Honggo Wendratno Dan Kasus Lenyapnya 38 Trilliun Kekayaan Negara

Baca Juga 

  Yes  Muslim  - Siapa Honggo Wendratno? Seberapa kaya pengusaha keturunan ini? Apa saja perusahaan yang pernah dia kuasai?

Bagaimana kronologis dan permainan mega kasus kondensat yang mengalahkan kasus e-KTP, dan bahkan kasus manipulasi Bapindo era 1990an yang dilakukan Eddy Tanzil?| Fakta dan rekam jejak digital kasus Kondensat tidaklah semarak kasus OTT yang dilakukan KPK kepada Irman Gusman, atau hebohnya kasus mantan ketua PKS, Lutfi Hasan yang bahkan asetnya disita dan dilelang oleh KPK. Kasus ini sepertinya difokuskan kepada satu orang saja, dengan meninggalkan logika, bahwa tidak mungkin Honggo Wendratno bekerja dan menikmati keuntungan sendiri.  Berikut rekam jejak digital yang berhasil dihimpun Daimca.







1. Honggo Wendratno adalah seorang warga keturunan Cina, keahiran kediri 12 September 1964.
2. Masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia dengan jumlah kekayaan sebesar US$170juta.
3. Semenjak Mei 2015, Penyidik Polisi sudah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus kondensat ini. Mereka adalah Raden Priyono, Djoko Harsono, dan Honggo Wendratno.
4. Honggo Wendratno adalah direktur utama PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) dan pemegang saham PT. Tirtamas Majutama, serta Tuban LPG Indonesia (PT. TLI).
link:
5. Presiden Jokowi pernah mengunjungi PT Trans Pacific Petrochemical Indotama , meski saat itu Honggo Wndratno telah hengkang dari NKRI dan telah menjadi tersangka.
6. Honggo menghilang saat polisi hendak menyerahkan dia beserta dua tersangka kasus korupsi kondensat lainnya ke Kejaksaan Agung. Dia tak kunjung datang ke Bareskrim meski sudah tiga kali dilayangkan surat panggilan untuk pelimpahan perkara tahap II.
7. Besarnya korupsi yang dilakukan Honggo Wendratno sebanyak US$. 2.716 milliar atau setara Rp.35 Triliun (Kurs saat itu). Artinya jika dikurskan saat ini (01-2018) ada sejumlah Rp.36,5 Triliun.
8. Manipulasi korupsi dalam perkara ini pertama kali muncul bulan Mei 2015, saat penunjukan langsung dari SKK Migas ke PT TPPI untuk menjual kondensat ke Pertamina. Lalu, PT TPPI diduga telah melanggar kebijakan menjual Kondensat ke perusahaan lain, padahal harusnya menjual ke Pertamina.
9. Kenapa ada penunjukan langsung disini? Siapa yang melakukan penunjukan dari SKK Migas tersebut? SKK Migas tidak membuat berita acara penelitian terhadap dokumen penawaran PT TPPI, perusahaan yang ditunjuk langsung.
10. KPK saat itu dipimpin oleh Taufiequrachman Ruki sebagai pelaksana tugas, menggantikan Abraham Samad, yang memiliki masa jabatan singkat yaitu, dari 20 Februari 2015 – 20 Desember 2015. Kemudian dilanjutkan oleh Agus Rahardjo semenjak 21 Desember 2015.
11. Abraham Samad yang merupakan praktisi Anti Korupsi, dihentikan ditengah jalan jabatannya sebagai Ketua KPK, dengan kasus pemalsuan dokumen berupa KTP, Paspor dan Kartu Keluarga.http://www.dw.com/id/daftar-tangkapan-terbesar-kpk/a-18214980
12. Kesaktian KPK dalam kemampuan menyadap dan melakukan Operasi Tangkap Tangan hilang dan menyebabkan tersangka pencuri kekayaan negeri ini kabur ke Singapura. Andainya KPK berhasil memaksa dan memenjarakan Honggo, tentu akan menambah daftar diciduknya penjahat perajah kekayaan bangsa ini.
13. Siapa oknum di SKK Migas yang bekerja sama dengan Honggo Wendratno?
14. Sejak Mei 2015, penyidik sudah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus kondensat ini. Mereka adalah Raden Priyono, Djoko Harsono, dan Honggo Wendratno.





