Beli Rumah Hasil Lelang Bank, Aman Nggak Sih? Apa Hukum nya dalam ISLAM ?

Baca Juga 





Beli Rumah Hasil Lelang Bank, Aman Nggak Sih? 



  Yes  Muslim  -PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memiliki portal atau website yang berisi rumah-rumah untuk dilelang dengan harga yang lebih murah. Mulai dari rumah sitaan karena debitur tidak membayar, hingga rumah bekas yang dilelang secara sukarela. 

Rumah yang ada di dalam laman ini dijual mulai dari harga di bawah Rp 100 juta hingga di atas Rp 1 miliar. Memang harga ditentukan dari kondisi bangunan dan lokasi. 
Direktur BTN Nixon Napitupulu menjelaskan, banyak dari rumah murah yang memiliki kondisi apa adanya, seperti jendela dan pintu yang sudah rusak, namun harganya murah.

Kira-kira apakah aman membeli rumah sitaan bank?

Nixon memastikan rumah-rumah tersebut aman. Karena pada dasarnya BTN menjual rumah-rumah tersebut untuk mengurangi rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Kondisinya juga bebas dari masalah hukum. 

"Dalam menjual rumah, kami pastikan surat-surat sudah clear dan semuanya aman. Baru kami jual, kami tidak mau jual masalah, risikonya harus minim," kata Nixon saat dihubungi detikFinance, seperti ditulis Kamis (19/4/2018).


Dia menjelaskan, memang biasanya ada rumah sitaan yang kelihatannya masih berpenghuni. Seperti masih ada jemuran dan kendaraan. 

"Memang biasanya masih ada jemurannya, tapi itu hanya tetangganya saja numpang jemur. Kami pastikan rumah-rumah ini kosong," ujarnya.

Nixon mengungkapkan, dulunya BTN memiliki katalog rumah-rumah NPL atau kredit macet secara manual. Namun kini, untuk meningkatkan transparansi BTN memiliki portal web atau aplikasi online bernama rumahmurahbtn.com yang sudah diluncurkan pada 9 Januari 2018 lalu. (ara/ara)


Tambah 1.000 Rumah Lelang per Bulan


Hingga akhir tahun BTN menargetkan bisa menambahkan inventory rumah lelang di portal rumahmurahbtn.com. Hal ini dilakukan agar masyarakat makin mudah mendapatkan informasi rumah murah.

Direktur BTN Nixon Napitupulu menjelaskan saat ini jumlah inventory rumah lelang yang dipajang di laman mencapai 5.206 unit.

"Akhir tahun kami targetkan bisa tambah 10.000 unit, ya perbulan sekitar 1.000 unit dulu lah," kata Nixon.

"Jadi yang kita masukkan yang status surat dan sertifikatnya sudah aman. Kalau masih dihuni biasanya diinfokan, jadi aman," imbuh dia.Dia menjelaskan, dari penambahan unit rumah, yang dimasukan di website adalah rumah-rumah yang bersih dari masalah.

Nixon mengungkapkan dari sekitar 5.206 unit paling banyak adalah rumah di Pulau Jawa. Setelah itu diikuti Pulau lainnya seperti Sumatera dan Sulawesi.






Apa Hukum nya dalam ISLAM ? 

