Geruduk Kantor Radar Bogor, Coba yang Lakukan FPI Atau Massa Kaus #2019GantiPresiden, Digoreng Sampe Gosong

Baca Juga 

  Yes  Muslim  - Aksi kekerasan dipertontonkan sekitar seratus orang kader dan simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) pada kantor media Radar Bogor di Jalan KH. R. Abdullah Bin Muhammad Nuh, Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu 30 Mei 2016 sekitar pukul 16.00.







Pemimpin Redaksi Radar Bogor Tegar Bagja, menuturkan, massa PDI P yang datang beramai-ramai dengan motor dan pengeras suara tanpa pemberitahuan sebelumnya, tak hanya merusak properti kantor, namun juga memukul staf yang saat itu bertugas.

"Mereka datang dengan marah-marah, membentak, mengejar staf kami yang ada di depan, dan merusak dengan sengaja properti kami. Secara fisik, satu orang staf kami ada yang dipukul tapi ditangkis. Itu terjadi di belakang Aula Radar Bogor di lantai satu. Saya juga didorong-dorong," ujar Tegar.

Aksi kekerasan ini ditanggapi luas oleh berbagai kalangan termasuk Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. 

Mereka mengecam tindakan sewenang-wenang kader PDI P yang melakukan intimidasi terhadap media massa.

"Mengutuk keras aksi kekerasan yang dilakukan kader dan simpatisan PDI P di ruang redaksi. Mendesak kepolisian mengusut tuntas aksi kekerasan dan memprosesnya secara hukum," tulis Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani dalam keterangan pers, Kamis, 31 Mei 2018 seperti dirilis CNN.

Asnil menyatakan, jika PDI P keberatan dengan pemberitaan Radar Bogor bertajuk 'Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 juta', dengan ilustrasi foto Ketua Umum PDI P, Megawati Soekarnoputri, maka seharusnya menempuh mekanisme diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 Tentang Pers.
Sementara, publik menilai, aksi kekerasan yang dipertontonkan massa PDI P ini merupakan aksi persekusi.


Demokrasi itu Bebas berpendapat, bebas menulis jika merasa berkeberatan tulisan harus dibalas tulisan, pendapat harus dibalas pendapat, jika memfitnah dan mencemarkan nama baik ada jalur Hukum pergunakan semua sarana yang sudah disediakan jangan asal main persekusi





Pendukung Jokowi Buat Rusuh', Semua Aparat Diam'......
Jika Pelaku Di Luar Penguasa'...
Pasti Semua Bersuara' Dan Di Tuduh Persekusi', Anarkis', Dll.....



 Anehnya, peristiwa persekusi kepada kantor media ini tak membuat pendukung Jokowi berteriak-teriak menyerukan "stop persekusi". Mereka diam, seolah persekusi kepada sebuah media adalah hal lumrah.

Berbanding terbalik jika pihak mereka yang diperlakukan serupa. Apalagi bila pelakunya FPI atau Massa Berkaus #2019GantiPresiden, wuaaah... bisa-bisa 24 j sehari, 7 hari seminggu kasus tersebut akan diblowup habis-habisan dan digoreng sampai gosong melalui berbagai kesempatan, mulai dari cuitan hingga gelar wicara di televisi.

Sayangnya, karena pelakunya bukan FPI dan massa berkaus #2019GantiPresiden, maka insiden penyerbuan dan pemukulan ini adem-adem, jauh dari goreng-menggoreng.

Giliran Pedeipeh yang persekusi dan mukul, eh pada anteng kabeh...
Coba kalo pelakunya FPI, alam semesta geger.. Pasukan JIL, JIN, sampe akun curut semua keluar dari sarang ikut goreng sampe angus.. ngus.. ngusss https://twitter.com/maspiyuuu/status/1002043835558473729 
Silakan simak video bukti kebrutalan massa PDI P yang melakukan kekerasan di kantor Radar Bogor Rabu, 30 Mei 2018.



Subhanallah.. BERBEDA dengan PDI P, PKS dan Demokrat Tempuh Jalur Terhormat Saat Jadi "Korban" Media

Penyerbuan kantor media Radar Bogor yang dilakukan oleh massa kader PDI P menuai kecaman berbagai pihak.





Penyerbuan yang diikuti pemukulan dan perusakan kantor Radar Bogor itu kabarnya disebabkan adanya berita yang dianggap merugikan mencemarkan nama Ketua Umum PDI P Megawati.

Cara tak elok yang ditempuh PDI P untuk memprotes pemberitaan media ini berbanding terbalik dengan cara elegan yang ditempuh 2 partai lain, yakni Partai Demokrat dan PKS.

Ketua MPR Hidayat Nurwahid menjelaskan, PKS pun pernah menjadi korban media bernama "Bogor Today". Namun PKS memilih jalan terhormat dengan mendatangi baik-baik media tersebut dan berdiskusi.
Selain PKS, Partai Demokrat pun menempuh jalur hukum untuk memperkarakan Media Indonesia yang pemberitaannya dinilai tidak berdasarkan fakta dan merugikan Partai Demokrat.

Diungkap oleh Jansen Sitindaon, Ketua DPP Partai Demokrat, menggeruduk memang lebih mudah ketimbang menyusun gugatan secara tertib.


Cara-cara tak beradab sudah dipertontonkan oleh PDI P. Yakinkah ingin bangsa ini kembali dipimpin oleh kader PDI P?



Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer
--------------------------------------------------------------
" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top