Mengapa Marwah Daud Ibrahim Memilih Jadi Pengikut Dimas Kanjeng?

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer

https://1.bp.blogspot.com/-fIHByq7vkXU/V_YYjKen29I/AAAAAAAAAVY/AWym07MfkrQgyWzl742G8eVmlT2Pkay2QCLcB/s640/030459700_1475670415-marwah_1.jpg

Oleh: Mirna Ina
 
BELAKANGAN ini masyarakat Indonesia dihebohkan oleh kasus Taat Pribadi, pendiri Padepokan Dimas Kanjeng dari Probolinggo, Jawa Timur,. Sosok Dimas Kanjeng memikat ribuan orang dengan kemampuannya mengeluarkan perhiasan dan mendatangkan bertumpuk-tumpuk uang.

Tidak aneh jika banyak orang yang berdatangan ke padepokannya untuk menjadi pengikutnya, seperti yang disebutkan dalam pokussulsel.com 2/10/2016 “Info yang diperoleh, di Sulawesi Selatan sendiri ada mencapai 2.180 orang semua terindikasi menjadi korban penggandaan uang di padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi…” ungkap Kombes Frans Barung Mangera.

Sumber lain pun menyebutkan bahwa banyak orang yang menjadi pengikut Dimas Kanjeng ini mulai dari rakyat biasa, anggota TNI/Polri, sampai akademisi. (liputan6.com, 2/10/2016). Bahkan ketua yayasan padepokannya adalah Marwah Daud Ibrahim, seorang doktor lulusan Amerika sekaligus pengurus ICMI dan MUI. Di mata pengikutnya, apa yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng adalah karomah bagi seorang waliyullah.

Kepada polisi, Taat mengaku bisa menggandakan uang dengan ilmu yang dimilikinya. Namun Taat gagal menunjukkan keahlian itu di hadapan polisi. Dia mengaku kegagalannya disebabkan jin yang membantunya telah pergi karena terkena gas air mata yang ditembakkan polisi saat penangkapan dirinya.(tempo.co.id, 29/09/2016).

Berdasarkan pernyataan Taat tersebut, benarlah bahwa yang terjadi pada kemampuan Dimas Kanjeng bukanlah suatu karomah. Karomah dalam islam, merupakan kejadian luar biasa yang bertentangan dengan keteraturan alam semesta (nizhâmul-wujûd) yang terjadi pada orang shalih misalnya pasukan yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash ra. yang mampu berjalan di atas Sungai Tigris, sebaliknya jika terjadi pada orang yang kerap melakukan kemaksiatan maka itu disebut dengan istidrâj (Profesor Rawwas Qal’ahji dalam Mu’jam al-Lughah Fuqaha).

Pada kasus ini seseorang yang melakukan sesuatu dengan meminta bantuan jin maka perbuatannya termasuk sihir dan hukumnya haram. Dalam kitab Al-Mawsû’ah al-Fiqhiyyah dikatakan, setiap permohonan bantuan (istighotsah) yang dilakukan bukan kepada Allah SWT adalah terlarang; di antaranya adalah istghotsah kepada bangsa jin. Apalagi sebenarnya jin tidak memiliki kemampuan dan malah bisa menyesatkan manusia (Lihat: QS al-Jin [72]: 6).

Berkembangnya kasus Dimas Kanjeng yang telah jelas keharamannya bagi kaum muslim disebabkan oleh kerusakan akidah umat hari ini yang menganut paham sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), masyarakat sudah lupa bahkan tidak sadar lagi bahwa tiap diri masing- masing telah Allah tetapkan rizki padanya.

 
https://2.bp.blogspot.com/-cpdaLautM-8/V-vBEW2QxzI/AAAAAAAAM3I/y4GNwtwa4rE0XrpCTy3XWPbd5kzDRXU1ACLcB/s640/91_marwah-daud.jpg

Agama yang hanya diletakkan saat kita beribadah mahdah saja (seperti solat, puasa, naik haji, dsb) dan hanya diletakkan di masjid-mesjid saja, menjadikan masyarakat bebas melakukan apapun tanpa adanya aturan dari sang Pencipta, pun juga menyebabkan perkara yang tadinya halal menjadi haram dan sebaliknya, sehingga umat pun terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah swt.

Penyebab selanjutnya adalah orientasi masyarakat pada saat ini yaitu materi dan manfaat. Kedua orientasi ini lahir dari penerapan sistem kapitalisme. Saat ini, masyarakat akan melakukan apa saja demi mendapatkan materi sebanyak-banyaknya demi memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Sebagaimana pernyataan dari Katib Syuriah PWNU Jatim Syafrudin Syarif “Saya yakin orang itu di bawah pengaruh gendam. Semua itu terjadi karena pengaruh kapitalisme yang serba pragmatis atau instan, sehingga masyarakat mudah tertipu”, (liputan6.com, 2/10/2016).

Selain itu, penyebabnya adalah saat ini Negara tidak akhirnya melindungi akidah umat muslim, sehingga praktik perdukunan dan paranormal dibiarkan berkembang. Padahal di dalam Islam, tukang sihir harus diberi sanksi keras karena merusak akidah umat. Sabda Nabi saw yang artinya “Hukuman bagi tukang sihir adalah dengan dipenggal lehernya dengan pedang (HR At-Tirmidzi).

Benarlah bahwa untuk mengatasi semua ini adalah dengan mengembalikan kemurnian akidah umat islam, kembali pada agama Allah SWT secara kâffah. Mengganti aturan manusia dengan aturan Allah swt. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang agung, memuaskan akal, sesuai fitrah manusia dan menenteramkan hati. Namun, kesempurnaan dan kemuliaan Islam tak akan dapat dirasakan tanpa penegakkan syariah Islam secara kâffah dalam naungan Khilafah.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Mengapa Marwah Daud Ibrahim Memilih Jadi Pengikut Dimas Kanjeng? | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top