Hukum Ikut Lelang Sitaan Bank dan Leasing


Bagaimana dengan kasus gara-gara tidak bisa melunasi sisa utang di Bank Doremon, rumah yang dinilai seharga Rp 700 juta itu dilelang hanya seharga Rp 50 juta.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Sebelumnya kita awali dengan memahami skema transaksi utang bergadai,
Pertama, bahwa transaksi nasabah dengan bank adalah utang piutang. Sementara jaminan sertifikat yang diserahkan nasabah ke bank berstatus sebagai barang gadai (rahn).  Nasabah sebagai penggadai (rahin), sementara bank sebagai penerima gadai (murtahin).
Kedua, dalam transaksi gadai, barang yang menjadi agunan tidak berpindah kepemilikan ke Murtahin. Barang itu tetap menjadi milik nasabah (rahin), sehingga dia yang paling berhak atas barang itu. Meskipun utang belum lunas ketika jatuh tempo.
Ini berbeda dengan kejadian masa jahiliyah. Pada zaman jahiliyah dahulu apabila telah jatuh tempo pembayaran utang dan orang yang menggadaikan belum bisa melunasi utangnya maka pihak yang berpiutang menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya.
Ketika Islam datang, sistem dzalim semacam ini dibatalkan. Karena status barang gadai tersebut adalah amanah dari pemilik yang ada di tangan pihak yang berpiutang (murtahin). (Taudhihul Ahkam, Syarh Bulughul Maram, 4/467).
Ketiga, Dibolehkan bagi bank untuk meminta nasabah agar segera melunasi utangnya. Jika tidak memungkinkan, bank boleh meminta untuk menjual aset yang digadaikan.
Dalam Taudhih al-Ahkam dinyatakan,
لا يجبر الراهن على بيعه إلاَّ إذا تعذر الوفاء، حينئذٍ تأتي الفائدة من الرهن فيباع ويوفى الدين، فإن بقي من الثمن شيء فهو للراهن
Nasabah gadai (rahin) tidak boleh dipaksa untuk menjual barang gadai, kecuali jika tidak memungkinkan baginya untuk melunasi utangnya. Di sinilah fungsi gadai itu terlihat. Barang gadai bisa dijual untuk menutupi utangnya. Jika masih ada yang tersisa dari hasil penjualan setelah dikurangi utang, maka diserahkan ke pemilik barang (rahin). (Taudhihul Ahkam, Syarh Bulughul Maram, 4/467).
Keempat, mengingat pelepasan gadai dilakukan dengan cara menjual aset, maka yang paling berhak menentukan harga adalah pemiliknya. Jika tidak memungkinkan, pemerintah berhak mengambil tindakan, membekukan aset itu. Pemerintah bisa melakukan lelang terhadap aset dengan harga standar, untuk menutupi utang nasabah.
Di sinilah peran pemerintah sangat diharapkan. Pihaknya berkewajiban melidungi kedua belah pihak. Melindungi hak orang memiliki utang (nasabah) dan melindungi hak pemberi utang (lembaga keuangan). Tidak boleh dilelang dengan harga yang bisa mendzalimi pemiliknya. Misalnya, dijual dengan harga jauh di bawah harga pasar. Di tempat kita, salah satu standar yang digunakan adalah NJOP (Nilai Jual Objek PaJak).
Di negara kita, tanggung jawab ini dipegang oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Kita berharap, kantor semacam ini bisa bekerja lebih maksimal, dan bersih dari mafia.

Lelang Bank

Kebijakan lelang bank, salah satunya dengan melihat pertimbangan kolektibilitas. Beberapa bank, nasabah yang tingkat kolektibilitas 5, untuk rentang penunggakan lebih dari 6 bulan, berhak untuk dilakukan penyitaan aset. Menurut informasi, ketika nasabah berada pada tingkat kolektibilitas 3 sampai 5, maka masuk kategori NPF (Non Performing Financing) atau loan (utang).
Yang menyedihkan adalah prinsip pihak bank adalah yang penting barang itu laku, sehingga bisa menutupi nilai utang berikut bunganya. Atau bahkan yang penting cukup untuk melunasi pokok utangnya. Sehingga, untuk harga lelang, bank tidak terlalu ambil pusing.
Realita ini menunjukkan bahwa lelang hasil sitaan bank maupun lembaga keuangan, adalah lelang yang tidak sehat. Sangat mendzalimi nasabah. Sehingga dijual dengan harga yang sangat murah. Dan semua kedzaliman, pengadilannya akan berlanjut di akhirat.
Alah berfirman,
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
Janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman untuk mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS. Ibrahim: 42)
Mereka para pemenang lelang, bisa berbahagia dengan menguasai harta orang lain dengan cara legal dan murah. Bisa jadi di dunia dia menang ketika eksekusi, tapi ingat ketika di akhirat, bisa jadi urusan ini akan kembali dilanjutkan dan diselesaikan di pengadilan akhirat.
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina PengusahaMuslim.com dan Konsultasisyariah.com)
PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer
--------------------------------------------------------------
" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top