15. Senin, tanggal 13 Juli 2015, Mabes Polri pernah menyatakan takkan memeriksa lagi bekas bos PT TPPI, Honggo Wendratmo setelah yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi.
16. Kamis, 16 Juli 2017, Honggo berangkat ke Singapura untuk berobat jantung.  Penyidik sudah memastikan kondisinya ke rumah sakit dan melihat Honggo diinfus. Pengacara Honggo pun membuat surat menolak diperiksa. Akhirnya, penyidik pun kembali ke Indonesia.
17. Sejak pemeriksaan itu, Honggo tak pernah lagi pulang ke Tanah Air. Hingga Budi Waseso dan Victor lepas jabatan dari Kepala Bareskrim dan Direktur Tipideksus.
18. Honggo Wendratno memecahkan rekord korupsi terbesar sepanjang sejarah perkorupsian Indonesia. Tercatat Eddi Tansil, alias Tan Tjoe Hong, awal 1990an membobol Bapindo sebesar 1.5 Trilyun saat itu, atau 9 Trilyun untuk ukuran saat ini, lebih besar dari Skandal Bank Century yang juga melibatkan pengusaha China.
19. Sebuah pernyataan besar, seberapa serius aparat penegak hukum dan pejabat negeri ini menyikapi mega skandal ini?
20. Honggo tidak sendiri. Seberapa berani pemerintah berani melibas dan mengungkap kasus kondensat?
Catatan kaki:
Kasus ini heboh di bulan Februari 2018. Namun kemudian lenyap tak berbekas hingga kini.
Kita tunggu sambil tetap berharap 38 Trilyun kembali ke tanah air supaya ada ada anggaran subsidi traktor dan solar untuk petani dan nelayan bangsa ini.
***


