71 Tahun Bom Atom, Menguak Wajah Asli Teror Amerika

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer



“Banyak orang di jalanan tewas seketika. Jari-jari dari jenazah tersebut terbakar, dan api terus menjalar hingga ke seluruh tubuh. Cairan mulai keluar dari tangan mereka, menghanguskan jari-jari hingga pergelangan tangan. Aku begitu terkejut, menyaksikan bagaimana tangan dan tubuh bisa terbakar dan hancur seperti itu. Aku tidak bisa mempercayainya.

Pemandangan ini begitu mengerikan. Sangat menyakitkan sekali jika melihat bagaimana jari-jari tersebut terbakar. Ya, jari dan tangan yang digunakan untuk menggendong bayi itu, hangus terbakar.


Beberapa tahun setelah bom diledakkan, aku sangat takut dengan api. Bahkan, aku tidak sanggup mendekati api, karena ia membawaku pada sebuah memori mengerikan, betapa panasnya kobaran apinya, dan betapa sulitnya untuk bernapas. Mungkin karena api membakar seluruh oksigen, aku tidak tahu. Aku tidak bisa membuka mata, karena asapnya begitu tebal. Hal ini tidak hanya terjadi padaku, tapi juga pada semua orang.”

KIBLAT.NET – 6 Agustus 1945, tepat 71 tahun yang lalu, matahari bersinar di langit biru Hiroshima, Jepang. Menjanjikan hari yang hangat dan menyenangkan. Tidak ada tanda di waktu fajar yang mengindikasikan bahwa hari ini akan berbeda dengan hari-hari biasanya. Namun, hari ini akan berbeda, sangat berbeda. Hari ini akan mengubah dunia. Pada hari ini sebuah bom atom dijatuhkan dari pesawat udara AS, menghancurkan seluruh kota dan mengakhiri Perang Dunia II. Sebuah hari yang memperkenalkan era atom kepada umat manusia.




Akiko Takakura masih berusia 20 tahun ketika bom atom dijatuhkan. Ia berdiri 300 meter dari pusat pengeboman di Hiroshima. Ia adalah satu dari sedikit orang yang berhasil lolos dari maut pasca serangan mengerikan tersebut. Takakura berhasil lolos dari maut meski tercabik dengan 100 luka di punggungnya. Di tempat lain, ibu-ibu dan anak-anak terbakar atau cacat karenanya. Organ dalam mereka mendidih, dan tulang mereka hangus seperti arang yang rapuh.

Kengerian tersebut tidak berhenti di situ. Tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom berikutnya di Nagasaki. Beberapa bulan setelahnya, banyak orang tewas karena dampak kebakaran, radiasi, dan cedera lainnya. Dampak akut dari bom tersebut menewaskan 90 ribu hingga 146 ribu orang di Hiroshima, dan 39 ribu hingga 80 ribu di Nagasaki. Sebagian besar dari mereka adalah rakyat sipil tak berdosa, termasuk puluhan ribu anak-anak.

Beberapa sejarawan mengkalkulasi bahwa jumlah korban tewas dari kampanye pengeboman AS di Jepang menembus 1 juta warga sipil.





Kota Hiroshima setahun setelah pengeboman Amerika.


Karena Menang, AS Bukan Penjahat Perang 

Pada tahun 2003, Erol Moris memenangkan Academy Award atas film dokumenternya, The Fog of War: Eleven Lessons from the Life of Robert S. McNamara. Film itu sebagian besar berisi interview dengan Robert McNamara, termasuk perannya dalam pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS pada tahun 1961-1968. Setelah itu, ia menjabat sebagai Presiden Bank Dunia pada tahun 1968 hingga 1981.

Tahu bahwa ia tidak akan dituntut sebagai penjahat perang, McNamara menjelaskan bahwa Jenderal Curtis LeMay, arsitek pengeboman tersebut, pernah mengatakan, “Jika kita kalah perang, kita semua akan dituntut sebagai penjahat perang.”

“Saya rasa dia benar,” kata McNamara. “Dia dan saya telah melakukan kejahatan perang. LeMay tahu bahwa apa yang ia lakukan akan dianggap tidak bermoral jika pihaknya kalah. Tapi, apa yang membuat amoral jika Anda kalah dan tidak amoral jika Anda menang?”

