Panduan dan Doa Shalat Gerhana Matahari dan Bulan Lengkap dalam Bahasa Arab, Latin dan Artinya

Baca Juga 

Panduan dan Doa Shalat Gerhana Matahari dan Bulan Lengkap dalam Bahasa Arab, Latin dan Artinya
 


Panduan dan doa shalat gerhana / Pic source : republika

Siapa yang tak mengetahui perihal gerhana? Pastilah banyak yang mengetahui hal tersebut karena dalam pelajaran ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah telah dibahas sedemikian rupa.

Membahas tentang hal tersebut, gerhana terjadi karena persitiwa alam yang bisa saja menarik minat siapa pun yang melihatnya.

Selain menarik, namun gerhana juga menyimpan sebuah rahasia bagi umat Islam yang tak boleh dilewatkan lho.

Baca juga : Doa Istri untuk Suami yang Sedang Mencari Nafkah Supaya Rezeki Berlimpah

Baik gerhana bulan maupun matahari, semuanya memiliki beberapa fakta yang sangat sayang jika dilewatkan.

Mengenai hal apakah beberapa rahasia tersebut?

Salah satunya yakni perihal sholat gerhana dan doanya, dimana dalam hal ini akan dibahas secara lengkap tentang shalat di waktu tersebut dan beberapa ulasan lainnya.

Makna Shalat Gerhana dalam Pandangan Islam

Ketahuilah bahwa sebelum memahami arti doa shalat gerhana matahari dan bulan.

Makna dari shalat gerhan sendiri di dalam Islam termasuk ke dalam ibadah yang khusus dilakukan ketika ada peristiwa alam tersebut.

Shalat gerhana sendiri dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf ( الخسوف ) dan juga kusuf ( الكسوف ) sekaligus.

Secara bahasa, kedua istilah itu sebenarnya punya makna yang sama.

Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan sama-sama disebut dengan kusuf dan juga khusuf sekaligus.

Namun masyhur juga di kalangan ulama penggunaan istilah khusuf untuk gerhana bulan dan kusuf untuk gerhana matahari. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 2 halaman 1421)

Kusuf adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.

Khusuf adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.

Dibalik pengertiannya, ternyata hukum melaksanakan shalat tersebut termasuk ke dalam sunnah muakkad yakni shalat sunnah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, tergantung waktu dan keadaan.

Allah SWT berfirman,

"Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan.

Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. " (QS. Fushshilat: 37)

Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.

Selain itu juga Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya.

Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu." (HR. Bukhari no. 1043, Muslim no. 915)

Dari dalil tersebut, sempurnalah anjuran untuk kita sebagai umat agar mendirikan shalat dan membaca doa shalat gerhana matahari dan bulan.

Panduan Shalat Gerhana

Panduan dan doa shalat gerhana / Pic source : makassarterkini

Sudah disimpulkan bahwa melaksanakan shalat gerhana tata caranya hukumnya sunnah bagi umat Islam yang melihatnya.

Sehingga ketika gerhana tak terlihat di suatu daerah, maka shalat gerhana tidak usah dilakukan.

Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,

أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ

"Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu 'anha -isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari.

Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya:

"Kenapa orang-orang ini?" Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, "Subhanallah (Maha Suci Allah)". Saya bertanya: "Tanda (gerhana)?" Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya."

MasyaAllah, sungguhlah tanda kebesaran Allah SWT itu nyata adanya. Lalu menjadi sebuah pertanyaan, bagaimana caranya melaksanakan shalat gerhana?

Terlebih lagi kali ini akan dibahas lebih rinci mengenai shalat dan doa ketika gerhana matahari dan bulan tersebut.

Panduan dan Doa Shalat Gerhana Matahari dan Bulan Lengkap

Sebagaimana diketahui melalui keterangan hadits-hadits yang shahih, gerhana pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam hidup terjadi hanya sekali.

Yaitu gerhana matahari total yang terjadi pada tahun ke-10 hijriah.

Keterangan tentang cara shalat gerhana tersebut diriwayatkan dalam beberapa hadits dari beberapa sahabat Radhiyallahu 'anhum.

Diantaranya, hadits dari Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiyallahu 'anha,

"Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengeraskan bacaan dalam shalat gerhana, beliau melaksanakan shalat 4 kali ruku dalam 2 rakaat, dan 4 kali sujud." (HR.Muslim no. 901)

Sehingga dari keterangan tersebut, bisa dikutip bagaimana cara melaksanakan shalat gerhana seperti berikut ini.

