Inilah Berita-Berita "HOAX" dan "FITNAH" Seputar Penangkapan Patrialis Akbar

Baca Juga 


  Inilah Berita-Berita "HOAX" dan "FITNAH" Seputar Penangkapan Patrialis Akbar



Penangkapan yang dilakukan oleh KPK terhadap Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar pada Rabu (25/1/2017) malam membuat heboh jagad maya. Beberapa media telah melakukan tuduhan sembrono terhadap Patrialis. Seperti menyebut bahwa Patrialis ditangkap di hotel yang biasa digunakan untuk tempat mesum, dikesankan sedang "indehoi" dengan wanita.

Berikut ini kabar simpang siur dan dusta alias hoax terkait dengan penangkapan Patrialis Akbar oleh KPK.

1. Penangkapan Patrialis di Sebuah Hotel Esek-Esek

Patrialis Akbar awalnya ramai disebut ditangkap bersama dua orang wanita di sebuah hotel di Tamansari, Jakarta Barat.

Namun kabar tersebut terbantahkan. Soal penangkapan di sebuah hotel di Tamansari ternyata penggerebekan oleh BNN, menurut penuturan The Khek King (62) ketua RW 01 Tamansari.
.
“Tidak ada OTT dari KPK di sini, memang ada penggerebekan di BNN, tapi saya ga tau jam berapa,” katanya, seperti dikutip kumparan.

2. Penangkapan Patrialis Berlangsung di Rumah Kost Mewah 

Selain hotel, juga beredar isu penangkapan Patrialis di sebuah kos mewah Gili Residence, Jalan Tamansari Raya nomor 60-62, Tamansari, Jakarta Barat.

Berita ini sempat diposting TEMPO dengan judul "Hakim Patrialis Akbar Disebut Ditangkap di Kos Mewah Ini" (https://m.tempo.co/read/news/2017/01/26/063840082/hakim-patrialis-akbar-disebut-ditangkap-di-kos-mewah-ini)

Namun akhirnya TEMPO meralatnya. Karena ternyata itu berita Hoax.

3. Gratifikasi Seks

Yang ini fitnah luar biasa.

4. OTT (Operasi Tangkap Tangan)

Diberitakan Patrialis Akbar ditangkap kena OTT KPK (Operasi Tangkap Tangan), padahal tidak ada uang yang diamankan saat penangkapan Patrialis Akbar

Dalam konferensi persnya yang digelar KPK pada Kamis (26/1/2017) didapat FAKTA berikut:

1. Patrialis Akbar ditangkap di pusat perbelanjaan Grand Indonesia (Grand Indonesia Shopping Town) di Jakarta sekitar pukul 21.30 WIB. Jadi bukan di hotel esek-esek, kost mewah.

2. Tidak ada indehoi atau perbuatan asusila Patrialis Akbar dengan wanita

3. Dalam konpersnya, Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan mengatakan penangkapan Patrialis Akbar (KPK menyebut dengan inisial PAK), karena: Patrialis Akbar diduga menerima hadiah 20ribu USD dan 200ribu dolar Singapura dalam penanganan judical review/uji materil UU 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) di MK.

KPK menyebut beberapa BUKTI yang diamankan adalah:
- Dokumen pembukuan perusahaan
- Voucher pembelian mata uang asing
- Draft putusan perkara MK No. 129

CATAT! TIDAK ADA UANG YANG DIAMANKAN KPK SAAT PENANGKAPAN PATRIALIS AKBAR. DENGAN KATA LAIN TIDAK ADA OTT ATAS PATRIALIS AKBAR, TAPI HANYA PENANGKAPAN yang dasarnya "Dugaan" menerima hadiah.

YA. DUGAAN. ITU DINYATAKAN LANGSUNG KPK SAAT KONPERS.

Berikut video konpers KPK:


 SIMAK! Ini Analisis Prof. Romli Tentang Rekayasa OTT Patrialis Akbar





Berita penangkapan hakim MK, Patrialis Akbar dalam OTT KPK beberapa hari lalu masih menjadi perbincangan hangat di lini masa.

 Pakar hukum pidana sekaligus perumus UU KPK, Profesor Romli Atmasasmita, menyebut penangkapan hakim MK, Patrialis Akbar, bernuasa politik. Hal tersebut karena Patrialis menyerukan agar warga DKI Jakarta tidak memilih calon gubernur inkumben Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

"KPK sebagai lembaga independen yang tak ada duanya di republik ini sering kebetulan; PA (Patrialis Akbar) ajak tidak pilih Ahok kena OTT; nasibnya sama dengan AU (Anas Urbaningrum) dan LHI (Luthfi Hasan Ishaq)," tulis Romli di akun Twitter-nya @rajasundawiwaha, hari ini, Jumat 27 Januari 2017.


kpk sbg lembaga independen tak ada duanya di republik ini sering serba kebetulan; PA ajak tdk pilih ahok,kena ott; nasibnya sm dgn AU dn LHI
Romli menjelaskan, operasi tangkap tangan KPK bisa menimpa siapa saja, jika yang bersangkutan dianggap melawan.

"Kayaknya suatu saat KPK bisa OTT presiden dan wakil presiden atau pimpinan DPR RI dengan wewenang luar biasanya," kata Romli.

Romli juga menyebut, KPK bisa dengan mudah menangkap siapa pun yang lantang menentang komisi antikorupsi itu.

"Serba kebetulan, seperti OC kaligis yang selalu lantang mengkritisi KPK, saya juga hampir saja," kata Romli.

Romli karena itu meminta agar kewenangan KPK melakukan penyadapan ditinjau ulang.

"Keluarbiasaan KPK dalam OTT lanjutan penyadapan/rekam pembicaraan tanpa izin pengadilan perlu check & balance dan supervisi untuk cegah abuse," tambahnya.

"Praktik OTT dari hasil sadapan memang sukses tapi harus jelas status hak org yang ditangkap," sambung Romli.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
Daftar Artikel Terbaru Lainnya 




" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top