Hukum Meminta Jaminan Setelah Pinjaman Macet

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer

penukaran-uang

Pertanyaan:
Bismillahirahmannirrahim
Assalamu ‘alaikum

Saya saat ini sedang merintis usaha pembuatan furnitur. Di dalam usaha ini, saya bekerjasama dengan sebuah lembaga yang memberikan fasilitas kredit yaitu pembelian bahan baku dengan pembayaran cicilan (dalam bentuk barang/bukan uang). Lembaga ini mengirimkan bahan baku kepada saya dan saya membayarnya/mengangsurnya kemudian sesuai dengan perjanjian.

Pada awal mulanya lancar, masalah mulai timbul ketika tagihan saya ke konsumen macet (ada kendala teknis) dan tentunya berdampak kepada lembaga tersebut. Lembaga tersebut pun sudah tabayyun ke konsuman langsung perihal kemacetan ini. Perlu diketahui bahwa nilai hutang saya lebih kecil daripada piutang yang saya miliki.

Alhamdulillah. Lembaga syariah ini memang sejak akad awal tidak mengenakan bunga keterlambatan atau sejenisnya. Tetapi mengingat kemacetannya, dikemudian hari mereka meminta semacam surat berharga sebagai jaminan. Apabila terus macet berkepanjangan akan mereka  menjual harta tesebut sebagai pembatar piutang mereka.

 http://3.bp.blogspot.com/-vImK8nP67A8/VQjs_-HbtNI/AAAAAAAAA2U/ZcfJ-cSnikw/s1600/pinjaman%2Buntuk%2Bpelajar%2Bdan%2Bmahasiswa.jpg

Pertanyaannya:

1. Apakah meminta jaminan setelah macet (di luar akad awal) seperti ini dibenarkan oleh syariat? Apa harus saya serahkan?

2. Bolehkah jaminan itu (yang sebelumnya tidak ada dalam akad jual beli) dijual oleh lembaga tersebut sebagai pengganti piutang mereka?

3. Mohon nasihat dari Ustadz,  apa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya dalam kondisi saya seperti ini. Afwan Ustadz, jujur saja saya sebelumnya hanya terbiasa menghadapi teksayan (pajak) dalam posisi sebagai pegawai, dan ketika sekarang memiliki usaha sendiri saya kaget dan agak depresi.

Terima kasih Ustadz atas jawaban dan nasihatnya.
Jazakallahu khairan

Abu Fathia – Serpong

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Meminta jaminan setelah akad berlangsung dibenarkan asalkan disepakati oleh kedua belah pihak. Dan bahkan bila memang debitur/pengutang tidak mampu memenuhi kewajibannya pada waktu yang disepakati kecuali dengan menjual sebagian asetnya, maka menjual aset tersebut hukumnya wajib. Karena walaupun tidak memiliki uang tapi punya aset yang bisa dijual berarti dia mampu dan menunda pembayaran padahal mampu termasuk tindak kezhaliman.

Wassalamu’alaikum

Dijawab oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Baderi



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Hukum Meminta Jaminan Setelah Pinjaman Macet | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top