Nikahnya Aneh Banget? Apa-apa Dipisah, Tapi Malah Banyak yang Ingin Menirunya

Baca Juga 


Nikahnya Aneh Banget? Apa-apa Dipisah, Tapi Malah Banyak yang Ingin Menirunya
 

Bagaimana jadinya kalau pernikahan syar'i dipisah seperti ini? Apa iya antara pria dan wanita yang kondangan dan ingin bersalaman harus sendiri-sendiri?


Di dalam agama Islam, pernikahan bukan hanya dijadikan ajang pemersatu dua hati yang saling mencintai saja. Namun lebih dari pada itu pernikahan menjadi suatu prosesi yang sakral bagi semua orang.

Artikel pilihan : Tanpa Sadar, Maksiat Adalah Sumber Berbagai Macam Penyakit, Bahkan Hadist Pun Membenarkannya

Oleh karena itulah benar-benar diatur dan jangan sampai menimbulkan keburukan bagi yang merangkainya. Salah satunya adalah ketika menggelar pernikahan dari akad sampai acara resepsi.

Banyak yang melangsungkan acara dengan mengikuti tradisi, dan ada pula yang menggelarnya dengan mengikuti sunnah.

Seperti pada ulasan yang diberikan oleh akun Facebook bernama Erwin Pandu Pratama, diamana banyak yang bertanya mengapa dekorasi pernikahan syar'i harus begini dan begitu.

Seakan aneh dan banyak yang mengernyitkan dahi ketika melihatnya. Namun ternyata hal penting dari itu semua ialah komentar dari netizen yang mampu terjawab dengan percakapan berikut ini.

Dilansir dari akun Erwin, inilah mengapa pernikahan syar'i termasuk ke dalam walimah yang disunnahkan.

Kok nikahnya aneh banget?

Beberapa masyarakat mungkin akan berkomentar seperti hal diatas ketika melihat dekorasi dan pelaksanaan pernikahan syar'i, yang dari awal sampai akhir benar2 berjalan diatas koridor sunnah.

Berikut saya berikan ilustrasi percakapan tersebut dan cara menjawabnya:

# Kondisi mempelai laki-laki dan wanita

Tamu : "Mempelai laki-lakinya kemana? kok tidak ada di kursi pelaminan? Ini gimana mau salaman"

Panitia : "Tadi sudah adzan pak. Mempelai laki-lakinya sudah bergegas shalat berjama'ah di Masjid dahulu. Nanti akan segera kesini lagi..."

Tamu : "Wah padahal saya ingin langsung memberi ucapan selamat" 

Tamu : "Sabar pak. Katanya shalat jamaah itu wajib, sedang walimah sunnah. Beliau ingin mendahulukan yang wajib. Bapak bisa mengambil makanan dulu sembari menunggu"

Tamu : "Kalau mempelai wanitanya mana?" 

Panitia : "Beliau masih di kamar pak. Katanya malu kalau menyambut tamu tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Pengennya bareng2, walau dipisah ruangan"

# Kondisi menjelang akad

Penghulu : "Lhoh calon istrinya mana? kok tidak ada? Biar bisa dimulai akad nikahnya."

Mempelai laki-laki : "Calon istri saya memang di dalam kamar pak, bersama keluarganya. Belum dihalalkan untuk saya, jadi masih dipisah dulu. Tidak ikut akad"

Penghulu : "Wah, padahal cuma gitu doang lho pak" 

Mempelai laki-laki : "Maaf pak, kami berdua benar2 ingin menjaga rasa malu kami sampai akhir. Sampai akhirnya dia sah menjadi istri saya. Nah pak, monggo segera dimulai biar segera halal"

# Kondisi di penerimaan tamu

Panitia : "Maaf pak, disini khusus untuk tamu wanita. Sedangkan untuk tamu laki-laki ikut lajur disana." •

Tamu : "Lho...kok tamunya dipisah begini? Istri saya bagaimana, dipisah juga? Nanti repot kalo ngajak pulangnya, apalagi dia bawa anak."

Panitia : "Dipisah biar tidak ada ikhtilat (campur baur). Itu permintaan dari kedua mempelai agar mereka tidak menjadi jalan dosa jikalau tamu ibu2 cantiknya diliatin sama tamu laki-lakinya.

Kalo bapak mau panggil istri bapak, biar kami yang memanggilkan."

Tamu : "Lhoh, walimahannya kok sepi kayak kuburan? Biasanya bunyi musik2 dangdutnya keras..."

