Gara-gara Cuit "Dosa Loh Pakai Hp Dan Twitter Buatan Kafir", Addie Ms Kena Skakmat !

Baca Juga 





  Yes  Muslim  -  Addie Muljadi Sumaatmadja atau lebih dikenal dengan Addie MS membuat kicauan yang sarat dengan ujaran kebencian. Melalui akun media sosialnya, ayah dari musisi Kevin Aprilio itu menyatakan bahwa tidak perlu bermain ponsel maupun Twitter karena buatan kafir.

"Maaf, Nak. Kamu dosa loh pakai HP dan Twitter buatan kafir ini. Ayo, cuci tangan yang bersih," kata suami dari penyanyi Memes itu.


Hal tersebut dikatakan Addie untuk menjawab kicauan dari pengikutnya yang mengatakan, "Jangan ngaku muslim kalau mau pilih pemimpin kafir, sekalian aja kamu murtad dari Islam. Biar jelas!"

Pernyataan Addie MS itu mengundang beragam komentar. Banyak yang pro, tidak sedikit yang menyatakan bahwa Addie MS hanya mempertontonkan kedangkalan ilmunya tentang Islam.

"Mas @addiems anda telah mempertontonkan kepada dunia bahwa Anda gagal dalam pendidikan agama. Twitter dan sejenisnya ini perkara Ghoiru Mahdhoh tidak ada dosa dalam mubah yang tidak berlebihan," kata pemilik akun @sulthanmalik.

Akun dengan nama Bang Malik itu meminta Addie untuk tidak asal nyinyir terhadap Islam. "Mbok ya kalau mau nyinyir itu pakai ilmu lah sedikit. Dalam Islam itu ada bab aqidah dan muamalah, Twitter dan sejenisnya itu tidak masuk bab aqidah. Tolonglah jangan terlalu vulgar nunjuki bahwa kitaa itu Ahmaq (baca: pandir)," kata @sulthanmalik

Sementara itu akun Tina Agustina @tinaagustinajkt memberi tahu Addie tentang saham yang dimiliki Twitter juga punya orang Islam. "FYI, Mas Addie, kalau nggak sempat update. Bukan cuma Twitter, Apple ama Time Warner juga ada saham Alwaleed," katanya.



Buat Addie Ms : Islam Tak Menolak Segala yang Berasal Dari Luar Islam, Tapi Islam juga Tak Menerima Semuanya



Tergelitik melihat fakta bahwa masih banyak yang mengaku muslim tapi belum bisa membedakan madaniyah dan hadhoroh. Tentu hal ini dikarenakan beberapa hal, diantaranya bisa jadi karena dakwah kita belum maksimal dan keengganan sebagian Muslim dalam mencari ilmu agama yang lurus. Yang awam semakin awam ditengah hiruk pikuk informasi yang belum bisa disaring dengan minimnya ilmu, ditambah aktivitas yang menyita waktu, tak memperdulikan prioritas amal

Fakta bahkan sekelas Addie Ms yang seharusnya sudah paham sedikit banyak tentang hal inipun ternyata bagai api jauh dari panggang. Kicauannya yang menyindir Ummat Islam yang tidak sepemahaman dengannya di twitter membuktikan ini.

"Maaf, nak. Kamu dosa loh pakai HP dan Twitter buatan kafir ini. Ayo, cuci tangan yang bersih."

Screenshoot twitter Addie Ms

Miris? Harus. Karena memang ini benar-benar terjadi. Logika diatas agama, ya ga akan sejalan. Agama lah yang seharusnya menuntun logika dan perasaan

Buat Addie Ms dan muslimin yang belum memahami apa itu madaniyah dan hadhoroh, dikaji tulisan Ustadz Felix Siaw berikut, semoga masih ada sedikit cinta untuk kami Muslim yang bersebrangan pemahaman dengan anda sekalian

Hadharah dan Madaniyah

Peradaban itu adalah kumpulan pemahaman atas kehidupan, dan ianya bisa terbagi menjadi dua, yakni peradaban yang terpengaruh aqidah (ideologi) dan yang bebas darinya
Sebut saja yang ada pengaruh aqidah sebagai hadharah, dan yang tak terpengaruh aqidah sebagai madaniyah, dari situ kita bisa memutuskan mana boleh mana tak boleh

Maka jelas, kapitalisme, sosialisme, dan semua turunannya adalah hadharah yang tak boleh diambil, sedang ilmu pengetahuan adalah madaniyah yang boleh diambik Muslim

Maka jelas, perayaan tahun baru, hari raya natal, dan semua hari raya yang berkaitan dengan aqidah tak boleh diambil, sedang media sosial, teknologi, boleh saja
Intinya ada pada aqidah. Bila sesuatu itu mengandung atau dipengaruhi aqidah, maka dia tak boleh diambil, sebab kita mengambil sesuatu selain Islam

Contoh lagi, Newton menemukan gravitasi, ini bagian madaniyah, bukan hadharah, sebab tak terpengaruh aqidah, mau siapapun yang menemukan, tetap g = 9.8 m/s
Tapi pandangan filsafat barat tentang tatanilai, pemerintahan, keadilan, kesejahteraan, pemerataan ekonomi, semunaya bagian hadharah, yang tak boleh ditiru

Maka kalung salib, rosario, kaos bergambar Yesus, dan semisalnya bagian dari hadharah, sementara facebook, twitter, instagram, itu bagian dari madaniyah, begitu adanya
Maka kita menolak tahun baru sebab itu tak ada dalam agama kita, melakukannya berarti menyerupai orang kafir, sebab tahun baru adalah perayaan yang terpengaruh aqidah

Lalu orang berkata "Kenapa masih pakai facebook dan instagram?", ini tanda orang itu belum memahami, mana yang terpengaruh aqidah mana yang tidak
Mana yang boleh diadopsi dan mana yang tidak boleh, dan wajar, yang bicara begini pasti yang belum paham, tugas kita memberi pengertian dan memahamkan

Islam tidak menolak segala yang berasal dari luar Islam, tapi Islam juga tidak menerima semuanya, sebab Islam punya identitas, dan semuanya dari aqidah yang benar
Coba pikir, bila kita mengaku Muslim, tapi aktivitas kita, gaya kita tak ada beda dengan yang kafir, lalu apa pengaruh Islam bagi kita? Atau jangan-jangan kita yang tak paham Islam?