McNamara tidak mau minta maaf dalam testimoninya. Ia nampak begitu yakin bahwa karena AS menang, sejarah panjang pembunuhan mengerikan yang mereka lakukan bisa dikatakan pantas. Dengan logika yang sama, jika saja Hitler menang, sejarah bisa jadi akan menganggapnya sebagai pahlawan, penyelamat kebebasan dunia, bukan sociopath yang kejam. Mereka yang mengontrol masa lalu, akan mengendalikan masa depan. Mereka yang mengendalikan masa kini akan mengendalikan masa lalu.

Mungkin kita jarang mendengar cerita detail tentang serangan tersebut dalam pelajaran sejarah di sekolah, karena ia menguak wajah asli teror Amerika.

Jutaan orang tewas, mereka semua dibantai atas nama kebebasan dan demokrasi serta kata-kata “mulia” lainnya. Penyebabnya bisa mempunyai nama yang berbeda-beda: kolonialisme, neo-kolonialisme, imperialisme, atau kerakusan korporasi. Nama tidak begitu penting, karena penderitaan yang mereka akibatkan-lah yang perlu diperhatikan.





The Un-People
Setelah menyaksikan dan menganalisis berbagai konflik mengerikan yang terjadi di seluruh dunia, Andre Vltchek, dalam bukunya, On Western Terrorism, Frowww.kiblat.net/2016/08/18/71-tahun-bom-atom-menguak-wajah-asli-teror-amerika-bag-2/m Hiroshima to Drone Warfare, menyimpulkan bahwa “hampir seluruhnya terjadi karena dirancang atau diprovokasi oleh kepentingan geopolitik dan ekonomi Barat. Dan informasi tentang peristiwa pembunuhan dan tentang nasib manusia yang dimusnahkan dan dikorbankan tanpa banyak berpikir panjang itu, secara fantastis jumlahnya sangat terbatas dan dipelintir.”

Warga dunia di luar Eropa, AS, dan beberapa negara Asia terpilih disebut oleh George Orwell sebagai “un-people”, untuk menyebut mereka yang tidak layak masuk ke dalam sejarah. Siapakah “un-people” tersebut?


Mereka adalah orang-orang yang tidak masuk hitungan, orang yang tidak terlalu penting dalam pandangan mereka yang memiliki kekuasaan. Orang yang bisa kalian siksa dan bunuh, bisa kalian binasakan dan usir, tanpa nurani dan tanpa konsekuensi, karena mereka tidak sepenuhnya manusia—atau bahkan bukan manusia sama sekali—di pikiran para pelakunya. Mereka juga dianggap sebagai un-people dalam pandangan media.

Bagi AS, suku Indian di Amerika adalah un-people; berjongkok di tanah mereka sendiri, menunggu “penempatan” saat tamu kulit putih menyebar di seluruh negeri AS. Bangsa Palestina adalah un-people, hingga kulit putih Eropa dan Israel, satu-satunya “manusia sejati”, melakukan infiltrasi, mengusir mereka, dan mengambil alih tanah mereka.

Rakyat Pakistan, Afghanistan, Yaman, dan Somalia adalah un-people, dengan serangkaian serangan drone tak bermoral yang sudah memakan korban ribuan orang. Serangan drone sejatinya adalah kampanye teror. Chomsky menyebutnya sebagai “kampanye teror global paling ekstrim yang pernah saya ingat”.

Rakyat Suriah adalah un-people, saat kombinasi kekejaman Bashar Assad, milisi Syiah Iran, Rusia, Inggris, dan AS, mengeroyok mereka dari darat dan udara. Bahkan, perwakilan Indonesia di PBB, memilih abstain saat voting pelanggaran HAM rezim Assad di Suriah. Entahlah, apakah perwakilan tersebut juga menganggap hampir setengah juta rakyat Suriah yang tewas adalah un-people.

Di sini, mungkin banyak orang yang dianggap sebagai un-people oleh pemilik kuasa—orang-orang miskin yang hanya diperlukan suaranya lima tahun sekali oleh kelompok elit yang mengatasnamakan demokrasi, mereka yang dihukum dan dibunuh tanpa pengadilan dan tanpa rasa keadilan, mereka yang disiksa dan diberangus hak asasinya atas nama perang melawan teror.





