Jelang Pilpres 2019, siapa sangka ? INILAH DIA Pesaing Terberat Jokowi dan Prabowo

Baca Juga 










  Yes  Muslim  - 
Di atas kertas, hampir semua orang hanya menyebut dua nama di arena pemilihan presiden (pilpres) mendatang yakni Joko Widodo versus Prabowo Subianto. Padahal, ada banyak nama lain yang juga pantas dan tepat untuk memimpin perahu besar bernama Indonesia.

Jika kita melihat dan mengalkulasi nama-nama yang pantas untuk memimpin bangsa ini, maka boleh jadi kita akan berkesimpulan bahwa Jokowi dan Prabowo bukanlah yang terbaik. Ada sejumlah nama hebat yang juga pantas dan bisa menjadi alternatif dalam memimpin Indonesia.

Melihat gejala menguatnya politik identitas, maka pesaing Jokowi dan Prabowo sebaiknya berasal dari figur Islami yang bisa diterima kalangan, serta bisa menjadi payung bagi keragaman Indonesia. Satu nama yang banyak disebut para pemikir dan praktisi politik adalah figur hebat bernama Tuan Guru Bajang, yang kini menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB).



HARI itu, obrolan santai tengah digelar di Istana Wakil Presiden. Di kantin yang sering dijadikan tempat berkumpul awak media dan staf istana, tiba-tiba saja Wakil Presiden Jusuf Kalla datang bergabung. Ia bertanya kepada banyak orang tentang siapa yang pantas diajukan sebagai pemimpin.

Beberapa nama lalu disebut. JK selalu menggeleng dan menyebut bahwa masih ada yang lebih baik. Situasi politik belakangan membuat JK berhati-hati dalam melihat semua figur. Ia menginginkan ada figur seperti dirinya, yang berasal dari daerah sebab Indonesia dibangun oleh pilar-pilar daerah yang kuat, punya afiliasi keagamaan yang kuat, juga punya banyak prestasi yang lahir dari hasil kerja keras, tanpa banyak gembar-gembor.

JK menginginkan ada figur yang bisa diterima semua kalangan, sehingga energi bangsa bisa tercurah untuk membawa perahu negeri ke arah yang lebih baik. Tiba-tiba saja, seorang jurnalis menyebut nama Tuan Guru Bajang. Berbeda dengan respon sebelumnya, di mana JK langsung menolak, kali ini ia terdiam. Ia lalu manggut-manggut. Diskusi berakhir.

Nama KH Zainul Madjdi atau Tuan Guru Bajang belakangan ini santer disebut dalam banyak diskusi. Namanya seharum Jokowi ketika menjadi Walikota Solo yang sarat prestasi. Pada masa Jokowi memimpin Solo, semua daerah merindukan figur seperti Jokowi yang membangun karier dari bawah, serta bisa bicara hal-hal detail. Biarpun belum menyelesaikan masa jabatan sebagai walikota, Jokowi lalu dipinang warga Jakarta untuk menjadi gubernur, hingga akhirnya sukses menjadi Presiden RI.

Tuan Guru Bajang juga meniti di jejak yang sama. Ia seorang pemimpin di daerah, yang pada mulanya dipandang sebelah mata. Ia pernah dianggap sebagai “anak ingusan” sebab menjadi gubernur pada usia 36 tahun. Latar belakangnya bukan dari birokrasi. Pendidikannya pun tak ada kaitan dengan ilmu sosial politik, pemerintahan ataupun ekonomi.

Ia seorang alumnus Universitas Al Azhar yang memperdalam pengetahuan tentang agama Islam. Pada salah satu program talkshow di televisi, ia mengaku kesulitan pada masa-masa awal. Ia harus belajar tentang birokrasi, serta belajar bagaimana mengendalikan banyak orang.







