Tahukah kamu, Lafal Adzan, Sebuah Mimpi Sahabat yang Menjadi Ketetapan Syariat

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer
Adzan mulai disyariatkan pada tahun dua Hijriyah. Awalnya ketika Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah tentang bagaimana cara memberitahukan masuknya waktu shalat serta mengajak orang agar berkumpul di masjid untuk melakukan shalat berjamaah.





Di dalam musyawarah tersebut, beberapa sahabat ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu shalat telah masuk. Sebagian lagi ada yang mengusulkan supaya ditiup terompet seperti yang biasa dilakukan oleh orang Yahudi. Lalu ada juga yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Selain itu, sebagian sahabat ada juga yang menyarankan agar dinyalakan api sebagaimana tradisi kaum mujusi.

Dari Ibnu Umar r.a, ia berkata, “Dahulu ketika kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, tidak ada panggilan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut. Di antara mereka ada yang mengusulkan memakai lonceng seperi loncengnya kaum Nasrani. Sebagian lain mengusulkan untuk meniup terompet sebagaimana kaum Yahudi. Maka Umar pun berkata, “Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk  mengumandangkan panggilan shalat?” Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Wahai Bilal, berdiri dan serukanlah panggilan shalat!” (HR. Bukhari)

Lafadh Adzan, Mimpi Sahabat yang Menjadi Syariat

Lafadz adzan yang sekarang sering kita dengar ternyata bermula dari mimpi salah seorang sahabat Nabi SAW. Ketika kaum muslimin belum bisa menentukan bagaimana panggilan yang tepat untuk mengumumkan masuknya waktu shalat, salah seorang sahabat, Abdullah bin Zaid bermimpi dan mendapat petunjuk bagaimana panggilan adzan yang tepat bagi umat Islam.

Dalam riwayat yang ditulis oleh Imam Ahmad, Abdullah bin Zaid menceritkan bahwa, “Ketika Rasulullah SAW sudah menyetujui dipukulnya lonceng guna memanggil orang-orang untuk shalat, padahal sebenarnya beliau tidak menyukainya, karena menyerupai orang-orang Nashrani. Maka pada suatu malam ketika aku (Abdulah bin Zaid) tidur, tiba-tiba aku bermimpi, ada seorang laki-laki yang mengenakan dua pakaian hijau, mengelilingiku, sedang di tangannya ada lonceng yang dibawanya,”

Abdullah bin Zaid melanjutkan, “Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Hai hamba Allah, apakah lonceng itu akan kau jual‘?”

Ia pun bertanya balik, “Akan kau pergunakan untuk apa?”

“Akan kupergunakan memanggil (orang) untuk shalat’,” Jawab Abdullah bin Zubair.

“Maukah engkau, kutunjukkan yang lebih baik daripada itu?” Tanya orang tersebut lebih lanjut.

“Ya, baiklah’,” Jawab Abdullah bin Zubair

Ia berkata, “Yaitu hendaklah engkau ucapkan:

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.

Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Asyhadu allaa ilaaha illallaah.

Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.

Hayya ‘alash sholaah, Hayya ‘alash-sholaah.

Hayya ‘alal falaah, Hayya ‘alal falaah.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.

Laa ilaaha illallaah,”

Abdullah bin Zaid berkata, “Kemudian aku mundur tidak seberapa jauh. Lalu orang itu berkata, “Apabila engkau iqamah, sebutlah:

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.

Asyhadu allaa ilaaha illallaah.

Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah.

Hayya ‘alash sholaah. Hayya ‘alal falaah.

Qod qoomatish-sholaah, Qod qoomatish-sholaah.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.

Laa ilaaha illallaah,”

Abdullah bin Zaid berkata, “Kemudian setelah waktu pagi aku datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan kepada beliau apa yang aku impikan tersebut,”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, insyaAllah,” Kemudian Nabi SAW memerintahkan adzan. Maka Bilal maula Abu Bakar beradzan dengan lafadh-lafadh tersebut dan menyeru Rasulullah SAW untuk shalat.

Abdullah bin Zaid berkata, “Lalu pada suatu pagi Bilal datang kepada Nabi SAW, memanggil beliau untuk shalat Shubuh. Lalu dikatakan kepadanya bahwa Rasulullah SAW masih tidur, lalu Bilal mengeraskan suaranya dengan suara yang tinggi, ”Ashsholaatu khoirum minan nauum (Shalat itu lebih baik dari pada tidur).” Sa’id bin Musayyab (perawi) berkata, “Lalu lafadh ini dimasukkan ke dalam bagian dari adzan untuk shalat Shubuh.” (HR. Ahmad)

Dalam lafadz yang lain dari riwayat Abu Dawud disebutkan, ”…Maka ketika waktu pagi, aku datang kepada Rasulullah SAW lalu kuceritakan kepada beliau apa yang aku impikan itu. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, insya allah. Berdirilah, temuilah Bilal dan sampaikanlah kepadanya apa yang engkau impikan, agar ia beradzan dengan lafadh-lafadh itu, karena Bilal lebih keras suaranya daripada kamu”.

Abdullah bin Zaid berkata, “Lalu aku menemui Bilal dan saya sampaikan kepadanya apa yang aku impikan itu, dan Bilal pun lalu adzan dengan lafadh-lafadh itu”. Ia berkata, “Lalu ‘Umar bin Khathab mendengar yang demikian itu, sedang ia berada di rumahnya. Kemudian ia keluar sambil menyeret selendangnya, dan berkata, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan benar, ya Rasulullah, sungguh aku juga mimpi persis seperti yang ia impikan itu”. Lalu Rasulullah SAW mengucapkan, “Bagi Allah lah segala puji.” (HR. Abu Dawud)

Penulis : Fakhruddin

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Tahukah kamu, Lafal Adzan, Sebuah Mimpi Sahabat yang Menjadi Ketetapan Syariat | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top