Benarkah Jokowi Keturunan Ulama Besar Di Jawa ?

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer

Politisi senior dari Partai Bintang Reformasi, Zainal Maarif, membeberkan silsilah Jokowi, kader dari PDI-P tersebut, yang sekarang menjabat sebagai Presiden RI. Berawal dari Zainal pula lah, silsilah Jokowi kemudian menyebar di dunia maya, meskipun belum ada yang membahasnya secara lebih mendalam.

Menurut Zainal, yang sama-sama berasal dari Solo, Jokowi adalah keturunan dari Kiai Yahya, salah seorang pengawal Pangeran Diponegoro. Kiai Yahya sendiri adalah putera dari Kiai Abdul Jalal, seorang ulama yang menjadi pendiri tanah perdikan di wilayah Kalioso (daerah selatan utara Solo).

Jika silsilah ini ditarik ke atas, maka Jokowi merupakan keturunan dari Jaka Tarub (Raden Kidang Telakas). Dan Jaka Tarub sendiri adalah (dipercaya) putera dari Maulana al-Maghribi, yang dipercaya sebagai salah satu penyebar agama Islam awal di tanah Jawa. Lalu benarkah Jokowi adalah keturunan dari salah satu penyebar Islam tanah Jawa? Tentu tidak ada yang mengetahui secara pasti.

Namun, ada dua nama yang patut mendapat sorotan, yaitu Jaka Tarub dan Maulana al-Maghribi.

Sebagaimana diketahui, Jaka Tarub adalah nama tokoh salah satu legenda tanah Jawa. Nama itu diabadikan dalam "Babad Tanah Jawi". Menurut "Babad" tersebut, Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang menikahi seorang bidadari bernama Nawangwulan. Pernikahan mereka melahirkan seorang putri bernama Nawangsih. Di kemudian hari, nama Jaka Tarub dipercaya sebagai salah satu leluhur dinasti Mataram dengan gelar Ki Ageng Tarub.

                                                         

Terdapat kesimpangsiuran mengenai Jaka Tarub. Tidak saja dari adanya beberapa versi cerita perihalnya, namun juga diragukan pernah adanya tokoh bernama Jaka Tarub dengan versi cerita layaknya yang tercantum pada "Babad Tanah Jawi". Terlebih "Babad Tanah Jawi" adalah naskah sastra yang terbilang kontroversial, menggabungkan antara sejarah, dongeng dan mitos-mitos.

Salah satunya ialah silsilah Nabi Adam hingga menurunkan raja-raja di tanah Jawa. (Simak artikel "Telusur Babad Tanah Jawi", Bandung Mawardi, yang dimuat pada blog; kabutinstitut).

Sementara mengenai Maulana al-Maghribi, maka nama ini pun tidak lepas dari kesimpangsiuran. Banyak pihak yang menghubungkan nama ini dengan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik-pen), salah satu yang dianggap sebagai bagian dari Wali Songo. Maulana al-Maghribi adalah nama lain dari Maulana Malik Ibrahim.

Sejarawan NU, Agus Sunyoto, menolak anggapan tersebut. Agus menyebutnya dengan kekeliruan sejarah, dengan memberi sebutan Syeikh Maghribi kepada Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Sehingga timbul asumsi bahwa tokoh yang bersangkutan adalah tokoh yang asal keturunannya berasal dari "Maghrib" (Maroko-pen). (Lihat "Wali Songo, Rekontruksi Sejarah yang Disingkirkan", Agus Sunyoto).

Selain itu, menurut Agus, kekurang tepatan juga terjadi pada "Babad Tanah Jawi", yang disunting oleh J.J Meinsma, yang menyamakan Syeikh Maulana Malik Ibrahim dengan Syeih Ibrahim as-Samarqand, sehingga menimbulkan kesan bahwa tokoh bersangkutan berasal dari Samarqand. Satu-satunya sumber yang mendekati akurat mengenai Syeikh Maulana Malik Ibrahim adalah pembacaan atas tulisan pada prasasti makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim, yang dilakukan oleh pembaca "epigraf" asal Prancis, J.P Moquette.

Disebutkan bahwa almarhum bernama al-Malik Ibrahim, yang wafat pada hari Senin, 12 Rabiulawal 822 H (8 April 1419). Beliau berasal dari Kashan (bi kashan), sebuah tempat di Persia (Iran). Berkaitan dengan hal ini, ada suatu artikel yang menulis mengenai dugaan adanya Wali Songo yang bermazhab Syiah. Bahkan ada dugaan, Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah Islam madzhab Syiah. Dengan demikian, versi yang menyatakan bahwa syeikh Maulana al-Maghribi bukanlah Syeikh Maulana Malik Ibrahim, dapat dipercayai.

Walhasil, terlepas dari benar-tidaknya silsilah Joko Widodo, maka Alquran telah menegaskan bahwa yang menjadi pembeda antar setiap individu adalah takwanya. Hadis juga menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah memandang apapun dari seseorang, melainkan yang dilihat oleh Tuhan adalah ketakwaannya. Pada diri Jokowi, maka yang harus kita lihat adalah kinerjanya, dan bukan silsilahnya.
sumber : islamsejati.com 


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Benarkah Jokowi Keturunan Ulama Besar Di Jawa ? | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top