Tapi beberapa tahun setelah menjabat sebagai gubernur, satu demi satu prestasi berhasil diraihnya. Ia membawa NTB sebagai juara pertama kategori provinsi dengan laju pembangunan MDGs tertinggi. Penghargaan itu diraih sejak 2011 hingga 2015. Angka kemiskinan turun dari 23,81 persen menjadi 16,54 persen pada tahun 2015. Angka wisatawan berhasil dinaikkannya, yang pada tahun 2008 hanya 600 ribu menjadi 2,4 juta pada tahun 2015.

Ia melakukan reposisi konsep wisata menjadi wisata halal dan menyabet penghargaan sebagai World’s Best Halal Tourism Destination di panggung internasional. Melalui reposisi menjadi wisata halal, ia mengukuhkan jati diri NTB sebagai daerah wisata yang tetap tidak kehilangan jari dirinya sebagai masyarakat religius. Ia juga memperkuat komoditas jagung sebagai komoditas andalan di wilayah itu.

Sebagai orang yang bukan berasal dari NTB, saya selalu menyukai kemunculannya di beberapa stasiun televisi. Kalimat-kalimatnya terukur. Ia bukan tipe orang yang mendapat satu pertanyaan, lalu jawabannya bisa memutar-mutar dan menyebut banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan. Tuan Guru selalu efektif dalam menjawab pertanyaan. Ia bisa menjelaskan hal rumit menjadi sederhana, sebab memahaminya pada tingkatan filosofis.

Saya beberapa kali melihat dirinya yang ditanya tentang capaian keberhasilan sebagai gubernur. Ia selalu menjawab dengan rendah hati. Dalam satu dialog di televisi, ia mengakui, satu-satunya modal kuat yang dimilikinya adalah latar belakang keluarga dan keagamaan yang kuat.






Gelar Tuan Guru di depan namanya adalah simbol dari posisi kultural dan sosial yang kuat. Ia bisa diterima semua kalangan sebab memiliki otoritas pengetahuan keagamaan. Ia pun menjadikan itu sebagai landasan dalam memahami berbagai aspek birokrasi dan pemerintahan.

Diakuinya, legitimasi kultural dalam panggilan Tuan Guru jauh lebih tinggi ketimbang legitimasi sebagai gubernur. “Di daerah saya, seorang Tuan Guru jauh lebih didengarkan ketimbang seorang pejabat yang hendak berkomunikasi dengan masyarakat,” katanya.

Namun, menyandang legitimasi kultural tidak serta-merta membuat semua persoalan menjadi mudah. Kepemimpinan baginya adalah fungsi, bukan struktur. Seseorang yang menjadi gubernur tetap akan belajar dari pendahulunya. Semua profesi memiliki ruang belajarnya sendiri-sendiri sehingga siapapun bisa menjadi pribadi unggul melalui proses belajar.

Intelektual Muslim Prof Komaruddin Hidayat menyebut Tuan Guru sebagai seorang pembelajar yang cepat (fast learner). Dalam waktu cepat, ia mempelajari langgam birokrasi, lalu menyusun langkah-langkah strategis untuk pemerintahannya.

Terhadap siapapun, ia tetap santun dalam menyampaikan pandangan. Bahkan saat mengkritik Presiden Jokowi dalam satu acara, ia bisa menyampaikannya dalam bahasa yang santun dan tidak menyakiti siapapun. Ia pandai memilih diksi kalimat yang baik sehingga pesan-pesan itu bisa diterima dengan baik oleh semua kalangan.





Pada titik ini, ia bisa menjadi pemersatu. Ia bisa menjadi jalan tengah dari berbagai kekuatan yang tengah mencari posisi di panggung kuasa. Jika pilpres ini akan membelah warga kita dalam dua kelompok besar, maka keberadaan Tuan Guru Bajang bisa mnyatukan berbagai elemen kultural anak bangsa dalam satu payung besar keberagaman dan saling menghormati.

