnya, adalah termasuk syirik besar. Dikarenakan, semua itu jelas termasuk dalam kategori beribadah kepada selain Allah dan perbuatan kaum musyrikin dahulu maupun sekarang. Oleh karena itu, kita semua harus berhati-hati terhadap hal ini, dan (bila kita pernah melakukannya), maka kita harus segera bertobat kepada Allah.

Para ulama dan da’i yang menyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib memberikan nasihat, mengajari, membimbing, dan menjelaskan kepada siapa saja yang mengerjakan perbuatan tersebut, bahwa seperti itulah kesyirikan kaum musyrikin dahulu. Allah telah berfirman tentang mereka,

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَ يَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاءُنَا عِنْدَ اللهِ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, yaitu sesembahan-sesembahan yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Mereka juga berkata, ‘Mereka (sesembahan-sesembahan) itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.’ ” (Qs. Yunus: 18)

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa kesyirikan, dan Dia mengampuni segala jenis dosa selain dari kesyirikan itu, bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya.” (Qs. an-Nisa`: 48)

وَلَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-An’am: 88)

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (Qs. al-Maidah: 72)

Allah juga berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلَقَدْ أُوْحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Dan sesungguhnya, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. az-Zumar: 65)

 http://1.bp.blogspot.com/-qIq_pVCyKA0/UzuWSIoE2JI/AAAAAAAAAu8/Vl2yiIctjiU/s320/th.jpeg

Berkenaan dengan hal ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُوْ لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati, padahal dia menyeru kepada selain Allah sebagai tandingan-Nya, maka dia pasti akan masuk neraka.” (Hr. Bukhari, dalam Shahih-nya)

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ: أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْءً

“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah hendaknya mereka beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Telah disepakati keshahihannya menurut ulama ahli hadits)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْءً دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْءً دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang bertemu dengan Allah (meninggal dunia) dan dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bertemu dengan Allah, tetapi dia menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka dia akan masuk nereaka.” (Hr. Muslim, dalam Shahih-nya)

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dengan ini jumlahnya banyak.

Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepahaman tentang agama-Nya (Islam) kepada kaum muslimin, menjaga mereka dari segala hal yang dimurkai-Nya, memberikan mereka kemampuan untuk bertobat sepenuhnya dari segala kejahatan, memberikan petunjuk kepada para ulama kaum muslimin di setiap tempat untuk menyebarluaskan ilmu dan membimbing orang-orang bodoh menuju takdir yang telah ditetapkan kepada meraka, seperti mentauhidkan Allah dan menaati-Nya, menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya, serta memberikan hidayah kepada para pemimpin dan tokoh kaum muslimin untuk mendalami agama-Nya, berhukum dengan syariat-Nya, dan mengharuskan semua masyarakat merealisasikannya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan, lagi Maha Mulia.

Semoga salawat dan keselamatan senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau.

Sumber: Fatwa-Fatwa Seputar Kubur, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Al-Qowam.



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Bolehkah Menunda Nikah Karena Belum Hafal Al-Quran?


https://2.bp.blogspot.com/-l_LyLVjwG1s/V5D7Mct33zI/AAAAAAAAOm4/Zb-KuaUf6hEa18jtru7ppSO2WwqFtW4EQCLcB/s1600/Apa%2BMaksudnya%2BPahala%2BDua%2BKali%2BDalam%2BMembaca%2BAl-Quran.jpg

Pertanyaan:

Saya seorang muslimah, saya tahu hubungan pranikah itu tidak ada dalam Islam, tetapi saya takut memutuskan hubungan dengan orang yang saya inginkan jadi suami saya, karena selama ini hanya dia yang saya anggap baik agamnya. Dia seorang hafizh (penghafal Al-Quran). Saya ingin menikah dengannya demi hafalan Al-Quran saya yang belum khatam. Saya hanya khawatir kalau hafalan Al-Quran saya tidak terjaga. Bagaimana solusinya?