Honggo Sudah Di Luar Negeri, Bareskrim Baru Terbitkan DPO

Kasus Korupsi Kondensat Rp 35 Triliun

RMOL. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akhirnya menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) atas nama Honggo Wendratno. Padahal, tersangka kasus korupsi penjualan kondensat negara itu diduga sudah berada di luar negeri sejak lama.
DPO itu diterbitkan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dit Tipideksus) 26 Januari 2018. Ditandatangani Wakil Direktur Komisaris Besar Daniel Tahi Monang Silitonga.
Foto Honggo yang dicantum­kan di DPO tidak mengenakan kacamata. Padahal, berdasarkan foto yang beredar, pria kelahiran 12 September 1946 itu mengenakan kacamata.
Di situ juga dicantumkan nomor paspor, nomor KTP hingga sangkaan pidana yang dilakukan bekas pemilik Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) itu.
“Draft DPO sudah disebar, didistribusikan ke seluruh Polda dan kepolisian di seluruh wilayah Indonesia,” kata Daniel. Masyarakat yang mengetahui keberadaan Honggo diimbau untuk memberitahukannya ke kantor polisi terdekat.
Hingga kini, Bareskrim masih berkutat mencari Honggo di Tanah Air, dengan menyambangidan menggeledah kediaman­nya di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan.
Padahal, Honggo sudah pergike Singapura ketika kasus kondensat mulai disidik di era Kepala Bareskrim Budi Waseso 2015 lalu.
Direktur Tipideksus Bareskrim saat itu, Brigadir Jenderal Victor Edinson Simanjuntak langsung menggebrak dengan menggeledah kantor Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dulu bernama Badan Pengelola Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas).
Tak hanya itu, Victor memanggilHonggo Wendratno. Namun bekas pemilik dan Direktur Utama TPPI itu selalu mangkir dan mengundur-undur pemeriksaan. “Kuasa hukum bilang setelah tanggal 29 (Mei) saja,” kata Victor dalam keterangan pers 22 Mei 2015.
Diam-diam, Honggo pergi ke Singapura dengan dalih hendak berobat. “Penasihat hukumnya minta diperiksa di Singapura karena yang bersangkutan sakit. Ada surat dari penasihat hukumnya, Ariyanto SH,” lanjut ung­kap Victor, 8 Juni 2015.
Victor mengaku dua kali menerima surat keterangan medis (medical certificate) dari dokter Singapura yang diserahkan kuasa hukum Honggo. Surat itu menyatakan Honggo sakit dan perlu menjalani operasi bedah jantung.
“Dikhawatirkan, kalau kem­bali ke Indonesia nanti akan lebih fatal. Dia (Honggo) berjanji kalau sudah operasi akan kem­bali ke Indonesia,” kata Victor.
Namun Bareskrim justru mempercepat pemeriksaan sebe­lum Honggo dioperasi. Penyidik pun dikirim ke Singapura. “(Pemeriksaan) di Kedutaan Besar Indonesia di negara itu. Hasil pemeriksaan harus dike­tahui, ditandatangani dan dicap kedutaan. Akan dilakukan sebe­lum operasi,” ujar Victor.
Sejak pemeriksaan itu, Honggotak pernah lagi pulang ke Tanah Air. Hingga Budi Waseso dan Victor lepas jabatan dari Kepala Bareskrim dan Direktur Tipideksus.
Pengganti Victor, Brigjen Bambang Waskito melanjutkan penyidikan. Upaya membawa pulang Honggo tak membuah­kan hasil hingga Bambang me­nyerahkan tongkat komando Direktur Tipideksus kepada Agung Setya.
Agung, bekas Wakil Direktur Tipideksus pernah mengirim penyidik ke Singapura untuk melalui pemeriksaan tambahan terhadap Honggo.
Pemeriksaan ini untuk me­lengkapi berkas perkara setelahdikembalikan kejaksaan. “Dibutuhkan keterangan lanjutan dari tersangka yang kini sakit di Singapura,” kata Agung. Namun penyidik gagal memeriksa Honggo.
Setelah penyidikan lebih dari dua tahun, Kejaksaan Agung akhirnya menyatakan berkas perka­ra kondensat lengkap. Kejaksaan pun meminta Bareskrim menyerahkan tersangka.
Permasalahan pun muncul. Honggo belum bisa dibawa pulang. Sementara kejaksaan meminta semua tersangka dis­erahkan sekaligus.
Pelimpahan tersangka Raden Priyono (bekas Kepala BP Migas) dan Djoko Harsono (bekas Deputi Finansial, Ekonomi dan Pemasaran BP Migas) pun batal. Padahal, keduanya sudah memenuhi panggilan Bareskrim.
Kilas Balik
Kejaksaan Bisa Sidangkan Perkara Kondensat Tanpa Kehadiran Tersangka
Berkas perkara kasus korupsi penjualan kondensat jatah negara oleh Trans Pacific Petrochemical Indotama (TTPI) sudah dinyata­kan lengkap atau P21. Bareskrim ditagih menyerahkan tersangka kasus itu ke kejaksaan.
Termasuk Honggo Wendratno, bekas pemilik TPPI yang dike­tahui bermukim di Singapura. “Harapan kita kepada penyidik (Bareskrim) tentunya supaya tidak ada kesan disparitas, usa­hakan si Honggo ini diserahkan di Indonesia. Diserahkan pada kita supaya penyelesaiannya bisa dilakukan secara serentak,” kata Jaksa Agung Muhammad Prasetyo.
Menurut Prasetyo, Honggo bisa saja disidangkan secara in absentia jika tak bisa dibawa pulang. “Kita sudah pernah melakukan persidangan in absentia. Jangan kaget nanti kalau misal­nya in absentia,” kata Prasetyo.
Jika sampai Honggo disidang secara in absentia, dia bakal dikenakan hukuman lebih berat lantaran dianggap menghambat proses hukum.
“Saya tentunya mengimbau kepada Honggo yang sekarangdi Singapura, pulanglah keIndonesia. Pertanggungjawabkan perbuatan supaya proses hukumnya selesai,” imbau Prasetyo.
Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Adi Toegarisman menyatakan berkas perkara ka­sus kondensat telah lengkap.
Kejaksaan menerima pelimpa­han dua berkas perkara dari penyidik Bareskrim pada 18 Desember 2017.
Berkas pertama terdiri dari dua tersangka, yaitu Raden Priyono (bekas Kepala Badan Pengelola Hulu Minyak dan Gas/BP Migas) dan Djoko Harsono (bekas Deputi Finansial, Ekonomi dan Pemasaran BP Migas).
Sedangkan berkas kedua atas nama tersangka bekas Direktur Utama sekaligus pemilik TPPI Honggo Wendratno.
Kasus ini diduga menyebabkankerugian negara hingga 2,716 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp 35 triliun.
“Ada sekitar enam pelangga­ran hukumnya dalam kasus ini. Tapi saya tidak buka. Karena itu strategi jaksa membawa perkara ini ke pengadilan,” kata Adi.
Setelah berkas perkara P21, kejaksaan tinggal menunggu pe­limpahan tersangka dan barang bukti dari penyidik Bareskrim.
“Segera pelimpahan tahap dua: barang bukti dan tersangkanya,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim, Brigadir Jenderal Agung Setya.
Termasuk Honggo yang saat ini masih di Singapura. “Pasti akan diserahkan semuanya (ter­sangka),” tandas Agung.
Agung mengatakan akan mengirim tim untuk membawa pulang Honggo. Namun dia belum memastikan kapan tim Bareskrim berangkat ke negara tetangga itu.
Sebelumnya, Bareskrim men­jalin kerja sama dengan otoritas Singapura untuk bisa membawa pulang Honggo. Honggo ber­mukim di negara singa putih untuk perawatan sakit jantung. Ia sempat menjalani operasi. Namun kini tak diketahui lagi kondisi kesehatannya.
Sementara terhadap dua ter­sangka lainnya, Raden Priyono dan Djoko Harsono akan di­layangkan surat panggilan untuk pelaksanaan pelimpahan ke kejaksaan.
Sumber: rmol.co
***

