Gejala-gejala Kejatuhan Jokowi-Ahok Mulai Terlihat. Ini Penyebabnya

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer
Dikutip dari webresmi Jonru.com, berikut Gejala-gejala Kejatuhan Jokowi-Ahok Mulai Terlihat. Ini Penyebabnya.

Beberapa bulan lalu, saya sempat diskusi dengan sejumlah teman di Jakarta, mengenai Ahok dan Jokowi. Kesimpulan kami: Mereka ini sangat kuat. Dari segi logika manusia tak mungkin dikalahkan. Sebab mereka dibeking oleh investor raksasa yang kekuatan mereka sangatlah besar.



Investor raksasa?
Ya. Teman-teman tentu masih ingat posting saya di Fan Page JONRU beberapa waktu lalu, mengenai investor tersebut. Silahkan dibaca di sini.
Intinya, untuk mencalonkan diri jadi pemimpin itu butuh modal besar. Bisa triliyunan rupiah. Modal tersebut antara lain digunakan sebagai biaya kampanye yang anggarannya memang bisa triliyunan.
Bagi calon pemimpin yang uangnya banyak, tentu modal tersebut tidak masalah. Contohnya saat Prabowo jadi Capres 2014. Dia bisa membiayai sendiri kampanye-nya. Sebab dia aslinya emang udah kaya raya.
Beda halnya ketika Jokowi dan Ahok mencalonkan diri. Memang sih mereka kaya. Tapi belum cukup kaya untuk mendanai sendiri biaya kampanye. Karena itulah, mereka butuh dukungan para investor.
Jadi jika selama ini ada isu 9 naga di balik Jokowi, itu sebenarnya bukan isapan jempol semata. Lagipula, bukankah Ahok juga pernah berkata bahwa Jokowi tidak mungkin jadi presiden tanpa dukungan dari para pengembang alias investor? Kwik Kian Gie pun pernah membahas soal 9 naga tersebut.
Bahkan dari kasus Reklamasi Jakarta, terlihat banget bahwa Jokowi dan Ahok sangat disetir oleh para investor. Sebab mereka sangat ngotot untuk meneruskan reklamasi, padahal terbukti proyek tersebut tidak ada manfaatnya untuk rakyat. Hanya merusak lingkungan, hanya menguntungkan para investor.
Bahkan, Rizal Ramli pun langsung dipecat sebagai menteri, setelah dia mengkritisi reklamasi. Kejadian ini makin menguatkan dugaan bahwa pemerintahan Jokowi dan Ahok memang berpihak pada investor, bukan pada rakyat. Karena selama ini mereka disponsori oleh para investor tersebut.

Gejala lainnya terlihat dari SIKAP MEGAWATI: Aslinya Ibu yang satu ini masih sangat ambisius untuk jadi presiden. Aslinya, dia tidak suka pada Jokowi, karena Jokowi di PDIP memang bukan siapa-siapa. Terbukti dari pernyataan Megawati, “Jokowi, kamu hanya petugas partai.” Ini artinya beliau belum ikhlas dalam mendukung Jokowi sebagai presiden.
Tapi kenapa Megawati tetap mendukung Jokowi, juga mendukung Ahok? Tak lain dan tak bukan karena adanya desakan dari para investor tersebut.
Para investor ini tentu punya kepentingan di Indonesia. Intinya: Jika Jokowi dan Ahok berhasil menjadi pemimpin, maka mereka tentu menagih janji. MINTA BAGIAN, sesuai kesepakatan.
Karena beking dari para investor inilah, maka selama ini Jokowi dan Ahok terlihat sangat kuat. Banyak rakyat yang membenci mereka, tapi mereka seperti tak tersentuh. Tak tergoyahkan. Contohnya pada kasus Sumber Waras: Bukti korupsi sudah sangat terang-benderang, namun KPK tidak berani menangkap Ahok dan berdalih pakai alasan konyol, “Tidak ditemukan niat jahat.”
Padahal jika pejabat lain yang melakukan hal serupa dengan Ahok, pasti sudah mendekam di Sukamiskin.
* * *
Saya secara pribadi pun sempat pesimis. Dari segi logika manusia, rasanya tidak mungkin paslon Anies-Sandi atau Agus-Silviana bisa mengalahkan Ahok-Djarot. Memang sih, elektabilitas si petahana ini makin melorot. Mayoritas rakyat Jakarta tidak menghendaki mereka. Namun kuatnya beking dari para investor mengakibatkan mereka terlihat sangat kuat dan tak terkalahkan.
Bahkan ketika Ahok dan Djarot ditolak di mana-mana, kehadiran mereka sangat dikawal dengan sangat ketat, karena takut diserbu massa, namun mereka tetap saja mencalonkan diri. Padahal dengan situasi seperti itu, rasanya tidak mungkin jika mereka menang. Tapi kenapa mereka tetap nekat mencalonkan diri? Ya tentu saja karena adanya beking yang sangat kuat dari para investor tersebut.
Maka, rakyat pun makin pesimis. Jokowi dan Ahok sangat kuat. Secara logika manusia, rasanya tidak mungkin mengalahkan mereka.
Namun alhamdulillah, ternyata sekuat-kuatnya manusia, Allah Maha Kuat. Manusia bisa membuat tipu daya, namun Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya. Silahkan baca tulisan saya yang berjudul “Ketika Allah Membalas Tipu Daya Mereka”.