Jawaban:


http://3.bp.blogspot.com/-_pzChbBTZfw/Ur6gWciXMVI/AAAAAAAACpY/JHgsovSdz2A/s1600/alquran-_130702103109-621.jpg

Solusinya: Ukhti, jika pria calon suami sudah siap menikah, mampu menafkahi istri, apalagi sudah hafal Al-Quran, maka segeralah menikah; karena menikah banyak manfaatnya: menenangkan jiwa, menghindari kemaksiatan, meningkatkan ibadah, dan faidah lainnya. Sebaliknya, menunda pernikahan termasuk menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إَلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ

“Jika datang kepadamu orang yang kamu senangi agama dan akhlaqnya, maka nikahkan (putrimu) dengannya. Jika tidak, akan jadi fitnah dan kerusakan di permuakaan bumi.” (HR. Tirmidzi: 1005, dihasankan oleh Al-Albani; lihat Mukhtashor Irwaul Ghalil, 1/370).

Insya Allah hafalan Al-Quran akan bisa dilanjutkan setelah menikah dengan dibantu oleh suami, karena bila ukhti sudah hafal pun harus mengulangi; jika tidak, hafalan akan hilang. Apalagi, kita bukan hanya sekadar dituntut menghafal, tetapi hendaknya memahami maknanya dan mengamalkan. Ini semua tidak menghalangi kelangsungan pernikahan, semoga Allah memberi kemudahan semua urusan kita.

Sumber: Dijawab oleh Ust. Aunur Rofiq dalam Majalah al-Mawaddah, Edisi 7 Tahun I ,Shofar




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Inilah Percakapan Antara Abu Hurairah dengan Setan


http://3.bp.blogspot.com/-bip5tnWn-1g/VT-zvo845AI/AAAAAAAAEpE/Kcz0EtT-c1s/s1600/langit-biru.jpg

“RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan kepadaku menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Ternyata ada seseorang datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya. Saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Dia berkata, ‘Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga dan saya mempunyai kebutuhan yang mendesak.’ Lantas saya melepasnya.

Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya kasihan padanya dan saya melepasnya.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah! Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya yakin bahwa dia akan kembali lagi berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makanya, saya mengintainya.

Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lantas saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga. Saya tidak akan mengulangi lagi.’ Saya pun iba kepadanya. Lantas saya melepasnya.

Di pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya iba kepadanya dan saya melepasnya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya pun mengintainya untuk kali ketiga.

 https://1.bp.blogspot.com/---T6NqGLuVg/V1GAxKyI7NI/AAAAAAAAKaY/0DqaqJV2YxkYy9_LTVchKCoiS1Ovlv1HACLcB/s1600/menangkap-setan.jpg

Ternyata dia datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya dan saya berkata, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini yang terakhir –sebanyak tiga kali- kamu telah mengatakan bahwa kamu tidak akan mengulangi lagi, ternyata kamu mengulangi lagi.’

Lalu dia berkata, ‘Biarkanlah aku. Sungguh, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu berkat kalimat-kalimat tersebut.’ Saya bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat tersebut?’ Dia berkata, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi, niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’

Selanjutnya saya melepasnya. Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku. ‘Apa yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia mengatakan bahwa dia akan mengajariku beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku, lantas saya melepaskannya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat itu?’ Saya menjawab, ‘Dia berkata kepadaku, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir.’ Dia menambahkan, ‘Niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketahuilah! Sungguh, dia berkata benar kepadamu padahal dia pendusta. Tahukah kamu siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga hari yang lalu, wahai Abu Hurairah?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Dia adalah setan’.” (HR. Al-Bukhari).

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Pemerintah Myanmar Akan Hancurkan 12 Masjid Dan 35 Madrasah


Pemerintah Myanmar akan membongkar 12 masjid dan 35 madrasah. Pejabat pemerintah menyebutkan, alasannya karena puluhan masjid dan madrasah di wilayah Maungdaw dan Buthidaung itu ilegal. 

Selain masjid dan madrasah, Menteri Keamanan dan Perbatasan Rakhine Kolonel Htein Linn menegaskan juga akan membongkar bangunan-bangunan lain yang ilegal.

Pemimpin Komunitas Islam di Maungdaw mengingatkan pemerintah bahwa penghancuran masjid dan madrasah bisa memicu munculnya ketegangan antara Muslim dan umat Buddha. 

"Rencana ini bisa memicu munculnya kekerasan agama dan masalah lainnya," kata ulama tersebut.

