Ustadz Felix Siauw : Inilah Sikap Muslim Terhadap Natal

Baca Juga 


 Sahabat-sahabat sekalian, ketika kita memahami Islam, mempelajari Islam, lantas Islam itu mempengaruhi kita, lantas Islam itu mengubah kita. Maka ada hal yang harus kita fahami, bahwa setiap perubahan, bahwa setiap kebaikan itu pasti akan mendapatkan ujian untuk melihat apakah kita serius dalam perubahan itu ataukah tidak. Jangankan orang-orang yang berubah baik, orang-orang berubah jadi jahatpun mereka akan mendapatkan ujian juga. Karena itulah saat seseorang memahami kebaikan, menjalani kebaikan, maka ujian akan menanti kepadanya. 




Inipun yang terjadi pada saya saat 2002 saya mengenal Islam, lalu saya mendapatkan kebenaran, Alhamdulillah. Lalu saya memutuskan untuk mengikuti agama Islam, maka saya pun datang kepada keluarga saya dan bersiap menghadapi ujian apa yang datang kepada saya.


Suatu waktu saya pernah berbicara kepada mereka menjelang hari natal : “Pi, Mi, saya ga bisa mengucapkan selamat natal,  bukan beraeti saya tidak hormat, bukan berarti saya benci dengan Papi dan Mami, tapi inilah prinsip didalam agama saya. Saya mohon untuk dihargai”.


Karena memang didalam Islam sangat menghormati nabi Isa Al Masih atau Yesus Kristus, tapi penghormatan kita pada Yesus Kristus sebatas bahwa dia adalah seorang nabi, yang kita benarkan sebagaimana nabi-nabi yang lain. Tapi mohon maaf apabila berkaitan dengan mengangkat Yesus atau menganggap Yesus sebagai Tuhan, maka kita berlepas dari semua itu.


Masya Allah, banyak sekali kita dapatkan ujian-ujian, mereka marah kemudian mereka berkata : “tapi itukan cuma ucapan saja”. Tentu saya mencoba berbicara : “ya kalau itu cuma ucapan saja, ya kenapa harus marah, toh itu juga cuma ucapan, yang seandainya kalau diucapkan ya tidak ada masalah, kalau tidak diucapkanpun tidak ada masalah, kalau seandainya cuma ucapan”. 


Tapi didalam Islam itu bukan sekedar ucapan, tapi sebuah pengakuan, ketika kita mengucapkan misalnya “Selamat natal”, maka kita mengakui pemahaman mereka, keyakinan mereka bahwa Tuhan Yesus itu menurut pemahaman mereka lahir ditanggal 25 Desember. Ini yang tidak bisa kita lakukan, karena bagi kita Yesus atau Isa Al Masih adalah nabi, bukan Tuhan. Karena itulah kita tidak mengucapkan hal-hal seperti itu, belum lagi banyak fakta-fakta sejarah yang ternyata bertentangan dengan apa yang mereka anggapkan itu.


Nah karena itulah didalam Islam sebenarnya sangat sederhana, toleransi tidak mengharuskan kita untuk lebur, kita memahami, kita mencintai nabi Isa, kita juga meyakini dan mengimani nabi Isa didalam Al-Qur’an. Kenapa, karena memang ini adalah tokoh yang kita diminta untuk senantiasa hormat kepadanya. Tapi bukan berarti kita mengikuti dan lebur kedalam perayaan yang mereka rayakan. Karena didalam Islam, toleransi  sebenarnya sangat sederhana: “lakum diinukum waliyadiin”.


Alhamdulillah keluarga saya menerima, keluarga saya dengan senang hati, mereka memahami bahwa toleransi didalam Islam bukanlah mengikuti daripada aktivitas-aktivitas yang bukan kita yakini. Tapi toleransi adalah melakukan apa yang kita yakini dan membiarkan orang lain seandainya mereka punya pendapat yang lain, punya keyakinan yang lain daripada yang kita yakini. 


Karena itu tidak perlu khawatir ketika mendapati saudara-saudara kita, orang-orang nasrani yang mereka merayakan hari natal, biarkan saja mereka melakukan hari natal mereka, hari raya mereka, kita tidak perlu ikut-ikutan, biarkan saja mereka dengan agama mereka, kita tidak perlu mengikuti. Jangan sampai ada rasa sungkan, ada rasa tidak enak sendainya kita tidak mengucapkan,hanya karena mereka mengucapkan kepada kita, berbeda tentunya. Mengapa, karena didalam Islam ada Syariat, didalam Islam ada tuntunan, didalam Islam ada aturan, dan aturan-aturan itulah yang harus kita pelajari.


Oleh karena itu sebelum kita ikuti, sebelum kita berbuat sesuatu, dengan urusan agama lain, ada baiknya ketika kita mencoba memahami agama kita terlebih dahulu dan melihat apa yang boleh, apa yang tidak boleh. Karena itulah untuk hal ini kita lebih aman, ketika kita berpijak berdasarkan pendapat para ulama.


Para Ulama melalui MUI sudah memberikan sebuah keterangan kepada kita bahwasanya mengikuti, turut serta, berkontribusi dalam perayaan agama-agama lain hukumnya adalah haram. Maka lihat kehati-hatianya, karena ini adalah masalah akidah, maka tidak perlu bagi kita untuk mengikuti perayaan-perayaan mereka, lalu meramaikan perayaan mereka, ikut serta dalam perayaan mereka, termasuk dengan beratribut seperti itu, dengan ucapan-ucapan tidak perlu.


Sekali lagi didalam Islam indah sekali, kita meyakini, lalu kita berbuat sesuai dengan keyakinan kita dan kita tidak memaksa orang lain agar meyakini seperti yang kita yakini. Itulah toleransi. Mudah-mudahan kita memahaminya, lakum diinukum waliyadiin.  


Wassalaamu ‘alaikum Warohmatullahi wabaro kaatuhu.

Ustadz Felix Siauw

Bagi yang ingin menonton videonya dapat mengunjungi link berikut ini:



[islamedia.id]

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Daftar Artikel Terbaru Lainnya 




" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top