Ustadz Salim A Fillah : Dai Sejati Tak Pernah Mengatakan "Saya Lebih Baik dari Kamu"

Baca Juga 




  Yes  Muslim  -  Dai sejati betapa cintanya, cinta itu dibawa sampai ke surga. 
Maka bukan dai, orang yang berbahagia melihat saudaranya dalam dosa. 
Maka bukan dai, orang yang kemudian berbangga ketika dia menjadi ahli Surga, sementara saudaranya ahli neraka.

Mungkin ini tadabur yang kurang tepat, namun saya sangat terkesan kepada apa yang disampaikan guru saya Allahu Yarham Kiyai Haji Mutamid Kholil, guru saya di pesantren Musyar dulu. Beliau mengatakan kamu itu ngaji mau kemana? 

Apakah semakin kamu ngaji semakin menjadi orang yang bergiat didalam islam ini, membuat kamu semakin membuat ana khoiru minhu 

Ataukah membuat kamu semakin Robbanaa Dholamna Anfusanaa Wa Illam Taghfirlanaa Watarhamna Lanakunanna Minal Khoosirin, kemana engkai mengaji?

Apakah ngajimu membuat kamu semakin ana khoiru minhu, apakah ngajimu membuat kamu menjadi aku lebih baik daripada dia.

Ataukah ilmumu, ngajimu membuat kami semakin tunduk kepada Allah dan berkata :" Robbanaa Dholamna Anfusanaa Wa Illam Taghfirlanaa Watarhamna Lanakunanna Minal Khoosirin".

Kemana ilmumu, kemana ngajimu?

Kalau ilmumu,ngajimu membawa kearah ana khoiru minhu, maafkan karena didalam Al-Qur'an yang mewariskan kata-kata itu adalah Iblis laknatullah. 

Kalau ngajimu membawa ke "Robbanaa Dholamna Anfusanaa Wa Illam Taghfirlanaa Watarhamna Lanakunanna Minal Khoosirin". Maka berbahagialah, karena itu adalah warisan Adam, bapak kita semua.

Kalau ngajimu membawa membuatmu berkata innamaa uutituhu alaa ilmi indi, sesungguhnya aku diberi semua keutamaan ini karena memang ada pengutamaan pada diriku, aku diberi semua kelimpahan nikmat karena ada ilmu yang ada padaku, maka maafkan, itu bukan kata-kata Musa, tetapi Qorun.

Sebaliknya kalau engkau semakin mengatakan "robbi inni lima anzalta iliaiya min khoirin faqir", Ya Allah sungguh aku ini terhadap kebaikan apapun yang Engkau turunkan dari sisimu, akun sangat fakir. Meka engkau adalah pewarisnya Musa.

Kalau Ilmumu membuatmu mengatakan "inni anal azizul kariim", sungguh aku adalah orang perkasa yang lagi mulia. Maka Abu Jahal kelak akan disiksa oleh Allah dengan kata-kata itu. 


Tetapi kalau engkau membuat dirimu berdoa kepada Allah "Tawaffani Muslimaa Waal haqqi bishoolihin", Ya Allah matikan aku sebagai seorang Muslim, Ya Allah himpunkan aku bersama orang-orang Sholeh. Maka engkau menapaki jalan lelaki yang sangat indah dari wajahnya sampai juga perangainya dan akhlaknya kepada saudara-saudaranya dan kepada semua orang yang menyebabkan kesengsaraanya dimasa lalu, Yusuf Alaihisalaam.

Kalau engkau membuat dirimu berada dalam kalimat "Robbi auzi'nii an asykuro ni'matakalattii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala soolihin", maka engkau menapaki jalan diraja yang mengatakan kepada Rabbnya "Tolonglah aku ya Allah agar bisa mensyukuri nikmat-Mu, karena tanpa pertolongan-Mu aku tidak dapat bersyukur, karena tanpa pertolongan-Mu aku tidak bisa beramal Sholih dan apalah arti amal Sholihku kalau tidak engkau Ridhoi dan apalah gunanya hidup ini jika tidak Engkau Rakhmati. Meskipun aku tidak layak disimu, engkau himpunkan bersama hambamu yang Sholeh.

Dai yang cinta negerinya, Dai yang Tawadhu, Dai yang menginginkan semua orang bergabung bersamanya dalam perasaan kasih sayang. Memandang semua Mukmin, memandang semua Muslim, memandang semua kaumnya dengan pandangan Rakhmat Allah. Meminta mereka, mengajak mereka bersama-sama.

Maka Allah mengatakan kepada Rasulnya Shalallahu Alaihi Wasallam, "Khodil Afwa Wamur Bil Urwi Wa arid ahlil jaahilin" bukan sekedar berikan maaf tetapi terimalah kaummu apa adanya, maklumi kekurangan mereka, maafkan kesalahan-kesalahanya. Jangan bebani mereka melebihi apa yang mereka sanggupi. Jangan katakan kepada mereka apa tang tidak mereka mengerti. Maklum, terima apa adanya, maafkan kesalahan semuanya itu.

Seorang Dai sejati, pertama-tama bukanlah seorang yang selalu mengeluhkan keberadaan kaumnya, selalu mengumpat kaumnya, yang selalu menjelekkan kaumnya. TIDAK.

Tetapi pertama-tama dia menyadari, dia harus menerima apa adanya, memaklumi kekuranganya, memaafkan kesalahanya dan kemudian bicara kepada mereka dengan yang mereka fahami. Dan membuat mereka tidak terbebani oleh apa yang tidak mereka sanggupi.

Dan perintahkan kepada yang Ma'ruf, jadilah engkau wahai Muhammad, Imam dalam perkara-perkara kebaikan yang sudah mereka kenal. Menempuh jalan mendaki lagi sulit. Membebaskan budak, menyantuni yang fakir yang miskin yang yatim, menyambung Silatul arham. 

Jadilah engkau Imam didalam perkara-perkara kebaikan agar engkau bisa membawa mereka menjadi Imam bagi mereka. 

Membawa mereka kepada Tauhid, kepada Sholat, membawa mereka kepada semua Syariat Allah untuk ditegakkan.

Jadilah engkau Imam dalam perkara yang ma'ruf, maka engkau bisa membawa manusia kedalam perkara yang ditegakkan oleh Allah .

Sedangkan kepada orang yang Jahil, perkataan kita adalah Qoolu Salaama, Salaam, Salaam kepada mereka. Bukan mengatakan "dasar jahil, ahli neraka". 
Salam, mungkin karena engkau belum mengerti.
Salam, mungkin engkau belum memahami.
Salam, mungkin karena aku ketika menjelaskan kepadamu tidak bisa kau mengerti dengan baik. mungkin itu kesalahanku.
Salam kepada yang jahil, berjalan diantara mereka dengan jalan yang anggun,yang tidak merendahkan, tetapi menarik membuat orang berada bersama didalam daya tarik kepada kebenaran ini, daya tarik kepada perkara-perkara yang diturunkan Allah, dibawa oleh rosulnya Sholallu Alaihi Wasallam.


Ustadz Salim A Fillah

[islamedia]


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim - Portal Muslim Terupdate !




" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top