Wow! Mengajar di Indonesia, Dosen Asing Akan Digaji Rp65 Juta

Baca Juga 

  Yes  Muslim  -  JAKARTA - Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA).

Dengan Perpres ini, Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) akan mendatangkan 200 dosen asing ke Indonesia untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan tinggi di Tanah Air.

Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, para dosen tersebut akan menerima gaji antara 3.000 hingga 5.000 USD atau setara Rp39 juta-Rp65 juta (kurs Rp13.000).

"Nanti akomodasi kami siapkan juga. Surat perizinan seperti dan lain-lain juga mengikuti," tutur Ghufron di Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Menurutnya, nominal gaji
tersebut sudah sesuai dengan standar yang ada. Ia yakin hal tersebut tidak akan menimbulkan kecemburuan dengan dosen-dosen di Tanah Air.

"Angka segitu sudah umum ya," tuturnya.

Mantan Wakil Menteri Kesehatan itu menuturkan, pada tahun 2017, sebanyak 84 dosen sudah mengajar di Indonesia. Mayoritas mereka tertarik mengajar dan melakukan penelitian di Indonesia karena sumber daya alam Indonesia yang kaya.

"Banyak hal-hal baru yang bisa mereka ekplore untuk penelitian dan banyak potensi juga yang ingin diteliti. Misalnya di luar negeri sana tidak ada Malaria, di Indonesia ada bahkan hingga menyebabkan banyak jatuh korban dan lain-lain," paparnya.

Ia optimistik para dosen asing mau mengajar di Indonesia. Sementara kualifikasi dosen asing yang akan mengajar di Tanah Air tentu harus familiar dan memiliki karya publikasi ilmiah serta berasal dari 100 kampus top dunia.

"Tugas mereka adalah mentransfer ilmu pengetahuan dan membangun iklim akademik penelitian di Indonesia tumbuh sebab penulisan publikasi ilmiah kita masih rendah. Diharapkan para dosen asing tersebut dapat membantu," tuturnya. (Okezone)







Kemenristekdikti Anggarkan Rp 300 M untuk Gaji Dosen Asing


 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah menganggarkan dana sekitar Rp 300 miliar untuk menggaji dosen asing yang segera didatangkan ke Indonesia. Menurut Dirjen Sumber Daya IPTEK dan Dikti Prof Ali Ghufron kisaran gaji setiap dosen asing tersebut akan beragam, mulai dari Rp 0 hingga mencapai 4 ribu dolar AS.

"Itu baru perkiraan, tapi nanti gajinya akan mengacu pada skema kerja sama dengan dosen asing tersebut," kata Ghufron kepada Republika di Jakarta, Kamis (19/4).

Dia menerangkan, ada beberapa skema yang telah dirancang oleh Kementerian terkait proses masuk dan penyebarana dosen asing tersebut. Di antaranya, atas pengajuan atau permintaan perguruan tinggi, atau melalui undangan kepada negara bersangkutan.

Menurut Ghufron, hingga saat ini setidaknya sudah ada 70 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang mengajukan agar dosen asing bisa mengajar. Perguruan tinggi tersebut seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). 

"Jadi kan mereka (Perguruan tinggi) mengajukan proposal pengajuan kepada kami. Proposal itu merincikan alasan dan target perguruan tinggi mengundang dosen asing tersebut. Perlu diingat, kami akan seleksi, tidak akan sembarangan memilih," tegas Ghufron.

Setelah nantinya berjalan, lanjut Ghufron, Kemenristekdikti pun akan terus melakukan pengawasan dan penilaian secara berkala kepada dosen asing tersebut. Menurut dia, jika ke depan kinerja tidak memuaskan danjauh dari target, pemerintah segera memutus kerja sama.

Untuk skema undangan, sementara ini Kemenristekdikti hanya memberlakukan untuk vokasi. Yang mana, lanjut Ghufron, Kemenristekdikti sudah bekerja sama dengan Thailand dan Jerman. 

Karenanya, dia memastikan tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebih mengenai kedatangan dosen asing. Sebab pemerintah, kata dia, telah memiliki regulasi dan skema yang cukup ketat.

Sebelumnya, pemerintah akan mengimpor tenaga pengajar untuk perguruan tinggi di Indonesia. Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan, Indonesia memerlukan 200 dosen asing untuk mendongkrak mutu dan kualitas pendidikan tinggi.


