Follow by Email

BIN Larang Anggotanya Berjanggut dan Bercelana Cingkrang

close
Daftar Artikel Terbaru



  Yes  Muslim  - Badan Intelijen Negara (BIN) membenarkan adanya surat edaran terkait larangan bagi anggotanya mengenakan celana di atas mata kaki (cingkrang) dan memelihara janggut.

Direktur Informasi dan Komunikasi Publik BIN, Dawan menjelaskan, aturan tersebut merupakan aturan lama dan berlaku hanya untuk internal BIN. "Khusus untuk pegawai di internal kantor pusat," kata Dawan saat dikonfirmasi SINDOnews, Kamis (18/5/2017).

Dawan mengatakan, BIN mempunyai kode etik yang mengatur tentang seragam dan atribut pegawai BIN. Kode etik tersebut dikeluarkan pada 2011 sejalan dengan terbitnya Undang-undang tentang Intelijen.

Sejak saat itu, imbauan mengenai celana cingkrang dan janggut terus disampaikan secara berkala. Kendati demikian, Dawan menegaskan, surat edaran terkait celana cingkrang dan janggut itu sejatinya hanya menjadi konsumsi internal BIN. 

Dia mengaku heran mengapa surat edaran tersebut bisa bocor. "Kami ini punya seragam, kode etik. Itu khusus konsumsi internal. Bukan untuk publikasi," ucap Dawan.
Surat Edaran yang beredar tersebut bernomor SE-28/V/2017 tentang Larangan Pegawai BIN Memelihara Janggut dan Rambut Panjang Serta Memakai Celana Cingkrang.

Surat edaran tersebut berisi empat poin. Pertama, dasar dikeluarkan surat, yaitu mengindahkan perintah pimpinan BIN, serta keseragaman cara berpakaian dan berpenampilan sebagai pegawai BIN. 

Kedua, pemberitahuan kepada seluruh pegawai BIN khususnya yang setiap hari berdinas di kantor Pejaten agar tidak memelihara janggut dan rambut panjang serta memakai celana cingkrang (celana di atas mata kaki).

Ketiga, meminta para pemimpin satuan kerja dapat menindaklanjuti surat edaran tersebut. Dan keempat penutup. Surat edaran dikeluarkan pada 15 Mei 2017 dan ditandatangani oleh Sekretaris Utama (Sestama) BIN Zaelani.  (sn)






BIN Klarifikasi Larang Pegawainya Berjanggut dan Bercelana Cingkrang




 Badan Intelijen Negara (BIN) mengklarifikasi adanya surat edaran terkait larangan bagi pegawainya mengenakan celana di atas mata kaki (cingkrang) dan memelihara janggut. Pihak menegaskan bahwa aturan tersebut tidak benar.

"Bahwa Surat Edaran tertanggal 15 Mei 2017 dengan Kop Surat BIN yang saya tanda tangani berisikan larangan staf BIN berjenggot dan bercelana cingkrang adalah tidak benar," ujar Sekretaris Utama (Sestama) BIN Zaelani lewat rilis yang diterima SINDOnews, Jumat (19/5/2017).

Untuk meluruskan informasi yang telah menjadi perhatian media massa dan publik tersebut, BIN pun mengeluarkan surat edaran yang benar telah diterbitkan sebelumnya di internal BIN.

"Kami harapkan klarifikasi ini dapat memperjelas keadaan yang sebenarnya. Atas perhatian dan kerja sama yang diberikan kami haturkan terima kasih," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Informasi dan Komunikasi Publik BIN, Dawan membenarkan adanya surat edaran terkait larangan bagi pegawainya mengenakan celana di atas mata kaki (cingkrang) dan memelihara janggut. Aturan tersebut merupakan aturan lama dan berlaku hanya untuk internal BIN.

"Khusus untuk pegawai di internal kantor pusat," kata Dawan saat dikonfirmasi SINDOnews, Kamis 18 Mei 2017. [opinibangsa.id / sn]


MUI Pertanyakan Aturan BIN Larang Pegawai Berjenggot



Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr Asrorun Niam Sholeh mempertanyakan surat edaran Badan Intelijen Negara yang melarang pegawainya memelihara jenggot, berambut panjang dan memakai celana cingkrang atau celana di atas mata kaki.

MUI secara khusus mempertanyakan aturan soal larangan memelihara jenggot.

“Apa urgensi larangan memelihara jenggot? Itu kan tidak terkait dengan estetika. Jenggot tak masalah asal rapi,” kata Asrorun seperti dikutip CNNIndonesia.com, Kamis (18/5).

Larangan bagi pegawai BIN memelihara jenggot, berambut panjang, dan memakai celana cingkrang atau celana di atas mata kaki diatur dalam Surat Edaran bernomor SE-28/V/2017 bertanggal 15 Mei 2017.

Deputi Bidang Komunikasi dan Infomasi BIN, Sundawan Salya mengatakan aturan internal itu bertujuan untuk menjaga etika dan estetika.

Asrorun mengatakan, MUI menghormati setiap aturan yang diterapkan oleh lembaga, organisasi, atau perusahaan. Namun, kata Asrorun, MUI mengimbau agar aturan itu tidak bersifat diskriminatif dan menabrak hak keagamaan individu.

Pembuat aturan sepatutnya memiliki sensitivitas agar aturan yang dibuat tidak terkesan memojokkan kelompok tertentu, baik secara etnis atau keagamaan.

“Kalau larangan rambut panjang itu masih wajar. Tapi tak boleh ada larangan mengenakan jilbab. Jilbab itu kan bagian dari keyakinan agama individu dan konstitusi menjamin setiap individu menjalankan keyakinan agamanya masing-masing,” ujarnya.

“Intinya, aturan harus dibuat berdasarkan spirit equality dan komitmen untuk merajut kebersamaan. Bukan malah memunculkan stigma kepada kelompok tertentu,” tegas Asrorun.

Sumber: CNNIndonesia 



Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !



» BIN Larang Anggotanya Berjanggut dan Bercelana Cingkrang

KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Populer 

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top