Sukarno, H Agus Salim, dan Pengakuan Kalah Jenderal Spoor Setelah Kuasai Yogya

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer
''Kita kalah!'' Begitulah pernyataan  Jenderal Simon Hendrik Spoor (lahir di Amsterdam 12 Januari 1902) sesaat menerima laporan melalui 'radio komando' tentang ditangkapnya Soekarno-Hatta dan para petinggi 'Republik' sesaat pasukannya menguasai Istana Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Saat itu komandan pasukan yang berada di Istana Negara melaporkan bahwa yang selesai dibangun usai Perang Diponegoro (1932) itu telah dikepung dan dikuasai. Namun pada saat itu juga dia mendapat laporan lanjutan bila Sukarno, Hatta, H Agus Salim, Syahrir dan para pemimpin republik lainnya tetap berada di dalam, tidak pergi ke luar kota untuk melakukan perang gerilya mengikuti panglima perang Jendral Sudirman.




Sebagai komandan pasukan yang jempolan, naluri militer Spoor kemudian yakin bila Belanda akhirnya akan kalah, atau dengan kata yang lain wilayah koloninya yang diberi nama Hindia Belanda itu akan segera terlepas. Dia rupanya paham betul bahwa 'taktik membiarkan diri ditangkap' adalah stategi yang  tepat. Sebab, bila pergi ke luar kota ikut melakukan gerilya maka akan gampang ditangkap atau bahkan ditembak mati oleh pasukannya. Spoor paham tak mungkin mengeksekusi mereka karena Belanda juga saat itu dalam posisi menjadi sorotan dunia internasional. Lagi pula ia paham sekali bila dalam ilmu ketentaraan ada ajaran bahwa menembak mati tokoh perlawanan yang didukung rakyat itu hanya akan percuma saja, sebab tokoh perlawanan yang baru akan segera menggantikannya.

Di dalam Istana Yogyakarta saat itu juga suasananya mencekam. Para pemimpin Republik kala itu pun yakni bila ajal mereka telah dekat karena terancam hukuman tembak mati. Sebagian pegawai Istana sudah menangis akan ancaman maut itu. Sukarno pun gemetar lalu buru-buru membaca ayat Alquran untuk menenangkan diri. Begitu juga H Agus Salim dan Syahrir. Namun semuanya tabah dan memasrahkan takdir kepada Allah Swt.

''Kenapa aku harus khawatir. Hidup mati itu milik Allah,'' kata Sukarno kepada seorang pegawai Istana yang menangis karena beredar kabar bila sang Presiden akan segera ditangkap dan kemudian dihukum tembak.

Maka meski tahu akan kalah, Spoor tak bisa berbuat apa-apa. Layaknya pertarungan tinju di depan matanya kini melihat taktik merangkul yang dilakukan para seterunya karena tak ingin kalah secara konyol. Ia pun gamang dan tak bisa berbuat apa-apa serta terpaksa menangkap dan membuang para pemimpin itu ke pengasingan di luar Jawa: pertamanya ke Prapat lalu kemudian dipindag ke Bangka.




Apa yang dipikirkan Spoor terbukti setahun kemudian. Belanda terpaksa menyerahkan koloni itu melalui perjanjian di Den Haag. Spoor sedikit 'beruntung' karena dia tidak sempat menyaksikan peristiwa penyerahan kedaulatan itu, karena lebih dahulu meninggal dunia secara mendadak pada 25 Mei 1949 ketika tengah menyantap sarapan. Sebagian mengangap dia meninggal karena serangan jantung, sebagian lainnya menyatakan Spoor mati karena diracun. namun sebagian lagi lainnya ada yang sempat mengatakan dia meninggal karena disantet atau diteluh. Yang pasti Spoor kemudian dimakamkan dalam upacara militer yang megah di pekuburan Belanda yang berada di kawasan Menteng Atas.

Dalam sitausai genting itu, Sukarno, Moh Hatta, H Agus Salim, Sjahrir dan para tokoh pendiri bangsa lainnya  mampu menunjukan 'mental kenegarawaannya'. Dia tahu bahwa incaran hukum tembak mengintainya. Pasukan bersenjata lengkap sudah mengepung rapat Istana. Dan ia pun tahu bila para pemimpin ini akan dituduh sebagai penjahat perang karena pernah berkolaborasi dengan Jepang ketika memperjuangkan terwujudnya kemerdekaan.

Dalam foto-foto lama yang menjadi koleksi berbagai museum di Belanda, tampak jelas H Agus Salim tetap bersikap tenang ketika ditangkap dan kemudian diterbangkan ke pengasingan bersama Sukarno dan para pemimpin Republik lainnya. Dia sempat terlihat bercakap-cakap dengan tentara Belanda di lapangan terbang Maguwo (kini Bandara Adi Sucipto) sesaat sebelum masuk ke pesawat terbang.