Menurut Linn, penghancuran bangunan akan segera dieksekusi dalam waktu dekat. Menurut data pemerintah, terdapat 2.270 bangunan ilegal di Maungdaw dan 1.056 bangunan ilegal di Buthidaung. Mayoritas bangunan tersebut merupakan milik umat Islam.

Seperti diketahui, mayoritas penduduk dua kota tersebut beragama Islam. Jumlah muslim di dua kota yang berbatasan dengan Bangladesh itu mencapai 90 persen.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Sebelum Diangkat Jadi Nabi, Batu Pun Pernah Beri Salam pada Rasulullah


http://1.bp.blogspot.com/-bdQ7i4AxYrA/TgMZXxNDeBI/AAAAAAAAAG0/EYyv-ZkERxE/s1600/Batu+Besar+Sekali.jpg

RASULULLAH ﷺ memang merupakan sosok teladan bagi kita. Dia adalah manusia yang berbeda dengan manusia lainnya. Sebab, dia adalah salah satu manusia pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pemberi risalah kepada umat manusia. Maka, ia memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada manusia lainnya.

Rasulullah ﷺ diangkat menjadi seorang nabi, bukanlah semenjak ia dilahirkan. Tapi, tanda-tanda ia akan menjadi utusan Allah sudah terlihat. Bahkan, batu pun memberi salam kepadanya. Benarkah?

Ya, dikisahkan mengenai kebenaran batu yang memberi salam kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini berawal ketika Rasulullah masih berada di Mekkah sebelum diangkat menjadi nabi. Ada batu yang memberi salam kepada Nabi. Tentu saja hal ini menjadi unik dan aneh, sebab batu adalah benda yang tidak bisa berbicara.

Rasulullah ﷺ mengetahui tentang batu tersebut, akan tetapi beliau dan para sahabat tidak ada yang pernah berpikir untuk memungut atau membawa pulang batu tersebut. Mereka tidak pernah berpikir untuk dijadikan penangkal atau alat terapi jika beliau sakit.

http://www.mainmakan.com/wp-content/uploads/2011/11/P1070249.jpg

Dari sahabat Jabîr bin Samrah, ia berkata bahwa Rasulullâh ﷺ telah bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi nabi. Sesungguhnya aku mengetahuinya sampai sekarang,” (HR. Muslim).

Subhanallah, batu yang kita kenal sebagai benda mati pun, bisa memberikan salam kepada utusan Allah itu. Sungguh, istimewa kedudukannya. Maka, kita pun patut bangga memiliki panutan yang sangat baik seperti dirinya. Rasulullah selalu mengarahkan kita pada jalan kebenaran, dan memperingatkan kita jalan yang salah. Sehingga, kita bisa mengetahui mana jalan menuju keberkahan hidup.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Doa Tidak Kunjung Terkabul, Coba Periksa Makanan Anda


http://2.bp.blogspot.com/-VOgboq5IEFk/VY9EoceFYOI/AAAAAAAAACE/KptP5USXaUs/s1600/makanan%2Bkorea.jpg

SEBAGAI seorang makhluk, tentu kita membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Dia juga yang memberikan kita kehidupan kepada kita. Maka, ketika kita membutuhkan sesuatu, berdoa kepada-Nya adalah solusi terbaik.

Hanya saja, setiap doa yang dipanjatkan terkadang tak pernah dipenuhi. Mengapa bisa terjadi? Ada berbagai macam faktor yang bisa menghambat doa itu dikabulkan. Salah satunya dari makanan. Memang ada apa dengan makanan?

Cobalah periksa makanan yang Anda konsumsi. Apakah makanan itu halal ataukah haram, diperoleh dari hasil yang halal ataukah haram? Sebab, makanan yang haram akan mempengaruhi doa.

Hal ini tertuang dalam hadis Rasulullah ﷺ. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’

 https://3.bp.blogspot.com/-Wyh-NVHpbgw/VxU4-6kGV7I/AAAAAAAACuA/wjr0JVZBIGsU9ksNLUARmOOKzDUZyb-UQCLcB/s1600/Doa%2BMinta%2BRezeki%2Byang%2BHalal%2Bdan%2BBaik%2BLengkap%2BArab%252C%2BLatin%2Bdan%2BArtinya.jpg

Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu’.”

Kemudian Nabi ﷺ menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim [1686]).