Kekuatan mereka yang sangat besar tersebut, akhirnya berhasil diruntuhkan dengan sangat mudah, hanya melalui sebuah insiden “keceplosan ngomong” di Kepulauan Seribu, bulan September 2016 lalu.
Saya sudah nonton video lengkapnya. Dari situ saya menyimpulkan bahwa sebenarnya Ahok sejak awal tidak berencana untuk mengucapkan kata “dibodoh-bodohi pakai Al Maidah 51”. Dia hanya keceplosan, alias khilaf.
Namun bukan berarti saya membela Ahok dengan dalih keceplosan alias khilaf. Ngapain juga membela dia, hehehe…
Kita semua pasti paham, bahwa ucapan yang keluar dari sebuah insiden KECEPLOSAN sebenarnya adalah isi hati dan isi pikiran yang sudah lama terpendam, namun selama ini tidak berani diucapkan karena berbagai macam pertimbangan.
Jadi intinya: Keceplosan Ahok tersebut sebenarnya dengan sangat jelas menggambarkan rasa bencinya terhadap Islam, yang selama ini berusaha ia tutup-tutupi.
Dan ternyata, seperti itulah cara Allah membalas tipu daya mereka:
Setelah muncul kasus Al Maidah 51, maka umat Islam pun bersatu dan bergerak melawan Ahok. Rasanya gerakan massal umat Islam ini benar-benar tak terbendung.

Dan di sinilah awal dari hancurkan kekuatan yang sangat besar tersebut. Sebab Jokowi dan Ahok berada pada situasi yang sangat dilematis.
Demi kepatuhan pada hukum, sebenarnya Jokowi bisa saja membiarkan Ahok diproses secara hukum, lalu dibiarkan masuk penjara. Namun jika ini terjadi, maka Ahok akan buka mulut mengenai Kartu AS Jokowi. Jika Kartu AS Jokowi terbongkar, maka dalam waktu singkat Jokowi akan lengser.
Jika Jokowi melindungi Ahok, alias Ahok tidak diadili juga secara hukum, maka itu pun tetap berbahaya. Sebab umat Islam yang awalnya hanya marah pada Ahok, kini akan marah pada Jokowi juga. Dan peristiwa 1998 bisa terulang lagi. Dengan kata lain, Jokowi tetap akan lengser.
Sampai di sini, kita semua sudah bisa melihat dengan jelas, BETAPA DILEMATISNYA posisi Jokowi dan Ahok saat ini. Seperti makan buah simalakama:
Jika Ahok diadili, maka Jokowi akan lengser. Jika Ahok tidak diadili, maka Jokowi tetap akan lengser.
Dan jika Jokowi lengser, maka giliran dia pula yang akan membeberkan Kartu AS Ahok. Maka, perang antar mereka pun tak terhindarkan. Para investor pun kecewa, karena modal yang telah mereka tanamkan pun terbuang sia-sia. Rencana mereka untuk menjadikan Ahok sebagai Presiden RI 2019 pun gagal dengan segagal-gagalnya.
Nah, bagaimana kelanjutan nasib mereka setelah ini?
Mari kita tunggu saja kelanjutan ceritanya. Yang jelas, saat ini Jokowi dan Ahok sedang gelisah tak karuan, mengalami ketakutan yang luar biasa. Dan ini semua akibat ulah mereka sendiri.
Maka, seperti inilah cara Allah membalas tipu daya mereka. Allah Maha Kuat, Maha Kuasa, Maha Pembalas Tipu Daya.
Barang siapa menghina Al Quran, maka Allah pun akan menghinakannya.
Dari segi logika manusia, mereka tak mungkin terkalahkan, karena yang membeking mereka sangat kuat.
Namun Allah Maha Kuat, Tak Ada yang Tak Mungkin BagiNYA. Allah Adalah  Sebaik-baik Pembalas Tipu Daya.
Kita para rakyat tak perlu repot-repot menumbangkan atau mengkudeta mereka. Nanti Insya Allah mereka sendiri yang akan melengserkan  diri sendiri, gara-gara ulah sendiri.
Dan semuanya ini berawal dari peristiwa di Kepulauan Seribu. Allah memang sudah merekayasa agar Ahok khilaf bicara, karena itulah wasilah yang digunakan oleh Allah untuk membalas tipu daya tersebut.
Jakarta, 27 Oktober 2016
JONRU

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Gejala-gejala Kejatuhan Jokowi-Ahok Mulai Terlihat. Ini Penyebabnya | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top