Apakah Ilmu Ushul Fikih Selalu Mengikuti Perkembangan Zaman?

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer

usul-fikih

Soal:

Ustadz saya ingin bertanya:

    Apakah ushul fikih bisa berkembang menyesuaikan dengan keadaan zaman?
    Apakah mengikuti fatwa ulama termasuk taqlid?

jazakallahu khoir

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc. menjawab:

Masalah masalah agama ada dua macam:

    Masalah masalah yang tidak akan berubah sepanjang masa.
    Masalah masalah yang bisa berubah.

Ibnu Qayyim menjelaskan dalam kitab Ighotsatu Lahafan

الأحكام نوعان: النوع الأول: لا يتغير عن حالة واحدة هو عليها، لا بحسب الأزمنة ولا الأمكنة، ولا اجتهاد الأئمة، كوجوب الواجبات، وتحريم المحرمات، والحدود المقدرة بالشرع على الجرائم ونحو ذلك، فهذا لا يتطرق إلى تغيير، ولا اجتهاد يخالف ما وضع له

النوع الثاني: يتغير حسب المصلحة له زمانًا ومكانًا وحالا كمقادير التعزيرات وأجناسها، وصفاتها، فإن الشارع ينوع فيها بحسب المصلحة) أ.هـ

Hukum itu ada dua macam:

    Hukum yang tidak berubah dari keadaannya yang pertama, tidak berubah karena mengikuti kondisi, tempat, dan ijtihad ulama seperti wajibnya sholat lima waktu, Haramnya berbagai keharaman, hukuman hadd untuk tindakan kejahatan dan sebagainya.
    Hukum yang berubah karena mengikuti mashlahat waktu, tempat dan kondisi seperti ta’zir (pidana yang diserahkan keputusannya kepada hakim karena tidak adanya dalil). Selesai perkataan beliau.

 http://2.bp.blogspot.com/-2AkGeExkDdA/VR5jV4cHkYI/AAAAAAAABjY/Vsjxa_xFUMU/w1200-h630-p-nu/Ilmu%2BUshul%2BFiqh.jpg

Diantara perkara yang mempengaruhi perubahan hukum adalah masalah urf atau adat istiadat. Karena kebutuhan manusia berbeda beda di satu daerah dengan daerah lainnya. Dalam kitab i’laamul Muwaqqiin, Ibnul Qayyim berkata:

فإن الفتوى تتغير بتغير الزمان والمكان والعوائد والأحوال، وذلك كله من الله، وبالله التوفيق

“Sesungguhnya fatwa dapat berubah mengikuti perubahan zaman, tempat, adat istiadat dan kondisi. Dan semua itu berasal dari Allah. wabillahittaufiq”.

Tentunya syarat adat istiadat itu adalah tidak bertabrakan dengan dalil dalil syariat. Karena adat istiadat itu bisa menjadi sandaran hukum hanya dalam perkara yang tidak disebutkan batasannya dalam syariat seperti makanan, pakaian, minuman dsb.

Adapun mengikuti pendapat ulama, maka ada dua macam:

    Mengikutinya tanpa mengetahui dasarnya. inilah yang disebut taklid. Namun bagi kaum awam diperbolehkan.
    Mengikutinya dengan mengetahui dasarnya. Ini disebut oleh Ibnu Abdil Barr sebagai ittiba’.

***

Sumber: channel telegram Al Fawaid



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Apakah Ilmu Ushul Fikih Selalu Mengikuti Perkembangan Zaman? | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top