Oleh karena itu, apabila kita hendak mengonsumsi sesuatu makanan atau minuman hendaknya terlebih dahulu mengetahui dari mana kedua hal tersebut berasal. Jangan sampai kita memakan makanan yang haram. Sebab dapat berpengaruh terhadap terkabulnya doa yang kita panjatkan kepada Allah. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Beginilah Sejarah Kota Lud, Tempat Dajjal Terbunuh


http://2.bp.blogspot.com/-SR-ulTf3x3Q/T5jP6thWC6I/AAAAAAAAEVM/7kUISHe7hjM/s720/1335414759302.png

DALAM suatu riwayat dikatakan bahwa Nabi Isa Alaihis Salam akan turun ke muka bumi. Dia yang selama ini dikabarkan telah wafat, di akhir zaman kelak akan muncul kembali, dan membantu manusia. Membantu apa? Tentunya, membantu musuh yang paling nyata, yakni Dajjal.

Ya, sosok Dajjal begitu membahayakan manusia, khususnya kaum Muslimin. Sebab, ia adalah sosok yang mampu menggoyahkan keimanan seseorang. Apa yang terlihat benar darinya ternyata salah, dan apa yang terlihat salah ternyata benar. Sehingga, banyak orang terkecoh dengan hal ini.

Oleh sebab itulah, Nabi Isa diutus oleh Allah untuk membunuh Dajjal dan memberi petunjuk pada jalan kebenaran. Dan dikisahkan bahwa Nabi Isa akan berhasil membunuh Dajjal di gerbang kota Lud. Lantas, seperti apa kota tersebut?

Orang-orang Yahudi memberi nama kota tersebut sebagai Lod. Negara-negara Arab memberikan nama Al-Lud atau Lud. Kota ini tak besar, hanya sekitar 13 kilometer.

Pada ribuan tahun yang lalu, kota ini diketahui oleh Diospolis Lydda. Terletak di daerah pusat Israel. Lud terletak sekitar 15 kilometer dari arah tenggara Tel Aviv. Saat tahun 2011, penduduk kota sekira 70 ribu. 80% dari mereka yaitu orang-orang Yahudi dan sisanya yaitu orang Arab.

Padahal sebelumnya, kota ini diisi oleh orang-orang Arab yang Muslim. Akan tetapi, saat tahun 1948, Israel berhasil menduduki kota tersebut. Alhasil, banyak penduduk Muslim yang telah dikeluarkan. Selanjutnya mereka memperluas proyek untuk membuat pemukiman Yahudi di wilayah tersebut.

Jikalau kita mempelajari sejarah kota Lud ini, diketahui bahwa kota ini mungkin telah ada sejak 5600 SM. Hal ini didasarkan saat usia tembikar dan barang-barang arkeologi menemukan sejumlah tempat. Sejarah telah mencatat sejumlah Emperium pernah menaklukkan kota kecil ini.

Pada abad ke-15 SM, kota Lud berkembang sebagai pusat pemikir Yahudi dan perdagangan. Akan tetapi, saat tahun 70 Masehi, Lud ditaklukkan oleh penguasa Romawi. Pada perang ini, Roma sukses menjadikan penduduk di sana sebagai budak dan menghancurkan kota tersebut.

 http://4.bp.blogspot.com/-skNTrbMSE10/TVpYsrqR3AI/AAAAAAAAAK0/9cbuWwCl080/s1600/LUD%2B2.JPG

Saat berada dalam pengaruh kekuasaan Romawi, kebanyakan orang di kota ini menganut agama Kristen. Tak cuma itu, penguasa Romawi terus berusaha mengkristenkan penduduk yang tinggal di wilayah itu.

Cahaya Islam mulai nampak di kota tersebut saat tentara Islam yang dipimpin oleh Amr Ibn Al-Ash menaklukkan Lud. Akan tetapi, kemenangan itu tak berlangsung lama. Terjadinya perang salib mampu mengambil alih kembali kota Lud oleh orang-orang Kristen.

Akan tetapi, ketika tentara Islam pada perang salib selanjutnya dipimpin oleh Salahuddin Al-Ayubi, akhirnya mampu merebut kembali kota itu. Dan seiring berjalannya waktu serta pergantian era, Kekhalifahan Utsmanniyah mulai berkembang.