Panitia : "Maaf pak, insyaAllah pihak mempelai tidak memakainya agar tidak mengganggu hak2 tetangga yang ingin tetap khusyuk menjalankan rutinitasnya.

Siapa tahu ada tetangga yang sakit sehingga bertambah parah ketika mendengar musik2 yang keras, yang distel sepanjang hari. Pihak mempelai tidak ingin berlaku dzalim."

# Kondisi ketika walimah

Tamu : "Kok duduk sendirian di pelaminan? istrinya mana mas? Lagi marahan?

Mempelai laki-laki : "Istri saya di ruangan sebelah khusus wanita melayani tamu-tamu wanita. Maklum dipisah ruangannya pak."

Tamu : "Nah saya kan ingin tahu seperti apa istri kamu? Ingin juga salaman dan memberi ucapan selamat"
Mempelai laki-laki: "Maaf pak, cemburunya saya besar pak, hehehe.

Kalau datang tamu laki-laki yang lebih tampan, wah bisa-bisa nanti istri saya gak mau sama saya, jadi batal nikahnya. Hehe"

Tamu diluar : "Mempelai laki-lakinya yang mana?"

Panitia : "Itu pak yang pakai baju koko putih dan bercelana cingkrang."

Tamu : "Oh.. saya kira tadi panitia juga. Kok mempelai laki-lakinya tidak di make up atau di dandanin kayak artis?"

Panitia : "Mempelainya gak mau di dandanin secara berlebihan pak, katanya menyerupai (maaf) banci."

Tamu : "Walimahannya seram amat, masak pagar ayunya brewokan semua?"

Panitia : "Biar anti-mainstream pak" (Jawaban asal) XD

# Kondisi tamu pulang

Tamu : "MasyaAllah... Cinderamatanya berupa buku-buku islam dan dvd ceramah. Jarang2 seperti ini"

Panitia : "Iya mas. Kedua mempelainya sama2 suka ngaji soalnya" 

Tamu : "Tadi khutbah nikahnya bagus sekali. Manggil ustadz dari mana ya? saya ingin undang juga kalau ada kegiatan di rumah"

Panitia : "Itu mempelai laki-lakinya yang khutbah tadi."

Tamu : "Waduh, beliau ya. Maaf tadi saya duduk paling belakang jadi tidak tahu."

# Kondisi percakapan tamu dengan mempelai laki-laki 

Tamu : "Mas kenapa maharnya kecil sekali, padahal orang kaya."

Mempelai laki-laki : "Ini sudah lumayan besar pak. Jauh melebihi permintaan calon istri.

Selebihnya uang yang tersisa nanti ingin kami pakai untuk berumah tangga, bangun usaha, pendidikan anak2 dan urusan jangka menengah serta panjang" 

Tamu : "MasyaAllah, sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Tapi apa mas gak malu dikira tidak bisa menyelenggarakan walimahan yang mewah?" 

Mempelai laki-laki : "Segala harta kami hanya titipan Allah. Kalau kami nikah hanya untuk sekedar membuat orang lain senang, lalu apa gunanya saya menikah pak?

Istri saya wanita yang shalihah, beliau berpesan ketika ta'aruf bahwa ingin walimah yang sederhana saja, selebihnya ditabung untuk bekal setelah menikah.

Katanya, 'mas menikah tidak hanya urusan sehari, tapi seumur hidup'. Begitu, pak"

Tamu : "MasyaAllah, barakallahu laka wa baraka 'alaika wajama'a bainakuma fi khair. Selamat berbahagia mas dan istri. Semoga tetap teguh diatas sunnahnya"

Mempelai laki-laki : "Aamiin ya rabbal 'alamiin"

Akhukum fillah,

Erwin Pandu Pratama


Pic source  : Facebook/ Erwin Pandu Pratama

Artikel pilihan : Wahai Muslimah, Janganlah Hijrahmu Itu Hanya Sekedar Menjadi Pemanis Penampilan Saja

Proses mencari jodoh dalam Islam bukanlah "membeli kucing dalam karung" sebagaimana sering dituduhkan. Namun justru diliputi oleh perkara yang penuh adab.

Bukan "coba dulu baru beli" kemudian "habis manis sepah dibuang", sebagaimana jamaknya pacaran kawula muda di masa sekarang.

Oleh karena itulah, Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions
Daftar Artikel Terbaru Lainnya 




" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top