Keislaman Raja An-Najasyi dan An-Najasyi yang Lain

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer
Dalam literatur-literatur sejarah Islam, nama Raja An-Najasyi sebagai raja Habasyah (sekarang Ethiopia) di masa Rasulullah begitu populer. An-Najasyi merupakan raja atau pemimpin negara pertama yang masuk Islam, ia menjadi mualaf pada fase dakwah di Makkah. Sebelumnya, Rasulullah sendiri sudah mengetahui perihal Ashamah An-Najasyi sebagai pribadi pemimpin yang adil serta tidak pernah menzalimi rakyat maupun pelancong asing di negerinya. Tulisan ini membahas mengenai perihal keislaman An-Najasyi dan adanya Raja An-Najasyi lain yang diduga masuk Islam juga.




Riwayat pertama yang harus dipertimbangkan adalah riwayat yang demikian terkenal dari Ummu Salamah, diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, terkait keislaman Raja An-Najasyi di peristiwa hijrah ke Habasyah kedua yang dipimpin oleh Jafar bin Abi Thalib. Saat itu An-Najasyi masuk Islam secara diam-diam sesudah Ja’far berdiplomasi tentang agama Islam dan teologi Kristen, sesudah itu An-Najasyi selaku raja yang jujur dan berakal sehat mengakui kalau Nabi Isa alaihissalam adalah hanya Rasul Allah, bukan putra Allah. Obrolan tentang teologi Kristen sendiri terjadi karena pancingan Amr bin Ash sebagai utusan Quraisy Makkah ke Habasyah yang hendak membujuk Raja An-Najasyi agar mengembalikan para muhajirin ke kaum Quraisy. Diplomasi Amr sendiri bertujuan memancing kemurkaan para pembesar Habasyah termasuk An-Najasyi, karena keyakinan aqidah Islam dan Kristen perihal Nabi Isa amat berbeda.

Kehebatan diplomasi Ja’far membuat An-Najasyi menerima Islam. Setelah Amr kalah berdiplomasi dengan Ja'far, kita mengetahui dari kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, para pendeta dan pembesar Habasyah menjadi kesal terhadap Raja An-Najasyi dan terjadilah perang pemberontakan, untungnya Raja An-Najasyi dan pendukung setianya memenangkan perang. Peperangan tersebut jelas terjadi di saat muhajirin dari Makkah yang terdiri dari 82 Muslim dan 19 Muslimah berada di negeri Kristen itu, di mana Zubair bin Awwam diutus kaum muhajirin sebagai pemerhati hasil perang tersebut. Peristiwa Hijrah ke Habasyah kedua sendiri terjadi sekitar bulan Syawal tahun lima kenabian.

Riwayat kedua, riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqat Al-Kubra dan Al-Waqidi dalam Al-Maghazinya, serta diriwayatkan pula oleh Imam Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah yakni Amr bin Ash beserta kerabat-kerabatnya, yang kembali menemui An-Najasyi karena menduga kuat tidak lama lagi Quraisy Makkah akan dikalahkan oleh Daulah Islam Madinah. Di sana Amr beramah-tamah dengan sahabatnya, Raja An-Najasyi, dan memberikannya hadiah dari Makkah, namun dalam pembicaraannya itu An-Najasyi juga kedatangan tamu utusan dari Daulah Islam Madinah, Amr bin Umayyah Adh-Dhamri. Amr bin Umayyah disambut oleh An-Najasyi serta menerima surat dari Rasulullah. Raja An-Najasyi menyambut Amr bin Umayyah dengan baik. Amr bin Ash kesal karena An-Najasyi menyambut utusan Madinah itu sehingga ia mencoba memprovokasi sebagaimana yang dilakukannya dahulu ke kaum Muslimin saat hijrah ke Habasyah pimpinan Ja’far. Namun An-Najasyi malah meninju wajah Amr bin Ash sampai hidung Amr berdarah dan hampir patah. Setelah kemarahannya reda, An-Najasyi berupaya menyadarkan Amr agar menerima Islam saja, hingga Amr masuk Islam di hadapan An-Najasyi. Imam Ibnu Katsir memasukan kejadian ini awal tahun 8 H, tampaknya ini pendapat yang benar, mengingat tidak lama setelah itu Amr pulang ke Hijaz, bertemu Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah lalu ketiganya bersama-sama ke Madinah dan menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah. Kedatangan Amr, Khalid dan Utsman bin Thalhah ke Madinah adalah bulan Safar tahun 8 H.