Hingga 1948 Lud masih terletak di bawah pemerintahan Palestina. Saat itu, populasi penduduk Muslim berjumlah sekitar 20 ribu orang, dan hanya sekitar dua ribu orang Kristen. Akan tetapi, saat Juli 1948 Israel merebut dan menduduki kota ini seperti dijelaskan di atas. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Munculnya Kemilau Emas, di Balik Surutnya Sungai Eufrat


http://4.bp.blogspot.com/-FGEd2oWdtUI/Ufy4_Z6O1iI/AAAAAAAAAKA/fdudu-Lwmwc/s1600/Sungai+Eufrat+Berubah+Menjadi+Emas.jpg

JIKA kita perhatikan, sungai Eufrat mengalami proses mengering. Hal ini merupakan fenomena alam yang luar biasa. Pasalnya, sungai tersebut dengan sendirinya surut secara terus menerus.

Sungai Asia bagian Barat yang bermata air di Anatolia Turki dan bermuara di Teluk Persia ini tentu menjadi perhatian khusus NASA. Ya, para ilmuwan NASA menemukan, sejak tahun 2003 hingga 2010, debit air sepanjang sungai Tigris dan Eufrat mulai Turki, Suriah, Irak hingga Iran telah kehilangan 144 juta kilometer kubik. Debit itu terus berkurang dalam jumlah besar pada periode 2010 hingga 2015.

Sungai sepanjang 2,781 meter itu memang sudah diceritakan oleh Rasulullah ﷺ. Di mana, di balik keringnya sungai tersebut ada kemilau emas, yang siap diperebutkan oleh manusia yang cinta dunia.

 http://2.bp.blogspot.com/-5za5YHK1LL4/UW7ORpmtDzI/AAAAAAAAVRw/rfWNixr1lxE/w1200-h630-p-nu/MISTERI+Sungai+Eufrat+dan+Gunung+Emas+Membawa+Kepada+Hari+Kiamat+TAOTAUAJER.jpg

Sebagaimana tercantum dalam sabda Rasulullah, “Hari kiamat tidak akan terjadi sampai sungai Eufrat (mengering lalu) menyingkapkan gunung emas. Orang-orang saling membunuh untuk memperebutkannya. Terbunuhlah pada setiap 100 orang itu 99 orang, namun masing-masing dari mereka berkata, ‘Barangkali aku yang menjadi orang yang selamat itu’,” (HR. Muslim).

Inilah salah satu tanda kiamat yang diberitahu oleh Rasulullah ﷺ. Beliau memperingatkan kita agar tidak menjadi bagian dari mereka yang memperebutkan emas. Sebagai, orang beriman cukuplah kita bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang pemberi rezeki yang sesungguhnya. Meski kita tidak ikut andil memperebutkan emas itu, tapi yakinlah Allah selalu mencukupi kebutuhan kita.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Belajar Sifat Wara dari Sosok Imam Abu Hanifah


http://1.bp.blogspot.com/-8M74nMcduiU/VIwFQ0oCCpI/AAAAAAAA4_s/itN_CSY87Fk/s1600/%23masjid.jpg

YAZID bin Harun berkata, “Saya belum pernah mendengar ada seseorang yang lebih wara’ dari pada Imam Abu Hanifah. Saya pernah melihat beliau pada suatu hari sedang duduk di bawah terik matahari di dekat pintu rumah seseorang. Lalu saya bertanya kepadanya, “Wahai Abu Hanifah! Apa tidak sebaiknya engkau berpindah ke tempat yang teduh?”

Beliau menjawab, “Pemilik rumah ini mempunyai hutang kepadaku beberapa dirham. Maka, saya tidak suka duduk di bawah naungan halaman rumahnya.”