Berkat prestasinya, Tuan Guru mendapatkan apresiasi dari Prof Dr Syekh Abdul Fadhil el Quoshim, guru besar di Al Azhar. “Pemerintahan gubernur Nusa Tenggara Barat bisa dijadikan contoh bagi negara-negara Islam, bahkan dunia, bukan hanya buat Indonesia.”

Penulis: Yusron Darmawan



Ini Dia Profil Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Yang Hafal 30 Juz Alquran




 Dr. K.H. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (lahir di Pancor, Selong, 31 Mei 1972; umur 44 tahun) adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) 2 periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018.
Tuan Guru Bajang adalah panggilan masyarakat sasak terhadap ulama muda seperti Tuan Guru Zainul Majdi.
Dia adalah cucu dari ulama paling kharismatik di Nusa Tenggara Barat, khususnya di tanah Lombok.
Sang kakek Maulana Syekh Tuan Guru Haji M. Zainuddin Abdul Madjid adalah pendiri Nahdlatul Wathan (NW) ormas Islam terbesar di NTB.

Kapasitas keulamaan sang kakek bukan hanya kaliber daerah saja, melalui kitab-kitab karyanya, Tuan Guru Pancor juga menjadi ulama yang dihormati oleh ulama Mekkah.

Selain darah ulama, darah kepemimpinan juga menurun dari ayahnya yang adalah seorang birokrat Pemda NTB. Zainul Majdi adalah keturunan dari pasangan HM Djalaluddin SH dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.

Sebagai keluarga ulama, pendidikan Zainul Majdi tidak lepas dari pendidikan agama yang menjadi prioritas utama. Selain belajar dari sang kakek dan ulama NW lain, Zainul kecil juga belajar formal di di SDN 3 Mataram.

Ia lalu melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Nahdlatul Wathan Pancor dan Madrasah Aliyah di yayasan yang sama.

Lulus dari Madrasah Aliyah (Tingkat SMA) Zainul mulai menunjukkan kapasitas dan minatnya kepada ilmu Agama semakin dalam. Ia memilih untuk memperdalam Islam di tanah Mesir di Univeristas Al Azhar.

Hebatnya, sebelum memasuki perguruan tinggi, Zainul muda sudah menuntaskan hafalan 30 juz Alquran di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama setahun (1991-1992).

Kemudian pada tahun 1992, Zainul muda berangkat ke Mesir untuk memperdalam ilmunya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo.

Lulus setingkat S1 pada tahun 1996, Zainul memilih melanjutkan pendidikannya ke jenjang master. Lima tahun berikutnya, ia meraih Master of Art (M.A.) dengan predikat Jayyid Jiddan.

Tidak tanggung-tanggung dalam menimba ilmu, Tuan Guru Bajang terus meningkatkan keilmuannya dengan melanjutkan program S3 doktor di bidang yang sama.

Pada 8 Januari 2011, dalam sidang ujian oleh Dosen Penguji Prof. Dr. Abdul Hay Hussein Al-Farmawi dan Prof. Dr . Al-Muhammady Abdurrahman Abdullah Ats-Tsuluts, Tuan Guru Bajang lulus dengan predikat Martabah EL-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude.

KETUA NAHDLATUN WATHAN
Kondisi memprihatinkan dialami oleh Nahdlatun Wathan dengan dualisme kepemimpinan semenjak tahun 1997. Perpecahan dalam kepengurusan pusat NW terjadi karena perbedaan pandangan tentang kepemimpinan wanita Hj Siti Raehanun Zainuddin Abul Majid sebagai pemimpin ormas Islam.

Dalam Muktamar X Praya Lombok Tengah yang memilih Hj Siti Raehanun Zainuddin Abul Majid, sebagian peserta menolak kepemimpinan beliau dan memilih walk out. Selanjutnya kubu yang menolak mendirikan kepengurusan sendiri yang dikenal dengan PBNW Pancor.

Dari kepengurusan PBNW Pancor inilah Tuan Guru Zainul terpilih sebagai ketua umum pada tahun 2007, mengingat kapasitas ilmunya yang mendalam dalam agama Islam.