Riwayat ketiga, pada bulan Dzulhijjah tahun 6 H Rasulullah mulai mengirim surat kepada raja-raja, hanya saja waktunya berbeda-beda, ada yang akhir tahun 6 H dan ada pula yang awal tahun 7 H, seperti yang diungkapkan Syaikh Ramadhan Al-Bu'thy dalam Fiqh As-Sirah. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah memasukkan peristiwa Amr bin Ash dan An-Najasyi tadi (riwayat kedua) di awal tahun 8 Hiriyah, di mana kebetulan Amr bin Umayyah Adh-Dhamri juga mengunjungi Habasyah menjadi utusan Rasulullah kepada An-Najasyi. Kalau kita padukan pengiriman utusan kepada raja-raja dan riwayat kedua tadi, nampaknya surat kepada An-Najasyi baru terjadi belakangan, berbeda waktunya dengan pengiriman surat kepada raja-raja lain seperti Kisra, Kaisar, atau Muqauqis yang berkisar di akhir 6 H dan awal tahun 7 H. Kecuali mungkin, Amr bin Umayyah Adh-Dhamri diutus dua kali ke Habasyah, itu pun baru sebatas dugaan, namun yang lebih bisa diambil oleh kita, pengutusan Amr bin Umayyah bersamaan dengan kedatangan Amr bin Ash ke hadapan An-Najasyi seperti yang dikisahkan di riwayat kedua tadi.

Riwayat tiga, dalam riwayat Imam Muslim di kitab Shahih Muslim dan juga dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma’ad jilid pertama, bahwa saat Rasulullah mengirim surat ke An-Najasyi, An-Najasyi yang menerima surat dakwah dari Rasulullah itu berbeda dengan An-Najasyi yang wafatnya dishalati oleh Rasulullah. Sekalipun Imam Muslim yang meriwayatkannya, namun ada juga yang mengkritik matan hadits ini karena itu merupakan interpretasi perawi hadits. Perbedaan An-Najasyi  mungkin berasal dari Imam Muslim sendiri, atau perawi hadits sebelumnya. Kritiknya itu bahwa An-Najasyi yang di masa Rasulullah  hanya satu orang saja, dan An-Najasyi yang dikirimi surat oleh Rasulullah dan dishalati jenazahnya dari jarak jauh adalah orang yang sama, bukan An-Najasyi yang lain. hal itu tertuang dalam tulisan ahli sirah Arab Saudi, Syaikh Mahdi Rizkullah Ahmad dalam kitab biografi Rasulullah atau judul aslinya As-Sirah An-Nabawiyah fii Dhaui Al-Mashadir Al- Asliyyah. Ada pun jika kita mengikuti pendapat riwayat Imam Muslim, maka An-Najasyi yang bercakap-cakap dengan Amr bin Ash di riwayat kedua tadi dan menerima surat dari Amr bin Umayyah Adh-Dhamri adalah An-Najasyi yang berbeda dari An-Najasyi yang masuk Islam, jenazahnya dishalati Rasulullah dan berdialog dengan Ja’far di tahun lima kenabian. Syaikh Mahdi Rizkullah Ahmad mengungkapkan An-Najasyi yang dikenal selama ini meninggal bulan Rajab tahun 9 H, ini juga jadi pendapat Syaikh Al-Mubarakfury, dengan kata lain An-Najasyi yang dikirimi surat oleh Nabi SAW dan yang dishalati Nabi SAW adalah orang yang sama.

Jika kita ingin tetap mengikuti riwayat Imam Muslim, maka mungkin saja pengutusan yang dimaksud ke An-Najasyi yang berbeda dengan An-Najasyi yang dishalati Rasulullah (yang dikenal selama ini) itu terjadi setelah meninggalnya An-Najasyi, maka mungkin pasca Rajab 9 H, dalam masa ini tidak menutup kemungkinan Rasulullah masih terus mengirim utusan ke wilayah-wilayah yang pemimpinnya belum menerima Islam. Wallahu’alam.