Admin


Bolehkah Menggunakan Produk Orang Kafir?


Permasalahan yang selalu menjadi tanya, bolehkah kita bermuamalah dengan orang kafir? Bolehkah juga kita menggunakan produk-produk mereka? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin kami jawab pada tulisan sederhana berikut ini.

Bolehkah Bermuamalah dengan Orang Kafir?

Mungkin masih banyak yang bertanya. Apakah jika kita tidak boleh berloyal pada orang kafir, itu berarti kita tidak boleh bermuamalah dan menggunakan produk mereka?
Ingatlah bahwa haramnya loyal (wala’) pada orang kafir, ini bukan berarti kita tidak boleh bermuamalah dengan mereka. Jadi tidaklah terlarang melakukan jual-beli barang-barang yang bernilai mubah dan memanfaatkan keahlian mereka.
Kami akan memberikan beberapa bukti yang menunjukkan bolehnya hal ini.
[Pertama]
Sebuah hadits yang dibawakan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya pada Bab “Muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama orang Yahudi Khoibar.” Yaitu dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakr pernah memberi upah kepada salah seorang dari Bani Dil sebagai penunjuk jalan dan mengantar keduanya sampai ke Madinah. (Shahih Bukhari, 2/790)
[Kedua]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bermuamalah dengan orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal dunia, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa ketika itu baju besi beliau tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan gandum sebanyak 30 sho’. (Shahih Bukhari, 3/1068)
Imam Syafi’i dan Al Baihaqi mengatakan bahwa orang Yahudi tersebut bernama Abusy Syahm. (Fathul Bari, 5/140)
Dari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,
وفي الحديث جواز معاملة الكفار فيما لم يتحقق تحريم عين المتعامل فيه
“Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya bermua’amalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.” (Fathul Bari, 5/141)
[Ketiga]
Sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengirim utusan kepada orang Yahudi untung membeli pakaian darinya dengan pembayaran yang ditunda, tetapi orang Yahudi tersebut menolaknya. (Al Jami’ Ash Shahih Sunan At Tirmidzi, 3/518)
Ketiga bukti di atas cukuplah sebagai dalil bolehnya bermuamalah dan melakukan jual beli dengan orang kafir.

Bolehkah Menggunakan Produk Orang Kafir?

Perlu diketahui, sebagaimana kaedah yang digariskan oleh para ulama bahwa hukum asal segala barang adalah halal dan boleh digunakan. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyatakan bahwa makanan A, minuman B, pakaian C itu haram, dia harus mendatangkan dalil shahih dari Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan haramnya, maka barang-barang tersebut kembali ke status asalnya yaitu halal dan boleh digunakan.
Oleh karena itu, boleh bagi kita menggunakan produk orang datang karena tidak ada dalil dalam Al Qur’an atau pun dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan terlarangnya hal ini. Bahkan ada terdapat beberapa bukti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menggunakan produk orang kafir dan ini menunjukkan bolehnya hal ini. Bukti tersebut di antaranya:
[Pertama]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai baju buatan Yaman sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit, beliau keluar memakai baju qithriyyah (yaitu baju bercorak dari Yaman yang terbuat dari katun) (Lihat Mukhtashor Asy Syamail hal. 49. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih). Perlu diketahui bahwa kebanyakan penduduk Yaman ketika itu adalah orang-orang kafir.
[Kedua]
Diceritakan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggunakan khuf buatan Habasyah (Ethiopia) yang ketika itu adalah negeri kafir. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Buraidah:
أن النجاشي أهدى النبي صلى الله عليه و سلم خفين أسودين ساذجين فلبسهما ثم توضأ ومسح عليهما
“Raja Najasyi pernah memberi hadiah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua buah khuf yang berwarna hitam yang terlihat sederhana, kemudian beliau menggunakannya dan mengusap kedua khuf tersebut.” (Lihat Mukhtashor Asy Syamail hal. 51. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Siapa yang Berhak Mengharamkan?


Kenapa barang-barang tersebut mesti diboikot[?] Padahal orang yang memboikot tersebut bukanlah pemerintah yang memiliki wewenang dan kekuasaan[?] Kenapa mereka mengharamkan barang-barang yang sebenarnya halal[?]
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat .” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 32)
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingkari siapa saja yang mengharamkan makanan, minuman, pakaian, dan semacamnya, padahal tidak Allah haramkan.
Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al Baqarah: 29).
Maksudnya, adalah Allah menciptakan segala yang ada di muka bumi ini untuk dimanfaatkan. Itu berarti diperbolehkan selama tidak dilarang oleh syari’at dan tidak mendatangkan bahaya.
Jadi, mengharamkan sesuatu haruslah berdasarkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak ada, maka kita kembali ke hukum asal setiap barang atau benda yaitu halal.

https://rumaysho.com/992-bolehkah-menggunakan-produk-orang-kafir.html




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 




" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top