TERKUAK ! Ini dia Tokoh UEA Dalang di Balik Krisis Qatar ? SAPA DIA ?

Baca Juga 



  Yes  Muslim  - - ALASAN sebenarnya di balik pemboikotan terhadap Qatar perlahan-perlahan mulai mendapatkan titik terang. Isu pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar memang tidak bisa sederhana kita baca. Ia tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi dan politik kawasan teluk yang sedang.

Pemain utamanya adalah Israel dan AS yang memanfaatkan tangan-tangan penguasa Arab tidak memiliki simpati terhadap gerakan Islam. Ikhwan dan Hamas pun menjadi korban. Isu Iran sengaja dihembuskan untuk menyudutkan Qatar sebagai donatur Syiah. Benarkah?

Peran Uni Emirat Arab

Salah satu tokoh yang gencar menyuarakan pemutusan hubungan Qatar adalah duta besar UEA untuk Amerika Serikat Yousef al-Otaiba. Ia adalah seorang diplomat yang terkenal di sekitar Washington karena bakatnya mewakili berdiplomasi demi kepentingan UEA.

Otaiba selama ini adalah think-thank politik UEA di Amerika dalam mempengaruhi geopolitik global di Timur Tengah. Kehebatannya dalam politik Amerika sudah tidak diragukan. Ia terlibat dalam pembicaraan dengan media, kongres, dan para pengambil keputusan di Amerika.

Seorang pria berusia 40 tahun yang gundul juga menjadi konsultan kebijakan AS di Timur Tengah. Ia berpendapat, pendekatan “non intervensi” AS di Suriah hanya akan membangkitkan semangat ISIS dan kelompok ekstremis lainnya. Ekstrimis yang dimaksud Otaiba tidak lain adalah kelompok perlawanan Islam di Suriah.

Richard Burr, ketua Komite Intelijen Senat dari Partai Republik, mengatakan,” Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu dengan Yousef (al-Otaiba) daripada yang saya miliki. ”

Sementara itu, dalam sebuah pertemuan pribadi dengan Wendy Sherman, pejabat tinggi Departemen Luar Negeri, Otaiba pernah berkata, “F16 kami sudah siap, Nyonya Sherman, beritahu kami jam berapa Anda membutuhkannya,” katanya.[Lihat: Ryan Grim dan Akbar Sahid Ahmed, His Town, Huffington Post] 


Selasa (15/06/2017), Otaiba menulis opininya di Wall Street Journal. Dia mengatakan, pemerintah Trump harus memindahkan pangkalan militernya dari Qatar dan UEA siap melakukan pembicaraan soal itu. Ia juga menyerang Qatar –yang selama ini luar biasa membangun Gaza- karena melindungi Hamas.

Menurut Otaiba, Hamas dan Syeikh Yusuf Al Qaradhawi adalah kelompok dan ulama teroris sebagaimana telah ditetapkan oleh Amerika. Padahal Hamas melakukan perlawanan sebagai respon penjajahan Zionis Israel atas tanah Palestina. Jika memang Hamas dianggap teroris, sebutan apa yang pas bagi Israel yang telah membunuh anak-anak Palestina? Otaiba tidak menulisnya.

Tidak puas menyerang Qatar dengan isu terorisme, Otaiba juga mengangkat isu Iran untuk memojokkan negeri kaya minyak tersebut. Ini memang isu seksi. Dengan memanfaatkan sentimen Iran, Otaiba tampaknya berharap mayoritasnegeri Ahlussunah wal Jamaah menyetujui tindakan negara teluk memutuskan tali diplomatik dengan Qatar yang seolah-seolah berangkat dari faktor ideologis.

Buntut dari kebijakan ini,UEA pun menutup lalu lintas udara ke dan dari Doha. Namun pertanyaannya, jika alasannya faktor Iran, mengapa UEA masih melayani penerbangan langsung ke dan dari Iran? Bagaimana juga dengannilai proyek UEA dan Iranyang mencapai 6 Milyar US Dollar?

Perlu dicatat, UEA juga pernah diserang dengan isu dukungannya kepadamaskapai swasta Iran, Mahan Air, yang pernah mendapatkan sanksi dari Departemen AS karena diduga memberikan bantuan finansial ke Hizbullah. Mahan Air hingga kini rutin terbang ke Dubai. Bahkan, beberapa perusahaan pendukung Mahan Air memiliki basis di UEA.

