Waspadai Adanya Upaya Pembelokkan Opini Tolak Pemimpin NonMuslim

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer

http://2.bp.blogspot.com/-WRJyQxDFBqw/TsSb6KI_b1I/AAAAAAAAAwo/WM21LKU9Zqo/s1600/kp.JPG

Oleh: Wati, SPd
Ibu Rumah Tangga, Aktivis Muslimah HTI Martapura, Kal-Sel

ARUS tolak pemimpin nonMuslim makin membesar bak bola salju. Baik di dunia maya maupun dunia nyata yang dihadiri ratusan hingga puluhan ribu massa. Opini juga semakin mengerucut pada semangat memenuhi tuntutan akidah bukan hanya soal kemaslahatan. Namun nampaknya opini ini kini mulai diserang dengan isu SARA, yang ditujukan untuk menyurutkan keberanian masyarakat dalam menyuarakan.

Tidak cukup sampai di situ, opini inipun mulai terbelokkan dengan munculnya opini-opini penolakan lain yang tidak berdasar pada akidah, sebagaimana yang terjadi Jumat 16 September lalu, ratusan ibu-ibu menggelar aksi di depan Balai Kota DKI, dalam rangka menyampaikan penolakan pada Ahok.

“Rumah saya dihancurkan. Saya tinggal di atas puing, kenapa digusur? Ahok jahat, Ahok kejam,” teriak koordinator pengunjuk rasa, Andi Rini Sukmawati. Mereka menolak Ahok karena menurut mereka pemukiman kumuh bisa ditata, tapi bukan dengan cara digusur (http://www.jpnn.com/raed//2016/09/16/467775/Serba-Pink-Ibu-Rumah-Tangga-Turun-ke-Jalan-Menolak-Ahok).

Juga sebagaimana yang disampaikan Koordinator Lapangan Forum RT/RW se- DKI Lukmanul Hakim mengaku sangat geram dengan berbagai tudingan Ahok yang dialamatkan kepadanya. Dia masih ingat, sikap Ahok yang kerap menuding pengurus RT/RW hanya mengambil jatah uang sampah dan keamanan, tetapi tak mau bekerja (http://www.republika.co.id/berita/koran/urbana/16/09/17/odnlm2406-demo-tolak-ahok-meluas).

Sebagai muslim seharusnya setiap amal kita memiliki landasan yang bersumber dari syariat Islam, penerimaan ataupun penolakan kita terhadap sesuatu pun harus atas dasar syariat. Ketika Islam menetapkan syarat sah untuk seorang pemimpin maka kita wajib menolak pemimpin yang tidak memenuhi syarat berdasarkan ketentuan tersebut, semata karena ketaatan, bukan karena pertimbangan mudarat atau manfaat semata.

Meski benar bahwasanya Ahok selama ini banyak berlaku buruk pada rakyat namun tetaplah bukan itu yang menjadi alasan penolakan kita. Karena makna buruk itu sendiri jika disandarkan pada penilaian manusia pasti akan ditemukan perbedaan.


Termasuk penggusuran yang dilakukan Ahok, buruk bagi rakyat kecil khususnya yang terkena gusur namun belum tentu bagi yang lain, bisa saja mereka menganggap Ahok justru berhasil dalam mengelola tata kota yang awalnya semrawut menjadi rapi dengan adanya penggusuran.

Pun demikian yang sekarang merasa dirugikan bisa saja berubah pikiran jika misalnya Ahok mendatangi mereka lalu memberikan dana pengganti yang cukup besar untuk mereka. Jika sudah begitu, maka suara penolakan sangat bisa berubah pada dukungan kuat pada Ahok. Karenanya harus disadari bahwa penolakan yang harus kita suarakan harus sama yaitu karena tuntutan aqidah, konsekuensi keimanan. Bukan selainnya.

 
http://blog.umy.ac.id/akbar/files/2010/11/internet-television-300x272.jpg

Sebagai muslim sudah sepatutnya menjadikan ridho Alloh sebagai satu-satunya tujuan hidup, bukan kesenangan atau kemaslahatan semata. Namun yakinlah bahwa ketika Alloh ridho maka keberkahan hidup pun akan kita raih, sebagaimana janji Alloh “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’râf [7]: 96).

Dan yang terpenting harus kita sadari bahwa orang nonMuslim bisa jadi pemimpin di negeri ini karena 4 hal. Adanya orang nonMuslim yang mencalon, adanya partai yang mengusung, adanya masyarakat yang memilih dan adanya aturan yang membolehkan 3 hal tersebut. Dan aturan tersebut lahir dari sistem demokrasi sekuler yang diterapkan negeri ini.

Jadi selain menyuarakan tolak pemimpin nonMuslim yang terpenting juga adalah kita harus menyuarakan dengan selantang-lantangnya menolak sistem yang melahirkan aturan tersebut, yang memberi peluang berkuasanya orang nonMuslim di negeri ini. Hanya dengan mengganti sistem demokrasi dengan sistem pemerintahan Islam sajalah yang mampu menutup rapat peluang terpilihnya orang nonMuslim menjadi pemimpin dan sekaligus menjaga pemimpin yang terpilih kelak terbebas dari dosa pelaksanaan hukum-hukum kufur yang bersumber dari selain Alloh SWT. Yang sudah jelas ditegaskan dalam QS.al-An’am:57 ”Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”. Allohu a’lam bish showwab. 


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Waspadai Adanya Upaya Pembelokkan Opini Tolak Pemimpin NonMuslim | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top