Sikap seperti apa yang lebih wara daripada sikap ini? Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau ditanya mengapa enggan berdiam di tempat teduh, lalu Abu Abu Hanifah berkata kepadaku. “Pemilik rumah ini mempunyai sesuatu. Maka, saya tidak suka berteduh di bawah naungan dindingnya, sehingga hal tersebut menjadi upah suatu manfaat.” Saya tidak berpendapat bahwa hal tersebut wajib bagi semua orang, akan tetapi orang alim wajib menerapkan ilmu untuk dirinya sendiri lebih banyak daripada yang dia ajarkan kepada orang lain.

http://2.bp.blogspot.com/-Bw1P2NKkmpQ/VZThw4ScHhI/AAAAAAAABNQ/-YXL_iR-LpE/s640/imam%2Babu%2Bhanifah-jragung.jpg

Sebagaimana pula Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu pernah meninggalkan makan daging kambing selama tujuh tahun ketika seekor kambing milik baitul mal di Kufah hilang sehingga beliau yakin kambing tersebut telah mati. Sebab, beliau menanyakan berapa waktu paling lama kambing bisa bertahan hidup?

Dikatakan kepadanya, “Tujuh tahun.” Maka beliau meninggalkan makan daging kambing selama tujuh tahun karena untuk berhati-hati lantaran ada kemungkinan kambing haram itu masih hidup. Sehingga, bisa jadi kebetulan dia memakan sebagian dari kambing tersebut yang berarti menzhalimi hatinya. Meskipun sebenarnya tidak berdosa karena tidak mengetahui benda itulah yang haram.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Telah Terungkap! Mantan Pendeta Ini Sebut Indonesia Jadi Target Gerakan Kristenisasi Nomor 2 di Dunia


http://2.bp.blogspot.com/-vSelVLp6H_w/Uwm7d21j76I/AAAAAAAAFYo/1pnsoA3jFCc/s1600/timthumb.jpg

BANDUNG—Sekjen Komisi Nasional Anti Pemurtadan (KNAP) Dr.Bernard Abdul Jabbar mengungkapkan Kristenisasi di Indonesia bukan sekadar wacana. Menurutnya, para misionaris melihat Indonesia sebagi ladang subur bagi misi mereka.

“Indonesia adalah target nomor dua dunia, dan nomor pertama di Asia Pasifik. Selain itu, Indonesia merupakan penyumbang terbesar Kristenisasi di Dunia,” terang mantan pendeta itu dalam tabligh akbar yang digagas puluhan ormas dan elemen umat Islam Jawa Barat di Bandung, (25/09/2016), disitat dari persis.or.id.

http://2.bp.blogspot.com/-S8-WcUQoaN0/VYyiy32GJEI/AAAAAAAAA7c/_-kemxI5tdo/w1200-h630-p-nu/Bernard_Abdul_Jabbar.jpg

Sedangkan untuk Indonesia, lanjut Bernard, Jawa Barat berada pada posisi teratas, dan Sumatera Barat setelahnya. Keseriusan mereka dalam misi tersebut terutama di Jawa Barat bisa terlihat dari dana yang disediakan.

“Para misionaris berkumpul di Amerika khusus untuk membicarakan misi kristenisasi di Jawa Barat. Dan tidak tanggung-tanggung, untuk Jawa Barat mereka menyediakan dana sebesar 1,3 Milyar US Dolar,” papar Bernard.

Meski Jawa Barat menjadi target utama, namun penyumbang terbesar kristenisasi di Indonesia adalah Sumatera Barat. Dan Kota yang paling mudah menerima kehadiran misionaris adalah Kota Mentawai. “Pemurtadan terbesar ada di Sumbar, terutama Mentawai. Di sana ada Rumah Kasih Nazaret Minangkabau,” jelas Benard.
 


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

Apakah yang Membuatmu Tertawa?

https://2.bp.blogspot.com/-J3DkkzzVl6I/VzmIIKP5DeI/AAAAAAAAAMs/fIjUpI1GDC89LuDfdJVKHgmytVXTsiUmACLcB/w1200-h630-p-nu/6.jpg

DIA adalah Sa’id bin Jubair, pewaris ilmu Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Salah seorang yang paling alim di kalangan tabi’in. Beliau ditemani Abdurrahman bin al-Asy’ats ketika melawan pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan lantaran berbuat sewenang-wenang dan keterlaluan dalam melakukan pembunuhan. Pada saat Ibnul Asy’ats terkalahkan dalam perang Dairul Jamajim dan terbunuh, Sa’id tertangkap di Makkah. Gubernur Makkah yang ketika itu dijabat oleh Khalid bin Abdullah al-Qasri yang menangkapnya.

Ia dibawa menghadap kepada Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi.

Lantas Hajjaj bertanya kepadanya, “Siapa namamu?”

