150 Orang Sindikat Internasional Tipu-tipu China Gerebek Bareskrim Mabes Polri di Bali

Baca Juga 

150 Orang Sindikat Internasional Tipu-tipu China Gerebek Bareskrim Mabes Polri di Bali
 



Jakarta, Kabarsatu - Tim gabungan kepolisian Tiongkok, Bareskrim Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Polres Depok, dan Polrestabes Surabaya kemarin menggulung sindikat penipuan online internasional. Tidak tanggung-tanggung, operasi tersebut dilakukan secara simultan di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Total, 150 orang yang mayoritas warga negara (WN) Tiongkok ditangkap.

Hingga berita ini ditulis, belum jelas siapa yang menjadi otak sindikat tersebut Namun, korbannya adalah orang-orang di Tiongkok sendiri. "Masih satu kesatuan (operasi di Jakarta, Bali, dan Surabaya, Red). Kami saling koordinasi. Tapi, masih kami perdalam dan petakan," kata Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Didik Sugiarto kepada sejumlah wartawan di lokasi penggerebekan di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Skala sindikat itu sangat besar. Menurut seorang petugas yang ikut menangani kasus itu, dalam laporan kepada Interpol, kepolisian Tiongkok menyebut sindikat itu berhasil menggondol sedikitnya USD 45 juta (Rp 600 miliar) dalam satu tahun terakhir.

"Modusnya sederhana, mereka menipu orang-orang di Tiongkok dengan cara menyebutkan famili mereka bermasalah dengan hukum dan harus membayar dalam jumlah tertentu supaya bebas," tutur petugas itu. Jadi, korbannya adalah orang-orang Tiongkok sendiri. Sindikat tersebut sengaja memilih luar negeri sebagai home base supaya tidak mudah terlacak.

Sumber itu juga menyebutkan, sindikat tersebut diduga mempunyai kemampuan cracking (membobol sistem keamanan komputer). Sebab, mereka bisa mengetahui siapa-siapa saja yang bermasalah di Tiongkok. Dengan begitu, mereka bisa dengan tepat menyasar keluarga orang-orang yang bermasalah dengan hukum. "Itu yang membuat kepolisian Tiongkok khawatir. Sebab, bisa jadi ada kebobolan dengan sistem mereka," lanjutnya.

Selain itu, besarnya skala sindikat tersebut bisa dilihat dari postur jaringannya di Indonesia. Sindikat tersebut mempunyai markas di perumahan mewah. Di Jakarta, home base-nya berada di Pondok Indah. Di Bali, markas mereka terdapat di Kuta Selatan. Lalu, di Surabaya, langsung tiga rumah di perumahan paling mahal, Graha Family, yang mereka huni. "Kami belum mengetahui apakah sindikat tersebut membeli atau menyewanya. Kami belum bisa melakukan pemeriksaan secara intensif," kata AKBP Didik.

Besarnya skala itu juga tampak dari jumlah anggota sindikat. Dari Pondok Indah, polisi membekuk 29 orang yang rata-rata WN Tiongkok. Sementara itu, dari Kuta Selatan, aparat menahan 28 orang.
Yang paling banyak terdapat di Surabaya. Total, ada 93 orang yang ditangkap dan dikumpulkan dari operasi kemarin. Perinciannya, 12 WN Taiwan, 1 WN Malaysia, 1 WNI, dan sisanya WN Tiongkok. Sebanyak 26 orang di antara mereka adalah perempuan. Semuanya berasal dari Tiongkok.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos menyebutkan, sindikat tersebut sebenarnya diintai sejak Maret lalu. Ketika itu Mabes Polri menerima pengaduan kepolisian Tiongkok. Kepolisian Tiongkok menyebutkan, ada sejumlah sindikat penipuan dengan sasaran warga Tiongkok yang bermarkas di Indonesia.



Dari catatan Jawa Pos, dalam dua tahun terakhir ada empat kali penggerebekan. Yang pertama Mei 2015 di Cilandak, Jaksel. Ketika itu sebuah sindikat penipuan dengan modus yang sama digerebek. Dari operasi tersebut, 33 orang ditangkap. Kemudian, pada Desember 2015, giliran Polda Metro Jaya yang membekuk 30 anggota sindikat penipuan dengan sasaran warga Tiongkok.

Pada 2016, tidak terdengar penggerebekan. Namun, Mei lalu Bareskrim Mabes Polri bersama Polda Sumut menggerebek sebuah rumah di kawasan Tanjung Morawa, Deli Serdang. Ketika itu 77 WN Tiongkok ditangkap, kemudian diekstradisi ke Tiongkok.

"Tampaknya mereka belajar bahwa di Jakarta tidak aman. Mereka kemudian pergi ke daerah-daerah," kata seorang petugas Polda Metro Jaya yang juga menangani kasus tersebut.

Yang terakhir sekaligus yang paling besar adalah operasi penggerebekan yang dilakukan kemarin. Penangkapan simultan di tiga daerah. Dari hasil pengintaian selama lebih dari tiga bulan, sindikat itu merupakan satu bagian dari sindikat yang sama.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal mengatakan bahwa pihaknya sekadar membantu pengungkapan yang dilakukan Bareskrim, Polda Metro, dan kepolisian Tiongkok.

"Soal detailnya, saya juga belum tahu. Apalagi, tidak ada satu pun dari warga asing itu yang bisa berbahasa Indonesia. Entah itu beneran atau berpura-pura, saya tidak tahu," ucap orang nomor satu di jajaran kepolisian Surabaya tersebut.

Dari pemeriksaan sekilas, sindikat itu datang ke Surabaya secara bergiliran mulai Januari hingga Februari 2017.

 "Kemudian, mereka langsung datang ke tiga rumah di Graha Family ini," ucapnya.

Lamanya mereka di Surabaya juga bisa dilihat dari tempat penggerebekan. Banyak peralatan memasak dan kasur yang berderet-deret di rumah tersebut. Fungsi rumah diubah menjadi mirip bangsal dan tempat kerja begitu saja. Dari pemeriksaan sementara, mereka datang dengan visa kunjungan biasa. Ada beberapa orang yang overstay.

Dari tiga rumah yang digerebek di Surabaya, polisi menyita 5 laptop, 3 iPad mini, 1 iPad, 41 telepon, 12 wireless router, 12 network hub, 82 ponsel, dan 17 numeric keyboard. "Mereka tampaknya sangat profesional," ucap mantan Kabidhumas Polda Metro Jaya tersebut.

Hanya, Iqbal menyatakan belum tahu soal proses selanjutnya. "Karena kami hanya bertugas mem-back up," ucapnya. "Mabes nanti dengan kepolisian Tiongkok yang memutuskan, apakah langsung diekstradisi atau diproses dulu di sini," tambahnya.

Terpisah, seorang petugas Bareskrim menyatakan bahwa mereka mengintai sindikat itu di Surabaya sejak tiga bulan lalu.

 "Memang cukup lama. Kami harus memastikan dulu apakah sudah semua sindikat berhasil kami identifikasi. Juga untuk mencocokkan hasil penyelidikan dengan tim yang mengintai di Jakarta dan Bali," terangnya.

Petugas mengakses rumah-rumah yang diincar dengan cara bermacam-macam. Tapi, yang paling membuahkan hasil, mereka menyamar sebagai petugas TV kabel. Begitu bisa masuk, mereka bisa mengonfirmasikan bahwa memang sindikat itu yang sedang dicari.

"Melihat situasi rumah yang penuh dengan wifi router, telepon, dan HP dalam jumlah banyak," ucap dia.[jpnn/fatur]

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top