Follow by Email

Akar Konflik Arab Saudi Vs Ikhwanul Muslimin

close
Daftar Artikel Terbaru


Muhammad Abduh, Hasan Al Banna dan Sayyid Qutb, Sosok Pemikir yang Mewarnai Gerakan Ikhwanul Muslimin (biografiteladan.blogspot.com)

  Yes  Muslim  - Selama ini, dalam beberapa postingan artikel maupun komentar yang membahas tentang krisis politik di Mesir, terdapat kesalahan mendasar dalam memandang gerakan Ikhwanul Muslimin (IM). Banyak yang mempersepsikan atau bahkan memberikan stempel bahwa IM adalah gerakan Islam radikal yang satu ide, satu faham atau bahkan saling terkait dengan gerakan radikal lain, misalnya Hizbut Tahrir, Taliban atau pun Wahabi. Padahal jika kita mau menelaah lebih lanjut, IM sangat berbeda dengan ketiga gerakan tersebut. Bahkan antar ketiga gerakan itu pun sangat berbeda. Namun beberapa pihak yang tidak mengerti atau tidak mau  mengerti cenderung menggeneralisir IM dan ketiga gerakan tersebut sebagai gerakan yang sama dan sebangun.

Akhirnya berita terakhir tentang kebijakan Raja Saudi maupun beberapa fatwa ulama wahabi di Arab Saudi, membuat mereka kebingungan. Kebijakan Raja Saudi yang mendukung kudeta militer di Mesir dan fatwa beberapa ulama wahabi di Arab Saudi yang menyematkan stempel sesat, bid'ah dan khawarij kepada IM, telah meruntuhkan opini yang terbangun dalam pikiran mereka selama ini. Mereka membangun opini tersebut semata didorong oleh fakta politik bahwa pada krisis di Mesir, pihak IM berseberangan secara diametral dengan liberal di Mesir. Padahal IM sendiri, dalam perjalanan pembentukan ideologinya tergolong progresif dan liberal, terutama jika dibandingkan dengan wahabi di Arab Saudi.
Konflik Ideologi Ikhwanul Muslimin Vs Wahabi
IM adalah organisasi yang didirikan Hasan al Banna di Mesir dengan genre Islam modernis. Al Banna terpengaruh oleh Rasyid Ridha yang membenci praktik bid’ah namun bersikap luwes terhadap pengamalan Quran dan Sunah, bahkan mampu memberi kritik terhadap praktik kekhilafahan pada masa Usman bin Affan yang dinilainya nepotis.
Ridha menghalalkan demokrasi. Baginya, sistem yang dapat menciptakan kontrol terhadap kekuasaan adalah sesuai dengan Islam. Ridha banyak terinspirasi dari gurunya, Dekan Filsafat Universitas Al-Azhar Muhammad Abduh, yang jauh lebih liberal dan pemikirannya sering bermasalah dengan kebijakan Al-Azhar yang konservatif. Bagi Abduh, kepala negara adalah penguasa sipil yang diangkat dan diberhentikan oleh rakyat, bukan oleh Tuhan. Abduh menerima ide-ide Barat tentang demokrasi yang menyatakan bahwa kekuasaan pada dasarnya adalah milik rakyat, dan penguasa hanya menjalankan amanah yang diberikan rakyat kepadanya. Karena itu Abduh menegaskan bahwa rakyat boleh menggulingkan penguasa bila ia bertindak despotik dan tidak adil, serta kesejahteraan rakyat menuntut hal ini.
Dibanding wahabi, IM lebih liberal dalam pengertian memahami teks secara kontekstual dan mengakomodasi istilah-istilah Barat ke dalam terminologi Islam, seperti demokrasi, revolusi, dan demonstrasi. Wahabi mengharamkan dari segi semantik maupun praksis istilah-istilah Barat semata-mata karena tidak ada dalam teks dan tidak diajarkan oleh Nabi. Di negara-negara Timur Tengah yang dikuasai paham wahabi, seperti Arab Saudi dan Kuwait, tidak ada demokrasi dan pemilu. Sementara, negara-negara yang dikuasai IM, seperti Tunisia dan Mesir era Mursi, demokrasi dan pemilu diterapkan.
Dalam kekuasaan, wahabi menekankan pada ketundukan rakyat terhadap raja tanpa syarat. IM yang selalu oposan menciptakan karakter pemikiran yang progresif. Ditambah dengan asertifnya IM terhadap gagasan Barat maka pemikiran IM melawan kekuasaan dengan cara yang lazim digunakan di Barat. Tema-tema keadilan sosial dan revolusi yang menjadi tema kritik oposisi kelompok kiri di Barat menjadi tema umum dalam cakrawala pemikiran IM, terutama pada masa Gamal Abdul Naser pada 1950-an.
Puncaknya, pada 1964, seorang kader IM, Sayyid Qutb, menulis manifesto Ma’alim fi al-Tariq (petunjuk jalan) dari bilik penjara. Buku Qutb ini memiliki pengaruh yang luar biasa bagi gerakan Islam di seluruh dunia karena berhasil menciptakan dimensi baru tentang tauhid hakimiyah, yaitu negara yang wajib melaksanakan hukum Islam demi terciptanya keadilan sosial.
