Follow by Email

Kroni Penguasa, Amanah Kekuasaan, dan Teladan Umar bin Abdul Azis

close
Daftar Artikel Terbaru

post-feature-image


Saya tak henti-henti mikir negara. Padahal politisi bukan, pejabat apalagi. Saya rakyat biasa. Karena ilmu cetek, itulah gegabah banget saya bilang negeri ini makin karut-marut.

Entah situasi ini kok ingatkan saya pada Umar bin Abdulazis (UBA). Saat hendak jadi khalifah, negara kisruh salah urus. Karena ingin langgeng, Bani Umayah ber-KKN suburkan “ternak pejabat”. Siapa dekat, dia kuasa. Hukum dan keadilan ambruk. Fitnah meruyak, rakyat pun makin susah.

Kisah diawali mimpi shohibnya. Meski tak gubraaak, UBA tetap menangis. Dalam mimpi itu, Rasulullah SAW berpesan pada Umar bin Abdulazis:"Saat urus umat, lihat kanan kiriku. Di kanan Abu Bakar ra. Di kiri Umar bin Khatab ra."

UBA menangis karena mimpi itu isyarat dia jadi khalifah. Usai dibaiat di Masjid Nabawi, UBA langsung jumpai isterinya: “Wahai Fatimah isteriku, masihkah engkau ingin jadi isteriku? Jika iya, kumpulkan semua perhiasan yang engkau sukai kecuali mahar kawinku. Lalu serahkan ke Baitul Maal”.

Kebijakan kedua, UBA memangkas semua fasilitas yang diterima keluarga Bani Umayah dari negara. Untuk itu Bani Umayah mengirim 'bibi' yang dekat dengan UBA. Apa jawaban UBA: “Jika masih punya waktu, aku akan bawa petinggi Bani Umayah ke pengadilan”.

Betul saja. Pada suatu waktu, datanglah utusan gereja. Dia mengadukan soal penggunaan tanah yang diserobot secara sewenang-wenang. Katanya, “Sebelum anda jadi khalifah, tuanku, sebagian tanah kami diserobot dijadikan masjid."

Maka dengan segera UBA panggil pengurus masjid. Perintahnya terang dan tegas: “Jika tak kembali haknya, kuseret engkau ke pengadilan!"

Suatu saat datanglah rombongan warga yang lain. Saat yang muda hendak bicara, UBA persilakan yang lebih tua. “Tuanku, jika usia jadi ukuran. Tentu masih banyak yang lebih layak jadi khalifah ketimbang tuanku”, ujar utusan yang masih muda belia.

Tak lama datanglah seseorang sambil membawa anggur. UBA minta utusan itu menjual anggur. Hasilnya berikan pada kuda yang terengah-engah dipacu.

UBA mendengar ada pasukan yang dicungkil matanya pertahankan akidah. UBA pun menulis surat pada Kaisar Roma. Isinya: “Jika tak kembalikan pasukanku, maka akan aku kirim pasukan yang belum pernah ada. Panglimaku sudah sampai kota Rum. Tapi ujung pasukanku masih ada di Madinah”.

Suatu malam UBA mengendap-endap di tenda dagang khafilah. “Daerah yang aku lalui dalam kondisi baik. Rakyat bisa hidup lebih baik. Bahkan dengar kabar domba pun tak lagi disergap serigala”, jawab mereka.

Segera UBA menyelinap keluar sambil cucurkan air mata. Jika betul domba tak lagi diterkam serigala, artinya keadilan mulai tegak. Ini sunatullah, misterinya punya Allah semata.

Esoknya dia panggil asistennya. UBA bertanya: “Bagaimanan kondisi umat hari ini yang engkau lihat?”
“Semua baik, kecuali tiga hal. Anak isteri tuanku, kuda tuanku, dan aku pembantu tuanku”, jawabnya. Begitu perhatian pada umat, UBA pun tak konsen pikirkan keluarga, kuda, dan pekerjanya.

Tak lama memerintah, UBA pun dijelang ajal. Kebijakannya memutus fasilitas Bani Umayah, berakhir racun. Pembantunya yang justru meracuni, diiming-imingi seribu dinar.

“Ambil seribu dinar itu, serahkan ke Baitul Maal”, pesan UBA pada pembantunya.

UBA adalah keajaiban, anugerah Allah SWT. Dirinya tegas, adil, dan tak kompromi. Ini tak ditempa dari zuhud. Sebelum jadi khalifah, UBA dilimpahi kemewahan dan kekuasaan. Dari kemegahan itu, UBA justru diantar jadi hamba yang mulya.

Penghasilan sebelumnya 40.000 dinar per tahun. UBA kenakan pakaian termahal, wewangian terhebat, rumah megah, kuda termahal. Tapi ketika menjadi pemimpin dia ubah semua. Tak ada lagi pemasukan tahunan.