Dalam kepemimpinn Tuan Guru Bajang, sudah beberapa kali dia mengupayakan ishlah dengan PBNW Anjani pimpinan bibinya. Tahun 2010 keduanya sempat bersatu dalam kontestasi Pilkada, namun dalam kepengurusan sampai sekarang belum ada titik temu.

DUNIA POLITIK
Tidak terpikirkan bagi seorang ulama seperti Tuan Guru Bajang menjalani karir politik. Semuanya berawal karena hubungan akrab dengan tokoh reformis Yusril Ihza Mahendra yang mengajaknya maju sebagai anggota DPR-RI dari Partai Bulan Bintang.

Tuan Guru pun terpilih sebagai anggota legislatif periode 2004-2009. Belum genap dalam masa jabatannya, tantangan untuk memimpin lebih tinggi menghampirinya.

Banyak calon yang ingin meminangnnya sebagai calon wakil gubernur, Yusril Ihza Mahendra justru meyakinkan beliau untuk maju sebagai calon gubernur NTB. Diusung PBB dan PKS Tuan Guru Bajang sukses terpilih menjadi gubernur NTB periode 2008-2013.

Pilihannya masuk ke dalam politik bukan tanpa alasan. Menurutnya dalam pengalamannya selama berdakwah, banyak sisi dakwah yang tidak bisa disentuh dengan kultural saja, tapi harus secara sistem melalui struktur politik.

Tuan Guru yang sangat concern dengan pendidikan, juga bercita-cita untuk memajukan pendidikan di NTB dan juga menggratiskan pendidikan di sana.

TERPILIH KEMBALI
Kini Tuan Guru Zainul Majdi terpilih kembali sebagai gubernur NTB pada periode 2013-2018.

Tuan Guru adalah gubernur termuda dengan usianya yang menginjak 36 tahun pada saat dilantik sebagai gubernur NTB. Walaupun muda usianya, namun sejumlah prestasi kepemimpinan sudah banyak tampak di permukaan.

Tahun 2009 beliau menerima Lencana Ksatria Bhakti Husada Arutala yang merupakan penghargaan atas jasa-jasanya dalam pembangunan Bidang Kesehatan.

Tahun 2010, Gubernur M. Zainul Majdi menerima penghargaan The Best Province Tourism Develovment dengan dikukuhnya NTB sebagai Provinsi Pengembang Pariwisata Terbaik versi ITA di Metro TV. Pariwisata NTB memang meningkat derastis dalam kepemimpinan Zainul Majdi.

Berkat kemajuan insdustri di NTB, Tuan Guru Bajang mendapat penghargaan kategori The Best Dedicated Governor in Developing of MICE Industry.

Lalu terakhir, bersama gubernur Bali, Tuan Guru Bajang mendapat penghargaan Bintang Maha Putra Utama dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono karena telah berjasa banyak pada negara.

KIPRAH SEBAGAI ULAMA
Sebagai pemimpin yang berlatarbelakang ulama, visi keislaman tidak pernah tertinggal dalam setiap kebijakannya. Dimulai dari dirubahnya slogan NTB dari “Bumi Gora” menjadi “Bumi Qur’an”.

Gubernur hafidz ini juga aktif dalam menggiatkan untuk membumikan Qur’an pada anak-anak melalui pendidikan. Dua anak penghapal Qur’an dari Gaza Palestina sempat berkunjung kekediaman Tuan Guru untuk saling berbagi.

Tuan Guru juga aktif dalam dunia keislaman dengan menghadiri Konferensi Dunia Islam Internasional di Arab Saudi yang diselenggarakan oleh World Moslem League. Beliau juga menghadiri Konferensi Ulama Internasional yang diadakan di Situbondo Jawa Timur. (awe/sumber: satujam.com).


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer
--------------------------------------------------------------
" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top