Umat Islam, Korban Pembantaian Terbesar
Jika kita lihat lebih dekat, sangat jelas bahwa milyaran orang yang mereka sebut sebagai “un-people” sejatinya adalah mayoritas umat manusia. Dalam kalkulasi yang dilakukan Vltchek, sejak usainya Perang Dunia II, 55 juta orang tewas secara langsung akibat kolonialisme Barat dan neokolonialisme. Menurut penelitian Physician for Social Responsibility, dalam Perang Melawan Teror, Barat telah membunuh 2 juta umat Islam.

Banyaknya jumlah korban dalam waktu yang relatif pendek membuatnya bisa dianggap sebagai pembantaian terbesar dalam sejarah hidup manusia. Sebagian besar diantaranya dilakukan atas nama slogan-slogan “agung”, seperti kebebasan dan demokrasi. Pembantaian jutaan manusia dianggap wajar dan dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, bahkan dapat dibenarkan. Sedangkan ratusan juta lainnya tewas secara tidak langsung, dalam kesengsaraan yang luar biasa, dan dalam kesenyapan.

Barat berusaha menghindar dari tuduhan kejahatan tersebut, dan mencoba meyakinkan dunia bahwa apa yang mereka lakukan memiliki sejenis amanat moral; bahwa mereka mempunyai hak untuk mengatur dunia melalui organisasi dan media mereka. Hegemoni mereka jarang yang pernah melawan, bahkan di negara yang “dijajah” sekalipun mereka menerima tanpa perlawanan. Apakah dunia ini sudah menjadi gila?

Berdasarkan perjalanannya ke belahan dunia yang termarjinalisasi, Vltchek menyimpulkan, kolonialisme kini semakin menguat, melalui propaganda yang semakin canggih dan pengetahuan yang lebih baik tentang cara untuk berinteraksi dengan penduduk lokal. Fenomena ini justru semakin menakutkan.






Di masa lalu, selalu ada musuh, penjahat, yang nampak dengan jelas. Sangat mudah untuk mengidentifikasi musuh yang berada di barisan pasukan kolonial atau pejabat admnistrasi kolonial. Namun kini, kolonialisme berlanjut, namun sangat sulit bagi masyarakat lokal untuk unjuk jari dan mengatakan apa yang sedang terjadi dan siapakah musuh mereka sebenarnya.

Vltchek menambahkan, terorisme Barat adalah sejenis kebijakan luar negeri yg dilakukan tdk hanya melalui metode teror dalam bidang militer (sebagaimana serangan ke Hiroshima), tapi juga melalui ideologi. Teror mereka tidak terbatas pada bom atau senapan. Sebelum memberikan komando militer, AS sudah menyiapkan pemerintah masa depan dengan melatih mereka.

Kudeta ideologi dilakukan sebelum kudeta politik dan militer. Dengan demikian, AS sudah memastikan bahwa mereka telah memiliki partner yang loyal di negara yang ditaklukkan. Banyak yang tidak mengenali aspek kolonialisme semacam ini, dibanding praktik kekerasan lain yang dilakukan oleh CIA. Memang, mereka tidak menggunakan kekerasan, tapi tetap bisa dianggap sebagai teknik teror yang konsekuensinya adalah terenggutnya kedaulatan sebuah negara.

What Next?
Kini, pilihannya hanyalah: kita ingin melakukan sesuatu untuk mengubah kondisi tersebut, atau tidak melakukan apa-apa. Memang, sangatlah mudah untuk menyerah dan menyatakan bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan. Sangat mudah untuk berteriak di media dan mengatakan bahwa kita telah kalah. Apalagi kenyamanan hidup membuat kita merasa bahwa kita bukanlah “un-people” yang dimaksud oleh Barat. Toh, kita masih bisa nyaman “beribadah”, hidup dengan tenang di tengah keluarga dan masyarakat.

Tapi, jika pilihan itu yang kita ambil, tidak ada yang berubah. Kezaliman akan terus merajalela. Padahal, ada banyak hal yang harus diubah, agar keadilan tegak di muka bumi. Pilihan lainnya adalah berjuang siang malam untuk memperjuangkan perubahan tersebut. Lebih sulit memang, namun balasannya pun tidak main-main. Tamat



Penulis: Muhammad Khadafy

» Terima Kasih sudah membaca : 71 Tahun Bom Atom, Menguak Wajah Asli Teror Amerika | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top