AJAIB!!! Buron Korupsi 35 Triliun, Perusahaan Taipan Honggo Wendratno Masih Beroperasi


 
JAKARTA - Honggo Wendratno, tersangka kasus korupsi senilai Rp 35 Triliun sampai saat ini masih buron dan dikabarkan melarikan diri ke Singapura.

Berdasarkan penghitungan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), dalam kasus korupsi penjualan kondensat oleh PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) yang juga melibatkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), negara dirugikan sebesar 2,716 miliar dollar AS. Jika dikonversi ke rupiah, nilainya sekitar Rp 35-36
triliun.

Bareskrim Polri pada 26 Janauri 2018 resmi mengeluarkan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap Honggo Wendratno. Padahahl taipan eks Direktur Utama TPPI itu diduga sudah berada di luar negeri sejak lama.

Dan ajaibnya... seperti diliput tvOne, perusahaan hongga sampai saat ini masih beroperasi.

Berikut video liputan tvOne.

[video1 - Aktivitas Perusahaan Honggo Masih Berjalan Normal Meski Menjadi Buron]



[video2 - Tersangka Korupsi Rp 38 Triliun, Honggo, Sudah Melarikan Diri ke Luar Negeri]



[video3 - Profil Tersangka]



EKSKLUSIF: Honggo Wendratno, Buron Koruptor Rp 35 Triliun Nongkrong di Singapura



Buronan kasus korupsi penjualan kondensat SKK Migas yang merugikan negara Rp 35 Triliun, Honggo Wendratno terlihat bersantai dengan tiga rekannya di sebuah cafe di Singapura. Honggo terlihat segar bugar dan berpose serta menampilkan senyuman saat difoto.




Penampilan terbaru Honggo Wendratno yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang atau DPO Polri ini didapatkan dari sumber Kriminologi di Singapura.

"Foto itu belum lama diambil, Honggo minum teh bersama beberapa orang di sebuah cafe di Singapura," kata dia tanpa menjelaskan secara rinci kapan tepatnya foto tersebut diambil.

Menurutnya, acara minum teh pada sore hari mungkin biasa dilakukan Honggo untuk mengisi waktu luang selama dalam pelariannya.

"Biasa bagi sebagian warga negara Indonesia untuk nongkrong sore hari sambil ngopi atau minum teh di salah satu cafe di Singapura," kata sumber yang mewanti-wanti kru redaksi Kriminologi untuk tidak mengungkap jati dirinya ke publik.

Sebelumnya, Polri telah menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap Honggo Wendratno pada 26 Januari 2018 lalu dan disebar ke 193 negara.

"Disebar 193 Negara anggota Interpol, disebut

dengan Red Notice, yaitu meminta bantuan untuk menangkap dan memulangkan tersangka ke negara ini," jelas Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, Selasa, 30 Januari 2018.

Menurut Setyo, keberadaan Honggo saat ini masih belum ditemukan baik secara fisik atau dokumen-dokumen pendukung apakah yang bersangkutan berada di Singapura atau tidak.

"Belum ada, padahal kita sudah koordinasi dengan otoritas Singapura sendiri baik dari Kepolisian, Imigrasi Otoritas Bandara kan sendiri di Changi maupun di perlintasan Imigrasi melalui kapal belum ada," jelas mantan Kadivkum Polri ini.

Honggo tak kunjung memenuhi panggilan penyidik Bareskrim untuk mengikuti proses penyerahan tahap dua (berkas dan tersangka serta barang bukti bukti lainnya) ke Kejaksaan Agung. Honggo tak kunjung datang ke Bareskrim meski sudah tiga kali dilayangkan surat panggilan untuk pelimpahan perkara tahap dua.

Dalam kasus ini, Honggo dan tersangka lainnya dijerat Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sumber: kriminologi.id





Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer
--------------------------------------------------------------
" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top