Tugas Utama Dosen Asing Bukan untuk Mengajar, Tapi .....


 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menyatakan keberadaan dosen asing di Tanah Air tidak akan mengesampingkan keberadaan dosen lokal karena harus bekerja sama dalam meningkatkan penelitian di kampus tersebut.


"Dosen-dosen asing itu nantinya akan membantu dosen-dosen kita dalam hal penelitian. Bagaimana cara bikin proposal, cara menulis hingga melakukan penelitian bersama," ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti,Ali Ghufron Mukti, di Jakarta, Rabu (18/4).

Dosen-dosen asing tersebut nantinya akan membagikan pengetahuan bagaimana mengerjakan proposal kemudian melakukan penelitian yang berkualitas, hingga menemukan hal-hal baru.

"Nantinya para dosen yang berkualifikasi dan berkelas internasional itu, kita harapkan bisa berkolaborasi mengangkat penelitian kita serta meningkatkan produktivitas terutama di kinerja perguruan tinggi."


Dirjen Ali Gfufron menambahkan tugas utama dosen asing tersebut bukan untuk mengajar di kelas, namun bekerja sama mengangkat penelitian di kampus itu.

Ghufron menambahkan para dosen asing tersebut bukan hanya dosen berkewarganegaraan asing, tetapi juga bisa warga negara Indonesia yang menjadi dosen di negara lain."Program ini beririsan dengan program diaspora dan 'world class professor (WCP)' yang kita adakan".

Untuk tahap awal, lanjut Ghufron, pihaknya akan mendatangkan sebanyak 200 dosen asing pada tahun ini. Mereka akan disebar di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) yang ada di Tanah Air.


Dosen Asing Diperkirakan Enggan Mengajar di Indonesia


Ia mengatakan kebijakan membolehkan dosen asing mengajar di Indonesia sudah lama dilakukan pemerintah, namun maksimal hanya enam bulan. Jika sampai dua tahun mengabdi di kampus di Indonesia, selain dosen itu menolak, pihak kampusnya juga belum tentu mengizinkan.
"Khusus untuk sains dan teknologi, hampir dapat dipastikan dosen yang bersedia mengajar di Indonesia kurang berkualitas. Kalau berkualitas tidak mungkin diizinkan kampus asalnya," ucapnya.
Akhlus berpendapat, dosen asing yang diijinkan berlama-lama mengabdi di Indonesia kemungkinan di bidang humaniora untuk kepentingan laboraturium alam.
"Kalau humaniora kemungkinan dapat lama, karena sambil melakukan kajian," katanya.
Ia mengatakan, kebijakan membuka keran dosen asing mengabdi di kampus-kampus di Indonesia bukan hal yang mudah dilaksanakan. Salah satu persoalan yang dihadapi kampus yang menerima dosen asing tersebut terkait gaji dan pendapatan lainnya.
Standar gaji dosen asing berbeda dengan gaji dosen lokal. Gaji termurah untuk dosen asing USD5.000 per bulan.
"Tentu harus bersumber dari APBN. Sistem yang dibuat juga harus jelas. Kalau dibayar pakai standar lokal, mereka pasti menolaknya," ujarnya.
Ia mengatakan, pihaknya belum berpikir untuk memanfaatkan kebijakan pusat tersebut. Ia justru berpendapat pemerintah sebaiknya mengoptimalkan kebijakan mempekerjakan dosen asing dalam waktu satu semester.

"Saya pikir itu lebih baik, dan efektif," katanya.


Dosen asing yang berkualitas kemungkinan keberatan mengajar di Indonesia dalam jangka waktu 2 tahun, kata Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Prof Syafsir Akhlus.

"Pada dasarnya kami memahami kenapa pemerintah memberlakukan kebijakan itu. Namun kemungkinan dosen asing yang berkualitas, terutama di bidang sains dan teknologi menolak mengabdi di kampus Tanah Air karena terlalu lama," ujarnya di Tanjungpinang, baru-baru ini.
https://news.okezone.com/read/2018/04/19/65/1888936/dosen-asing-diperkirakan-enggan-mengajar-di-indonesia


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer
--------------------------------------------------------------
" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top