Emanuele Ottolenghi dan David Andrew Weinberg dari Foundation for Defense of Democracies tahun lalu juga menulis dukungan UEA atas penerbangan maskapai udara Suriah yang bebas terbang ke UEA.Padahal maskapai penerbangan nasional Suriah diduga ikut mendanai Pasukan Quds (Syiah) dengan memasok senjata dan amunisi. Lewat amunisi itu, rezim Assad dan Iran melanggengkan pelanggaran HAM berat terhadap masyarakat sipil Suriah yang menghendaki kebebasan.

Pembawa pasokan senjata lainnya ke Suriah dan tercatat terbang ke Dubai adalah maskapai penerbangan Cham Wings. Maskapai asal Suriah ini turut emberikan dukungan material kepada milisi Iran dan Suriah hingga kemudian dikenakan sanksi oleh Departemen Keuangan AS.[Lihat: Standard Weekly, The Real Story Behind the Diplomatic Crisis With Qatar, 14 Juni 2017]

Perlu dicatat Qatar memang membangun hubungan diplomatik dengan Iran, tetapi hubungan mereka penuh dinamika. Iran dan Qatar jelas berseberangan di Suriah. Bahkan Hasan Rouhanni jelas-jelas melarang keikutsertaan Qatar dalam pembicaraan damai di Astana. Qatar dianggap Iran sebagai donatur kelompok perlawanan di Suriah.

Otaiba juga turut “menembak” Qatar dengan stasiun TV Aljazeera. Anehnya meski Aljazzeraselama ini terdepan dalam menyoroti sejumlah pelanggaran HAM di Gaza dan Suriah, Otaiba justru menilai Aljazzera stasiun TV yang meyuarakan aspirasi terorisme.

Israel memang punya dendam kesumat dengan Aljazzera karena media multiplatform ini paling gigih mengungkap kejahatan-kejahatan Israel terhadap warga Gaza. Salah satu channel televisi yang mengungkap penggunaan bom fosfor putih Israel di Gaza juga Aljazeera. Bahkan wartawan Aljazzera turut hadir dalam konvoi Mavi Marmawa menuju Gaza.

Jadi Qatar adalah pertemuan dari sebuah wadah negara-negara yang memiliki banyak kepentingan agar lenyapnya negeri kaya minyak itu dalam percaturan politik internasional, khususnya di Timur Tengah. Sekaligus memadamkan aspirasi sejumlah negara muslim yang kini sedang terjajah di Bumi Syam, yakni Palestina dan Suriah

Peran di Balik Layar Israel dan AS

Yang bermain jelas Israel dan Amerika dengan memanfaatkan tangan-tangan negara teluk untuk menyudutkan posisi Qatar. Salah satunya yang gencar adalah diperankan oleh Uni Emirat Arab. Israel dan AS lah yang paling diuntungkan dalam masalah ini.

Israel dan AS jelas memiliki kepentingan untuk meredam arus kebangkitan umat Islam. Karena itu, saat keputusan ini diambil teluk, negara yang paling cepat merespon adalah Israel. Perdana Menteri Zionis, Benjamin Netanyahu mengatakan, pemutusan hubungan dipomatik ini menjadi jalan untuk membangun kerjasama Israel dengan negara-negara Arab.

Karena itu, sikap kita sebagai kaum muslimin harus cermat. Krisis Qatar adalah permainan negara-negara Barat dengan memanfaatkan sejumlah Negara Arab Teluk. Persatuan Ulama Muslim Dunia sudah mengeluarkan pernyataan sikap soal ini. Bahwa pemutusan hubungan diplomatik ini haram. Umat Islam dituntut untuk bersuara menyuarakan penolakan.

Wakil Ketua Persatuan Ulama, Dr Ahmad Al-Raissouni menekankan bahwa “potensi bencana” yang mendekati Qatar akan menghancurkannya sebagai mangsa empuk musuh-musuh Islam. Dan, hal ini akan mempengaruhi seluruh umat Muslim.*

Pemerhati Timur Tengah the Center for Islamic and Global Studies (CIGS) [opinibangsa.id / htl]




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !




" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top