Mengapa Setiap Kasus Terorisme Harus Berakhir Dengan Kematian Tersangka?

Daftar Artikel Terbaru
close
Daftar Artikel Populer



Kematian dari tersangka penyerangan polisi di Tanggerang menyisakan berbagai analisa dan kebuntuan dalam penelusurannya. Serangan golok membabi-buta yang dilakukan Sultan Aziansyah terhadap tiga polisi di Tangerang pekan lalu sedikit banyak tentu meninggalkan ketakutan. Jika tujuannya untuk menebar teror, mungkin dia bisa dikatakan berhasil.

Meski begitu, apakah aksi tersebut murni didasari alasan ideologis?

Tak lama setelah kejadian penyerangan, tepatnya Kamis pagi (20/10), serangkaian informasi dan fakta seputar sang pelaku mulai muncul ke permukaan.

Informasi itu menyebutkan Sultan adalah anggota Daulah Islamiyah atau Ansharu Daulah yang berhubungan dengan Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS. Dia dibaiat pada 2015 oleh jaringan Ciamis.

Jaringan Ciamis berhubungan dengan Aman Abdurrahman dan serangan teror di Thamrin, Jakarta, awal 2016. Dua tokoh sentral yang ada di jaringan ini adalah Hamzah yang sudah diamankan, dan mendiang Fauzan al Anshari.

Hal ini tidak langsung dibenarkan oleh Markas Besar Polri. Saat itu, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan polisi masih berupaya untuk mendalami jaringan sang pelaku.

Namun seperti dikutip pada laman cnnindonesia (24/10/16), faktanya, kala itu polisi langsung menduga Sultan yang belakangan meninggal dunia karena terkena timah panas dan kehabisan darah adalah pelaku tunggal. Tidak ditemukan petunjuk yang mengarah pada keterlibatan peran pembantu atau aktor intelektual di belakangnya.

Merunut pada kronologi versi resmi Polri, dugaan itu wajar. Memang, serangan di tangerang terkesan asal-asalan dan sembrono. Seolah ingin meniru serangan di Thamrin, tapi tanpa persiapan matang.

Beruntung mati syahid

Sultan melemparkan bom pipa ke arah polisi sebelum membabi buta menyerang menggunakan senjata tajam. Bom itu tidak meledak dan hanya menunjukkan bagaimana kualitas rakitannya yang tidak mumpuni.

Lagipula, bom dan senjata tajam –yang tentu hanya bisa digunakan dalam jarak pendek– jelas bukan padanan yang pas, kecuali jika si pelaku sengaja ingin melukai diri sendiri dengan meledakkan bom di dekat tubuhnya sendiri.

Hal itu pun tidak mungkin dilakukan oleh teroris yang sudah terdoktrin janji mati syahid. Jika alasan ideologis adalah dasar Sultan melakukan serangan, maka dia akan melakukan aksi bom bunuh diri.

Dia tidak akan melakukan aksi yang berisiko membuat dirinya tertangkap karena luka-luka akibat perbuatan sendiri. Maka bom itu tidak akan dia lemparkan, tapi dia pasangkan di tubuhnya, dan diledakkan bersama para polisi yang jadi sasaran.

Akhirnya, Sultan menerima tiga tembakan. Dua peluru bersarang di paha dan satu di perutnya. Setelah sempat menerima perawatan sembari diinterogasi di RSUD Tangerang, dia meninggal dalam perjalanan ke RS Bhayangkara Kramat Jati Jakarta.

Jika memang dia ingin mati syahid, maka kematiannya ini dapat dikatakan datang semata karena keberuntungan. Seandainya tidak ada peluru yang menyasar perut pria pengangguran berusia 22 tahun itu, mungkin nyawanya masih bisa diselamatkan.

Buat apa stiker ISIS?

Di tempat kejadian perkara, tersisa tanda-tanda yang menarik: gambar tempel atau stiker bergambar logo ISIS tertempel di tiang pos polisi yang diserang oleh Sultan.

Berdasarkan informasi awal yang diperoleh, pelaku diduga menempelkan terlebih dulu stiker itu di pos polisi sebelum melakukan penyerangan. Namun, hal tersebut tidak langsung dapat dipastikan oleh Kepolisian.

Boy Rafli yang menggelar konferensi pers tak lama setelah Sultan berhasil dilumpuhkan, mengatakan Kepolisian masih mendalami soal stiker tersebut. Dia mengatakan, logo ISIS itu bisa jadi sudah ada di sana terlebih dulu, bisa juga ditempelkan oleh pelaku.

Namun, kejadian pelaku menempelkan stiker di pos polisi, jelas tidak disebutkan dalam kronologi resmi versi Kepolisian.

Hal ini sesuatu yang terbilang baru. Biasanya, pelaku serangan teror tidak membawa atribut semencolok itu. Lambang ISIS lebih banyak ditemukan pada sarang teroris yang digerebek polisi.

Sementara keterlibatan jaringan teroris pada sebuah aksi, biasanya baru diketahui lewat investigasi atau klaim kelompok pascaserangan. Lagi-lagi, bagi seorang teroris yang hendak beraksi, menyempatkan diri menempelkan stiker hanya memperbesar risiko dia lebih dulu ditangkap.

Apakah Sultan sengaja ingin menunjukkan bahwa dia adalah anggota ISIS dan karenanya merelakan dirinya ditangkap oleh Thogut? Ataukah stiker itu sudah ada lebih dulu di sana dan tidak disadari oleh siapapun?

Kedua kemungkinan itu sama-sama terasa janggal. Jika memang dia bergerak dalam struktur yang besar, atau ditunjuk sebagai ‘pengantin’ oleh organisasinya, tak perlu dia membawa atribut seperti itu.

Dua faktor pendukung

Setelah Sultan dipastikan meninggal dunia, beberapa hal diungkapkan Kepolisian. Pertama, pelaku teror itu adik kandung anggota polisi. Kedua kakaknya bekerja di Kepolisian Resor Tangerang.

Bahkan, terungkap dari pernyataan para tetangga, Sultan pernah mendaftarkan diri untuk jadi anggota polisi. Namun upaya itu gagal. Hingga akhir hidupnya, dia tak punya pekerjaan tetap.

Hal ini mencuatkan dugaan motif pribadi bahwa ia membenci polisi karena sakit hati. Hanya saja, hal ini sulit untuk dipastikan. Belum lagi, Polri juga kemudian membenarkan bahwa Sultan adalah anggota jaringan Ansharu Daulah.

Meski sudah terkonfirmasi bahwa Sultan anggota jaringan teroris, belum dapat dipastikan apakah serangan yang dia lakukan dilaksanakan secara terstruktur berdasarkan garis komando dan bermotif ideologis, atau aksi sporadis/individualistis.

Sementara itu, pengamat terorisme Harits Abu Ulya menilai aksi penyerangan aksi Sultan sama sekali tak terkait dengan kelompok tertentu. Aksi itu dilakukan atas inisiatif pribadi atau biasa disebut fenomena lone wolf.

Bahkan bisa jadi pemicunya adalah problem pribadi atau keluarga. Menurut Harits, keyakinan yang dipahami pelaku menjadi semacam legitimasi untuk tindakannya.

Semua pertanyaan ini sulit untuk dijawab karena Sultan keburu tewas. Kasus pun dihentikan demi hukum. Walau demikian, polisi menyatakan akan mengirimkan tim ke Ciamis untuk menelusuri jaringan teroris yang menaungi si pelaku.(iz)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

» Terima Kasih sudah membaca : Mengapa Setiap Kasus Terorisme Harus Berakhir Dengan Kematian Tersangka? | jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)


KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top