Riwayat keempat, dalam kitab Zadul Maad dan juga yang tercantum dalam kitab Rahiqul Makhtum Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, Amr bin Ash diutus Rasulullah ke Oman. Kala itu Amr berdialog dengan adik raja Oman, Abd bin Al-Julunda, saat menjadi utusan Madinah. Kita ingat Amr bin Ash bersama Khalid bin Walid masuk Islam bulan safar tahun 8 H, sesudah ia pulang dari Habasyah dan menyatakan menerima Islam di hadapan raja An-Najasyi. Dalam obrolannya dengan adik raja Oman, Abd, Amr mengakui masuk Islam di hadapan An-Najasyi, ia bersaksi kaum pendeta dan pembesar Habasyah pun tetap setia kepada An-Najasyi meskipun rajanya sudah masuk Islam. Dikatakan kerajaan Habasyah sampai memutus upetinya kepada Romawi Byzantium pimpinan Heraclius. Selanjutnya dari obrolan Amr dengan Jaifar (raja Oman, kakak Abd) bin Al-Julunda, kelihatannya pengutusan Amr bin Ash ke Oman terjadi setelah peristiwa Fathul Makkah karena Amr bercerita tentang Quraisy Makkah: “Mereka (Quraisy) sudah banyak yang mengikuti Rasulullah, entah memang menyenangi agamanya (Islam), entah karena kalah dalam peperangan.” Analisa ini diungkapkan Syaikh Munir Al-Ghadban penulis Manhaj Haroki. Fathul Makkah terjadi Ramadhan tahun 8 H, sedangkan Amr bin Ash dan Khalid bin Walid masuk Islam bulan Safar beberapa bulan sebelumnya. Oleh karena itu dialog Amr bin Ash dengan kakak beradik Jaifar dan Abd bin Al-Julunda bisa disimpulkan setelah Ramadhan tahun 8 H.

Dengan berbagai pertimbangan riwayat-riwayat, kesimpulan yang bisa kita petik adalah nama-nama An-Najasyi yang ada dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah adalah orang yang sama. Dengan kata lain An-Najasyi yang jenazahnya dishalati Rasulullah dari jarak jauh dan An-Najasyi yang kepadanya diutus Amr bin Umayyah adalah orang yang sama. Ada pun yang ada dalam matan hadits riwayat Muslim itu adalah An-Najasyi yang berbeda dengan yang kepadanya diutus Amr bin Umayyah sekaligus mengajak Amr bin Ash masuk Islam. An-Najasyi sendiri menurut para sejarawan wafat pada Rajab tahun 9 H. Dalam matan riwayat Muslim sendiri tercantum bahwa An-Najasyi yang dikirimkan utusan dan surat oleh Rasulullah bukan An-Najasyi yang jenazahnya dishalatkan oleh Rasulullah. Berarti jika wafatnya An-Najasyi Rajab tahun 9 H, maka adanya pengutusan lagi dari Madinah kepada An-Najasyi (raja Habasyah berikutnya) setelah Rajab 9 H. Pengutusan yang berbeda dengan riwayat kedua tadi, di mana Amr bin Umayyah yang jadi duta dan pengirim surat Rasulullah. Raja An-Najasyi berikutnya ini tidak diketahui perihal keislamannya. Oleh karena itu, berbagai riwayat-riwayat sejarah ini bisa digabungkan menjadi sebuah konstruk sejarah yang utuh.

Ilham Martasyabana
Pegiat The Site of Study for Sirah Nabawiyah

(Sumber: Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Al-Maghazi Al-Waqidi, Thabaqat Al-Kubra Ibnu Sa'ad, Dalail An-Nubuwwah Imam Al-Baihaqi, Zadul Ma'ad Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Al-Bidayah Wa Nihayah Imam Ibnu Katsir, Rahiqul Makhtum Syaikh Al-Mubarakfury, Fiqh As-Sirah Syaikh Ramadhan Al-Bu'thy, Manhaj Haroki Syaikh Munir Al-Ghadban, As-Sirah An- Nabawiyah fii Dhaui Al-Mashadir Al- Asliyyah/Biografi Rasulullah Syaikh Mahdi Rizkullah Ahmad)


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Keislaman Raja An-Najasyi dan An-Najasyi yang Lain | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top