Ustadz Felix Siauw : Kafir Itu Istilah, Iman Juga Istilah

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer
Kafir berasal dari bahasa Arab ka-fa-ra, yang artinya menutup. Sedang “Kafir” sendiri artinya orang yang menutup. Sebelum Islam, istilah Kafir digunakan untuk menyebut petani di Arab.
Mengapa sebelum Islam, Kafir = Petani? Sebab kerjaan petani adalah menutupi benih dengan tanah agar bisa tumbuh. Tapi setelah datang Islam, istilah “Kafir” menjadi istilah syar’i.

Dalam istilah syar’i, “Kafir” definisinya adalah orang yang menutup diri dari kebenaran Islam, Al-Qur’an sendiri mendefinisikan kafir adalah golongan ahlu kitab dan orang-orang musyrik – QS 98:6.
Artinya, pengistilahan Muslim-Kafir ini adalah bagian dari Al-Qur’an, konsekuensi logis dari adanya keimanan. Sebagaimana surga-neraka, pahala-siksa, taat-maksiat, jujur-dusta, dan sebagainya.
Maka saat seorang Muslim membaca Al-Qur’an, ya istilah itu tidak bisa dihindari, sebab sudah menjadi bagian dari syariat, yang istilah ini juga tak bisa dihindarkan dari konsekuensi hukumnya.
Maka tidak bisa ketika seorang Muslim dipaksa tidak menggunakan kata “Kafir”. Sebab itulah istilah yang Allah kenalkan di dalam Al-Qur’an dan juga istilah Rasulullah yang beliau sampaikan pada kita.
Walau sebagian ulama juga lebih suka menggunakan kata “selain Islam”, atau bahasa Indonesianya “non-Muslim”, tapi apa definisi non-Muslim? Yaitu kafir, itu sudah jelas.
Hanya perlu dijelaskan, bahwasanya ketika istilah “Kafir” ini digunakan, bukan berarti kita diperintahkan membenci semua kafir. Tidak begitu Rasulullah mencontohkan pada ummatnya.
Toh kita saksikan, Rasulullah masih memperlakukan semua manusia sama, sama-sama tolong menoling dalam kebaikan, tetap bermuamalah dengan santun, dan berlaku adil pada mereka.
Kafir hanya istilah saja, tidak lebih dari itu. Sedang perlakuan kita terhadap mereka yang kafir, itu tergantung bagaimana posisi mereka dalam timbangan syariat, semua ada aturannya dalam Islam.
Terhadap mereka yang damai dan tidak memerangi kaum Muslim, maka wajib bagi kita memberikan haknya, berlaku adil pada mereka, menjamin ibadah sesuai dengan apa yang mereka yakini.
Bagi mereka yang memerangi kaum Muslim, maka mereka pun diperangi, dan perang di dalam Islam, terikat dengan banyak sekali aturan, agar perang itu tetap dilaksanakan dalam etika syariat.
Andaikata Islam memerintahkan kebencian terhadap orang kafir, tentulah di Indonesia sudah tidak ada lagi orang kafir, tentu di Spanyol, Turki, yang tinggal hanya orang Muslim saja.
Tapi tidak begitu, agama Islam ternyata bukan ditujukan untuk homogenitas penduduk, tapi untuk pluralitas. Syariat Islam mengatur bagaimana Muslim dan selainnya bisa berinteraksi.
Kesimpulannya, ketika Muslim menggunakan istilah “Kafir”, itu bukan bagian rasis, tapi memang agamis. Buktinya, ras saya mongoloid, etnis cina, apakah ada yang bilang saya kafir?
Dan bila kaum Muslim menyerukan bahwa “Haram Pemimpin Kafir” hakikatnya itu adalah nasihat agama, samasekali tidak ada kebencian, sebagaimana kita sampaikan “Khamr haram”, itu saja.
Tapi ya iya, namanya manusia pasti punya perasaan. Dulu sebelum jadi Muslim, saya juga belum mengerti tentang istilah ini, ya tersinggung ketika dibilang “Kafir”, kesannya nggak enak gitu.
Dan bagi saya, disebut kafir itu akhirnya menjadi jalan hidayah. Akhirnya saya mempelajari Islam, memahami, dan menerima, bahwa kata “Kafir” itu hanya istilah, bukan bagian kebencian.
Pun orangtua saya, dalam pandangan syariat ya sebutannya kafir. Hanya, apakah itu membatalkan kewajiban lain dari Allah bagi mereka? Birrul walidain? berbakti dan memuliakan mereka? Tidak.
Alhamdulillah, saya sudah jelaskan banyak hal pada orangtua saya, dan mereka memahami istilah dalam Islam ini. Doakan ya, semoga mereka berdua beroleh hidayah Allah, menjadi Muslim taat.
Kalau sudah dijelaskan masih mau maksa juga, nggak boleh pakai istilah “Kafir”. Bukankah justru itu bertentangan dengan hak beragama? Yang justru bagian yang dijamin dalam negara ini?
Begitupun juga saat Muslim menolak kepemimpinan kafir, itu juga bagian agama, bagian syariat, bukan berdasar kebencian ras, suku, atau golongan, tapi hanya bagian dari hukum syariat, itu saja.
Nasihat demi nasihat sudah kita gulirkan setiap saat. Yang Muslim tentu akan berbuat berdasar hukum Allah, sebab mereka tahu Allah akan menghisab setiap amalnya, lisan, tulisan, perbuatan, semua.
Tak bosan kita mengulangi, bahwa dalam Islam, Allah mengharamkan pemimpin kafir dan sistem kufurnya. Dan mewajibkan pemimpin Muslim yang jalankan sistem Islam.
Ustadz Felix Siauw

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Ustadz Felix Siauw : Kafir Itu Istilah, Iman Juga Istilah | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top