Ia menjawab, “Sa’id bin Jubair.”

Hajjaj berkata, “Bukan, kamu adalah Syaqi bin Kusair.”

Ia menanggapi, “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada dirimu.”

Hajjaj menambahkan, “Celaka ibumu dan juga kamu.”

Ia menjawab, “Yang mengetahui hal ghaib bukanlah kamu.”

Hajjaj berkata, “Sungguh, saya akan mengganti duniamu dengan api yang menyala-nyala.”

Ia berkata, “Seandainya aku mengetahui hal tersebut, pastilah saya menjadikanmu sebagai Tuhan.”

Hajjaj berkata, “Apa pendapatmu mengenai Muhammad?”

Ia menjawab, “Beliau adalah Nabi yang membawa kasih sayang dan pemimmpinnya orang yang mendapat petunjuk.”

Hajjaj melanjutkan, “Apa pendapatmu mengenai Ali? Apakah ia di surga atau di neraka?”

Ia menjawab, “Jika engkau telah masuk ke dalam neraka dan kamu mengetahui siapa yang berada di dalamnya, pastilah engkau mengetahui penduduk neraka.” Hajjaj bertanya lagi, “Apa pendapatmu mengenai para khalifah?”

Ia menjawab, “Saya bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” Hajjaj melanjutkan, “Siapakah di antara mereka yang paling engkau sukai?”

Ia menjawab, “Orang yang paling diridhai oleh Sang Penciptaku.”

Hajjaj bertanya, “Siapa orang yang paling diridhai oleh Sang Pencipta?”

Ia menjawab, “Pengetahuan mengenai hal ini ada di sisi Dzat yang mengetahui rahasia dan bisikkan mereka.”

Hajjaj berkata, “Saya ingin engkau jujur kepadaku.”

Ia menjawab, “Jika saya tidak menjawab pertanyaanmu, berarti saya tidak berdusta kepadamu.’

Hajjaj berkata, “Mengapa engkau tidak tertawa?”

Ia menjawab, “Bagaimana bisa tertawa seorang makhluk yang diciptakan dari tanah sedangkan tanah dapat dilalap api.”

Hajjaj berkata, “Bagaimana dengan kami yang bisa tertawa?”

Ia menjawab, “Karena hati manusia tidaklah sama.”

Hajjaj hendak membujuk Sa’id dengan keindahan dan permainan dunia. Lantas ia memerintahkan agar didatangkan mutiara, zamrud, dan permata. Semua benda tersebut dikumpulkan di hadapannya.

Sa’id berkata kepada Hajjaj, “Jika engkau mengumpulkan semua ini agar engkau terlindungi dari ketakutan pada Hari Kiamat, maka bagus. Jika tidak demikian, maka hal ini akan menjadi sebauh teror di mana semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya. Tidak ada kebaikan sedikit pun dalam sesuatu yang dikumpulkan hanya untuk dunia kecuali harta yang baik dan dizakati.”

Lantas Hajjaj menyuruh agar diambilkan alat musik gambus dan seruling. Ketika kecapi itu dimainkan dan seruling ditiup, Sa’id menangis, lalu Hajjaj bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Apakah permainan musik ini?”

 http://2.bp.blogspot.com/-5mCnb85DXEs/VZVn-PnazdI/AAAAAAAAFSg/yTC8mzNUNfE/s1600/Motivasi%2BHidup.jpg

Sa’id menjawab, “Yang membuatku menangis ialah kesedihan. Tiupan tersebut mengingatkanku akan hari agung, yaitu hari sangkakala ditiup. Sedangkan kecapi tersebut berasal dari pohon yang ditebang tanpa hak, tali senarnya berasal dari kulit kambing yang akan dibangkitkan bersamanya pada Hari Kiamat.”

Lantas Hajjaj berkata, “Celakalah engkau Sa’id!”

Sa’id menimpali, “Tidak ada celaka bagi orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.’

Lalu Hajjaj berkata, “Pilihlah Sa’id!” (maksudnya, pilihlah dengan cara apa saya membunuhmu).

Ia menjawab, “Terserah kamu sendiri, hai Hajjaj! Demi Allah, Engkau tidak akan membunuhku melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan membunuhmu dengna cara yang sama di akhirat.”