Ketegangan pun terus berlanjut ketika mereka sudah masuk ke dalam pesawat, bahkan hingga sudah dalam posisi pesawat mengudara. Saat itu para 'bapak bangsa' itu tak tahu ke mana mereka akan dibawa pergi. Memang sebelum masuk pesawat, mereka sudah bertanya kepada para komandan tentara yang menangkapnya mengenai tujuan penerbangannya. Tapi para komandan tentara saat itu menjawab dengan gelengan kepala dan berkata pendek: tak tahu!

Baru ketika pesawat sudah mengudara kapten kapal memberitahu mengenai arah penerbangan yang akan ditujunya. Itu pun oleh sang pilot tak dijawab serta merta sebab dia juga ternyata pada awalnya dia pun mengaku tak tahu. Jawaban itu baru dijawab oleh pilot setelah membuka secarik kertas di dalam amplop  yang terselip di belakang kursi pilot. Nah, setelah amplop dibuka dan kertas dibaca, para awak pesawat berserta penumpangnya baru tahu kemana pesawat akan diarahkan.

Dan setelah pesawat mendarat mereka di bawa ke sebuah vila yang ada di tepian danau Toba. Dalam foto-foto arsip itu kemudian tampak betapa kokohnya kepercayaan H Agus Salim. Muka dia tampak selalu berseri-seri menemani Sukarno dan para pemimpin lainya hidup dalam kurungan pembuangan. Bersama Sukarno, H Agus Salim tampak menikmati udara Prapat yang sejuk dan pemandangan indah danau Toba. Namun, situasi ini tak berlangsung lama, akibat munculnya berbagai usaha penyerbuan pejuang yang berusaha membebaskan mereka, Belanda kemudian memutuskan pemindahan tempat tahanan ke Pulau Bangka untuk disatukan dengan rombongan pengasingan rekan pemimpin Republik lainnya.

Bila kemudian ditanya apa keteladanan lainnya yang bisa diambil dari sosok seorang Haji Agus Salim, maka jawabnya tak lain dan tak bukan adalah sikap pengorbanan dan contoh konkrit hidup sederhana. Cermin ini terasa sangat menjadi penting sebab bila seseorang menyandang gelar haji maka dia harus segera berubah menjadi sosok manusia paripurna karena semua rukun iman dan Islam sudah diakui dan dilaksanakannya.

Bayangkan saja, meski menjadi menteri luar negeri Indonesia yang pertama, kehidupan ekonomi H Agus Salim sama seperti rakyat lainnya. Hidup dan tinggal di rumah kontrakkan dan berpindah-pindah. Lagi pula rumahnya pun kecil berada di gang sempit yang ada di kawasan Pasar Senen. Jadi sama sekali tak terbayang kemewahan, rumah dinas yang megah, fasilitas negara yang berlebihan yang dinikmati oleh H Agus Salim. Bahkan dia pun selalu memberi nasihat bahwa menjadi pemimpin adalah menapaki jalan yang sulit.

"Memimpin adalah menderita!'' begitu kata-kata bijak yang kerap dikutip Haji Agus Salim. Sedangka, di dalam soal urusan haji, pada awal abad ke 20, dia sempat kerja di Konsulat Urusan Haji Hindia Belanda di Jeddah.

Padahal, dengan kecerdasan dan kemampuan berbahasa asingnya, H Agus Salim bisa mengeruk kekayaan dengan melimpah. Bahkan sosok yang dikagumi RA Kartini karena kecerdasannya ini memilih menjadi pejuang kemerdekaan dari pada hidup makmur menjadi pegawai atau amtenar pemerintah Kolonial Belanda. Semenjak usia belia dia curahkan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan bangsanya.

Sikap, tekad, dan konsistensi semangat yang ada dalam diri Haji Agus Salim, menjadikan dia menjadi sosok yang sangat dihormati. Soekarno sangat menyayanginya dan memberi julukan 'The Grand Old Man' (Orang Tua Yang Mulia, red). Apalagi Salim juga merupakan penerus kepemimpinan Sarekat Islam, yang dahulu dipimpin oleh guru yang menjadi 'bapak angkatnya' Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Penghormatan atas jasa Agus Salim tersebut kemudian diberikan negara kepadanya ketika H Agus Salim wafat. Dialah tokoh bangsa yang pertama kali dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

"The Grand Old Man" Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek. Saya pernah meneguk air yg diberikan oleh beliau sambil duduk ngelesot di bawah kakinya. Saya merasa bahagia bahwa saya ini dulu pernah dapat minum air pemberian Tjokroaminoto dan air pemberian Agus Salim,” kata Sukarno.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Sukarno, H Agus Salim, dan Pengakuan Kalah Jenderal Spoor Setelah Kuasai Yogya | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top