Pemerintah Muslim yang abai terhadap kewajiban ini maka ia berada di luar akidah Islam dan berhak diperangi. Lawrence Wright (2011) mengatakan, buku Qutb itu sebanding pengaruhnya dengan buku Rousseau, Kontrak Sosial, antara penguasa dengan rakyatnya. Buku Qutb dan buku Rousseau memberikan implikasi yang sama, yaitu pola hubungan yang dinamis antara penguasa dan rakyatnya, yang kadang memuncak pada terjungkalnya penguasa yang lalim oleh rakyatnya sendiri.
Ikhwanul Muslimin, Arab Spring dan Arab Saudi
Jika kita menyimak fenomena Arab Spring, akan terlihat bahwa jatuhnya penguasa lalim di negara-negara Arab dan peralihan kekuasaan setelah itu, banyak digerakkan oleh pemikir atau kelompok aktivis yang terinspirasi oleh pemikiran Ikhwanul Muslimin di Mesir.
Untuk pertama kalinya Arab Spring terjadi di Tunisia pada 18 Desember 2010 lalu dan berhasil menggulingkan rezim Presiden Zine al-Abidine Ben Ali. Pemicu awal dari gerakan ini adalah tindakan pembakaran diri yang dilakukan oleh Mohamed Bouazizi sebagai bentuk protes atas korupsi di lembaga kepolisian dan kesehatan. Sukses di Tunisia, Arab Spring pun mulai menjalar ke sejumlah Negara-negara Arab lainnya seperto Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, Sudan termasuk Suriah.
Tidak hanya itu sejumlah negara seperti Aljazair, Yordania, Maroko, Kuwait, Lebanon, Mauritania, Lebanon dan Arab Saudi pun ikut bergejolak akibat fenomena Arab Spring yang terjadi di Timur Tengah. Fenomena Arab Spring ini dikenal dengan slogan Ash-sha`b yurid isqat an-nizam atau "rakyat ingin menumbangkan rezim".
Menurut Roger Hardy, penulis The Muslim Revolt: A Journey through Political Islam, selama beberapa dekade, Kerajaan Arab Saudi telah menggelontorkan dolarnya dari kekayaan minyak untuk membantu Ikhwanul Muslimin dan sejumlah kelompok Islam lain di seluruh dunia. Namun, beberapa tahun terakhir, Saudi melihat kelompok-kelompok Islam ini lebih sebagai ancaman dibandingkan teman. Rasa paranoid itu semakin menjadi-jadi setelah sekutu mereka di Mesir, Presiden Husni Mubarak, digulingkan pada 2011. Jatuhnya Mubarak membawa Ikhwanul Muslimin ke puncak tampuk kekuasaan.
Mereka juga melihat Tunisia, negara di Afrika Utara yang tak jauh dari Timur Tengah, jatuh ke tangan kelompok Islam. Ada kekhawatiran di Pemerintahan Arab Saudi, termasuk Kuwait dan UEA, penguasa di kawasan ini pun dapat jatuh oleh fenomena pemikiran Ikhwanul Muslimin ini. Dengan alasan itu, kata dia, jangan kaget jika Arab Saudi maupun UEA rajin menangkapi anggota Ikhwanul Muslimin maupun kelompok Islam di negara masing-masing.
Langkah Kerajaan Arab Saudi menunjukkan sikap konfrontasi langsungnya kepada Ikhwanul Muslimin. Penggunaan kata teroris oleh raja Saudi bagi mereka yang membuat kerusuhan di Mesir seolah menyindir Ikhwanul Muslimin. Menurut Christoper Davidson, profesor sejarah Timur Tengah di Universitas Durham, Inggris, keputusan mendukung militer merupakan pertaruhan besar bagi raja Saudi. “Arab Saudi menempatkan posisi melakukan konfrontasi langsung dengan Ikhwanul Muslimin yang mendapatkan simpati luas di kawasan.”
Celakanya, Kerajaan Arab Saudi menggunakan ulama-ulama wahabi untuk melegitimasi kebijakannya. Beberapa fatwa ulama wahabi mengeluarkan fatwa kesesatan Ikhwanul Muslimin. Demonstrasi menentang kudeta militer di Mesir yang digerakkan oleh Ikhwanul Muslimin, dianggap sebagai tindakan bughat atau makar kepada pemerintah yang sah, yang dilarang dalam Islam. Ulama-ulama tersebut mendasarkan kepada dalil wajibnya ketaatan kepada ulil amri (penguasa), baik ketika bertindak adil maupun ketika zalim.
Anehnya, beberapa ulama Al-Azhar di Mesir juga memberikan fatwa yang sama, dengan menggunakan term wahabi, meskipun sebenarnya ulama-ulama Al-Azhar bukan termasuk golongan wahabi. Tapi yang lebih aneh, fatwa seperti ini tidak keluar ketika militer Mesir menggerakkan kelompok liberal untuk mendemo pemerintahan Mursi, yang berujung jatuhnya Mursi melalui kudeta oleh militer.
Sumber: Buku "Pemikiran Politik Islam" karya Dr. Muhammad Iqbal, M'Ag dan Republika Online




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !



» Akar Konflik Arab Saudi Vs Ikhwanul Muslimin

KOTAK KOMENTAR


ARTIKEL TERKAIT


" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Daftar Artikel Lainnya 

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Youtube Channel - Pinterest - Thumbler
Back to Top