Hajjaj berkata, “Apakah kamu ingin saya ampuni?”

Ia menjawab, “Sesungguhnya ampunan ialah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan kamu tidak mempunyai hak membebaskan dan memberi ampunan.”

Hajjaj berkata kepada tentaranya, “Bawalah ia pergi, lalu bunuhlah dia.” Ketika Sa’id dibawa keluar, ia tertawa. Lantas Hajjaj diberitahu mengenai hal ini, lalu Sa’id dibawa kembali lagi.

Hajjaj bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa?”

Ia menjawab, “Saya takjub pada kelancanganmu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesabaran-Nya terhadapmu.”

Hajjaj berkata, “Bunuhlah dia!”

Lalu Sa’id mengucapkan:

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am: 79)

Hajjaj berkata, “Hadapkanlah wajahnya ke selain arah kiblat.” Lalu Sa’id mengucapkan:

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaahaa: 55)

Hajjaj berkata, “Sembelih dia!”

Sa’id berkata, “Sesungguhnya saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar selain Allah Yang Esa. Tiada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ambillah dariku sampai engkau bertemu denganku pada hari Kimat.”

Kemudian Sa’id berdoa, “Ya Allah! Janganlah engkau memberinya kesempatan untuk membunuh seorang pun setelah aku.”

Sa’id dibunuh pada bulan Sya’ban tahun 96 H. Setelah itu Hajjaj meninggal dunia pada bulan Ramadhan pada tahun itu juga. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberinya kesempatan untuk membunuh seorang pun setelah Sa’id hingga ia meninggal dunia.

Pada saat Sa’id disembelih, ternyata darahnya mengalir sangat banyak. Lantas Hajjaj memanggil para dokter. Ia menanyakan kepada mereka mengenai Sa’id dan orang-orang yang telah ia bunuh sebelumnya. Sesungguhnya orang-orang yang dibunuh sebelum Sa’id, darahnya yang mengalir hanya sedikit. Lantas para dokter menjawab, “Ketika Sa’id dibunuh, nafasnya masih bersamanya. Darah itu mengikuti nafas. Sedangkan selain Sa’id, ternyata nafasnya telah hilang lantaran ketakutan. Oleh karena ituah darah yang mengalir hanya sedikit.”

Ketika Hasan al-Basri mengetahui bahwa Hajjaj telah membunuh Sa’id bin Jubair dengan cara disembelih, maka ia berdoa, “Ya Allah! Binasakanlah orang fasik yang keterlaluan itu. Demi Allah, seandainya semua yang ada di antara langit dan bumi bekerja sama untuk membunuh Sa’id. Pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menceburkan mereka semua ke dalam neraka.”

Ketika Hajjaj menjelang kematiannya, ia mengalami pingsan kemudian sadar kembali dan berujar, “Apa yang terjadi pada diriku dan Sa’id bin Jubair?” Pada saat sakit, ketika tidur ia pernah bermimpi melihat Sa’id sedang memegang ujung pakaiannya dan berkata kepadanya, “Hai musuh Allah! Dalam rangka apa kamu membunuhku?” Lantas ia pun terbangun dalam keadaan ketakutan. Ia berkata, “Apa yang terjadi pada diriku dan Sa’id bin Jubair?” Setelah Hajjaj meninggal dunia ia dimimpikan di dalam tidur, lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang diperbuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapmu?” Ia menjawab, “Dia membunuhku untuk setiap orang-orang yang kubunuh. Dan Dia membunuhku sebanyak 70 kali karena saya membunuh Sa’id bin Jubair.”

Sa’id bin Jubair merupakan salah seorang yang paling hafal Al-Quran al-Karim dan sangat mengetahui tafsir sebagaimana ia juga orang yang paling mengetahui hadis, halal, dan haram. Wafa’ bin Iyas berkata, “Pernah suatu hari Sa’id berkata kepadaku pada bulan Ramadhan, ‘Pertahankanlah untuk terus membaca Al-Quran.’ Makanya, beliau tidak beranjak dari tempatnya sebelum mengkhatamkan Al-Quran. Sa’id berkata mengenai dirinya sendiri, “Saya membaca Al-Quran secara keseluruhan di dalam dua rekaat shalat sunah di Baitullah yang mulia.”


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !


Selengkapnya

YES MUSLIM

" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top