Buat Orang Lain Tertawa, Dengan Risiko Tinggal di Neraka?

Baca Juga 



http://1.bp.blogspot.com/-kQhWm9iBIIo/T-3ZTMhC0_I/AAAAAAAAADA/LThD3cRzcQw/s1600/smileyballs2.jpg

HIDUP ini tak perlu dibawa tegang. Santai saja tetapi tetap pokus pada tujuan akhir hidup kita. Ya, kita bisa saja serius dalam hal-hal tertentu yang menjadi penentu kemajuan hidup. Tapi, tak ada salahnya jika kita menyelinginya dengan sebuah canda tawa. Dengan begitu, urat-urat kita pun tidak selalu tegang, melainkan menjadi lebih rileks.

Rasulullah ﷺ pun pernah melakukan candaan. Sebagaimana yang dilakukannya pada seorang nenek tua. Nenek tua itu datang berkata, “Doakan aku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memasukkan ke surga.” Maka Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua.” Nenek itu pun menangis karena ia memahami apa adanya.

Kemudian Rasulullah memahamkannya bahwa ketika dia masuk surga tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik. Rasulullah ﷺ membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta dan sebaya umurnya,” (QS. Al-Waqi’ah: 35-37).

http://1.bp.blogspot.com/_5iIwvTs0RVE/TMWO1kh1BbI/AAAAAAAAAgA/QQ1b4xYdIO4/s320/neraka.jpg

Hanya saja, canda yang dilakukan kebanyakan orang sekarang ini terlalu berlebihan. Mereka melakukan candaan agar orang-orang menertawakannya, bagaimana pun caranya. Ia tidak melihat kandungan kalimat yang ia ucapkan atau makna yang disampaikan. Ia lupa dengan sabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan sesuatu pembicaraan dengan maksud supaya membuat orang lain tertawa, maka termasuk orang yang berkeinginan tinggal di neraka, yang jaraknya lebih jauh dari bintang di angkasa,” (HR. At-Tirmidzi).

Lantas, canda seperti apa yang diperbolehkan?

Canda, tawa dan hiburan diperbolehkan dalam syariat. Akan tetapi, ia hanya untuk membuat rileks dan harus memperhatikan hal-hal berikut.

1. Jangan melewati batas dan jauhilah menyakiti dan menghina.
2. Jauhilah kata-kata kotor dan kata-kata yang buruk.
3. Jangan jadikan bercanda sebagai tujuan.

Kadang-kadang bagi sebagian orang bercanda mempermudah untuk berbohong. Ia menyangka boleh berbohong dalam bercanda. Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Celakalah orang mengatakan sesuatu supaya ditertawakan orang-orang, kemudian ia berbohong, celakalah baginya,” (HR. Tirmidzi).

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Daftar Artikel Terbaru Lainnya 




" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top