Ketahuilah, Inilah Nikmat Terbesar Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer
http://4.bp.blogspot.com/-C3U4YbaM0uQ/ULVLfwoOh_I/AAAAAAAABKA/32rB4i78tzw/s1600/Cara+mensyukuri+nikmat+Allah+swt.jpg

TENTU kita merasakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan nikmat yang begitu banyak pada kita. Mulai dari segala apa yang melekat pada tubuh kita hingga yang berada di sekitar kita. Semua itu pemberian dari Allah. Kita hanya menggunakannya saja, tanpa harus memikirkan bagaimana dahsyatnya pembuatan alam semesta ini.

Tapi, tahukah Anda, bahwa diri kita masih tidak akan merasakan nikmat hidup di dunia meski sudah memiliki segalanya? Ya, sebab, nikmat terbesar Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hal yang paling penting. Nikmat apa? Ialah nikmat iman, nikmat paling besar yang diberikan Allah. Apakah itu?

Iman secara bahasa menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin adalah pengakuan yang melahirkan sikap menerima dan tunduk. Kata beliau makna ini cocok dengan makna iman dalam istilah syari’at. Dan beliau mengkritik orang yang memaknai iman secara bahasa hanya sekadar pembenaran hati (tashdiq) saja tanpa ada unsur menerima dan tunduk. Kata ’iman’ adalah fi’il lazim (kata kerja yang tidak butuh objek), sedangkan tashdiq adalah fi’il muta’addi (butuh objek) (Lihat Syarh Arba’in, hal. 34). Sedang, menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan).

Hal utama yang harus dimiliki ialah iman pada Allah. Dari pengertian itu, dapat diketahui bahwa iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.

Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.


http://4.bp.blogspot.com/_MguJHBLntYE/SxdoPKG61vI/AAAAAAAAABA/gSsevrlR_-I/s320/62.jpg

Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar umat manusia beriman kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh,” (QS. An Nisa: 136).

Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.

Maka tak heran jika iman termasuk dalam kategori nikmat. Allah memberikan petunjuk pada kita tentang suatu kebenaran dan kita mengimaninya, maka inilah nikmat terbesar dalam hidup. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mempertahankan keimanan yang kini bersarang di dalam hati. Tentunya jangan hanya diyakini, tapi ucapkan pula dengan lisan, dan buktikanlah keimanan kita dengan melakukan perbuatan yang sesuai dengan ketentuan Islam. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Ketahuilah, Inilah Nikmat Terbesar Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top