Justru ketika jadi penguasa, sosok UBA berubah total. Hartanya yang melimpah kemudian diserahkan ke Baitul Maal. Rumah megahnya kini malah terbuat dari tanah. Singgasananya cuma sepotong kayu yang diletakan di atas tanah. Perubahan ini terjadi pada UBA yang menjadi raja diraja, orang terkaya, dan menggemgam kekuasaan tertinggi dalam usia sangat muada, 35 tahun.

Bahkan ketika ada wanita berkulit hitam yang ingin minta bantuan dan datang ke rumahnya sempat berkata tak percaya bila si tuan rumah adalah pemimpinnya. Katamya, “Mana mungkin saya bisa minta bantuan bangun rumah dari orang yang rumahnya bobrok dan berantakan ini.”

Masa pemerintahan UBA memang singkat, cuma 2 tahun 5 bulan. Dalam masa pendek itu, kemiskinan dihapus. Bukan semua jadi kaya. Tapi penduduk negeri berkata: “Kami ihlas, kami rela punya pimpinan seperti UBA. Kami tak akan lagi meminta-minta. Karena khalifah pun tak lebih baik ketimbang kami.”

Kaya miskin memang bukan tentukan saleh tidaknya. Sejak jadi khalifah, relung hati UBA bergetar: “Siapa yang akan bebaskan aku di hari kiamat dari tuntutan orang kelaparan, rintihan orang sakit, derita perempuan teraniaya ditinggal mati suaminya, dan jeritan anak-anak yatim dan miskin”.

Maka tiap kembali ke rumah, UBA selalu menangis di atas sajadahnya: “Ya Ummati, Ya ummati”. Dari orang yang dulu sempat kaya raya dan kemudian menjadi penguasa (khalifah), UBA wafat dengan hanya meninggalkan 40 dinar saja.

Kabar meninggalnya sang Khalifah pun sampai ke telinga Paus yang ada di Roma (Vatikan). Paus pun menulis surat berisi kesan dia mengenai UBA. Surat itu berbunyi singkat saja: “Telah wafat seorang raja yang amat bijaksana yang pernah ada di muka bumi ini.”

Saya merenung lagi. Mungkinkah di Indonesia lahir seorang pemimpin seperti Umar bin Abdulazis?
Wallahu’alam.
Kebijakan ketiga, UBA memecat dua gubernur. Karena upeti meruah-ruah, dua gubernur ini jadi kesayangan kerajaan. Di mata rakyat, gubernur ini justru biang kerok.

Kebijakan awal copoti hak privellege kerajaan, ini langkah taktis strategis. Benahi organisasi apalagi negara, memang mulai dari atas. Kepala beres, yang lain maaah jadi mudah. “Hebat ini UBA”, saya berdecak kagum.

Kebijakan keempat, UBA terjun ke pasar. Pedagang dibenahi kejujurannya. Korma baik jangan dioplos dengan yang buruk. Ini ingatkan kakeknya, Umar bin Khatab ra, yang selalu sidak pasar. Bukan cuma saat kampanye, bung!

Kebijakan benahi atas dan pasar, otomatis redupkan syahwat curang. Keadilan mulai ditegakkan. Frustasi masyarakat otomatis berganti jadi gairah. Dalam hal KKN, maka Uba pun membaat habis kroni sekelompok orang yang bergelayut di sekitar kekuasaan (kroni penguasa).

Masa pemerintahan UBA memang singkat, cuma 2 tahun 5 bulan. Dalam masa pendek itu, kemiskinan dihapus. Bukan semua jadi kaya. Tapi penduduk negeri berkata: “Kami ihlas, kami rela punya pimpinan seperti UBA. Kami tak akan lagi meminta-minta. Karena khalifah pun tak lebih baik ketimbang kami.”

Kaya miskin memang bukan tentukan saleh tidaknya. Sejak jadi khalifah, relung hati UBA bergetar: “Siapa yang akan bebaskan aku di hari kiamat dari tuntutan orang kelaparan, rintihan orang sakit, derita perempuan teraniaya ditinggal mati suaminya, dan jeritan anak-anak yatim dan miskin”.

Maka tiap kembali ke rumah, UBA selalu menangis di atas sajadahnya: “Ya Ummati, Ya ummati”. Dari orang yang dulu sempat kaya raya dan kemudian menjadi penguasa (khalifah), UBA wafat dengan hanya meninggalkan 40 dinar saja.

Kabar meninggalnya sang Khalifah pun sampai ke telinga Paus yang ada di Roma (Vatikan). Paus pun menulis surat berisi kesan dia mengenai UBA. Surat itu berbunyi singkat saja: “Telah wafat seorang raja yang amat bijaksana yang pernah ada di muka bumi ini.”

Saya merenung lagi. Mungkinkah di Indonesia lahir seorang pemimpin seperti Umar bin Abdulazis?
Wallahu’alam.(rol)

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !
» Kroni Penguasa, Amanah Kekuasaan, dan Teladan Umar bin Abdul Azis

KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Lainnya 

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top