1. Tata cara shalat gerhana

Panduan dan doa shalat gerhana / Pic source : pinterest

Setelah mempunyai wudhu, maka lekaslah untuk melaksanakan shalat gerhana dua raka'at dengan tata cara sebagai berikut.

1. Membaca niat

Gerhana Bulan

أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

" Ushallii Sunnatal Khusuufi Rak'ataini Lillahi Ta'alaa "

Artinya : " Saya niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Bulan dua rakaat karena Allah ta'ala "

Gerhana Matahari

أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِكُسُوْفِ الشَّمسِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

" Ushallii Sunnatal Kusuufi Rak'ataini Lillahi Ta'alaa "

Artinya : " Aku niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Matahari dua rakaat karena Allah ta'ala "

2. Takbiratul ihram.

3. Membaca doa istiftah, ta'awwudz, dan membaca basmalah secara sir (pelan).

4. Membaca surah Al-Fatihah dan surah secara jahr (keras). Bacaan pada berdiri pertama rakaat pertama ini dipanjangkan, dalam hadits Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma diterangkan "…kurang lebih sepanjang surah Al-Baqarah…" (HR. Al-Bukhari no. 1052, Muslim no. 907).

5. Bertakbir kemudian ruku dengan memanjangkan ruku. Membaca doa ruku dengan diulang-ulang.

6. Kemudian berdiri dari ruku sambil mengucapkan, "Sami'allahu liman hamidah," ketika badan sudah tegak sempurna mengucapkan, "Rabbana walakal hamd."

7. Setelah itu tidak sujud, namun terus berdiri panjang, dan kembali membaca Al-Fatihah dan surah. Namun berdiri kedua pada rakaat pertama ini agak lebih pendek dibandingkan berdiri pertama.

8. Bertakbir kemudian ruku dengan memanjangkan ruku. Membaca doa ruku dengan diulang-ulang. Ruku kedua ini agak lebih pendek dibandingkan ruku pertama.

9. Kemudian berdiri dan ruku sambil mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah," ketika badan sudah tegak sempurna mengucapkan, "Rabbana walakal hamd," ini adalah i'tidal, dan dipanjangkan juga.

10. Berdasarkan hadits dari sahabat Jabir Radhiyallahu 'anhu, "…maka Nabi memanjangkan berdiri sampai-sampai (sebagian makmum) tersungkur, lalu beliau ruku dan memanjangkannya,

Lalu bangkit berdiri dan memanjangkannya, lalu ruku dan memanjangkannya, kemudian bangkit berdiri dan memanjangkannya, kemudian beliau sujud dua kali…" (HR. Muslim no. 904).

Al-Ghazali menukil bahwa ada kesepakatan meninggalkan (amalan) memanjangkan i'tidal ini. Maka dibantah oleh al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah,

"Jika yang dimaksud 'kesepakatan' disini adalah kesepakatan madzhab, maka tidak perlu dibicarakan (karena itu tidak menjadi patokan kebenaran, pen), dan yang jelas pernyataan tersebut terbantah dengan riwayat hadits Jabir tersebut." (Fathul Bari hadits no. 1051)

11. Bertakbir kemudian sujud dengan sujud yang panjang juga. Berdasarkan hadits, "…kemudian beliau sujud dengan sujud yang panjang." (HR. al-Bukhari no. 1047).

12. Kemudian bertakbir dan bangkit, lalu duduk iftirasy dan memanjangkan duduknya. (HR. an-Nasa'i no. 1482).

13. Lalu bertakbir dan kembali sujud dengan sujud yang panjang, namun tidak sepanjang sebelumnya. (HR. al-Bukhari no. 1056).

14. Bertakbir dan berdiri untuk rakaat kedua. Demikian berikutnya sama persis dengan rakaat pertama, hanya saja masing-masing lebih pendek dari pada sebelumnya.

Pada berdiri pertama rakaat kedua kembali membaca Al-Fatihah dan surah dengan jahr dan dipanjangkan pula kurang lebih sepanjang surat ali 'Imran. (HR. Abu Dawud no. 1187).

16. Kemudian duduk bertasyahud, membaca shalawat, dan salam ke kanan dan ke kiri.

Itulah bagaimana sebagai seorang muslim ketika mendirikan shalat gerhana, mungkin sedikit sama seperti shalat sunnah pada umumnya.

Akan tetapi perbedaan terjadi pada waktu, niat shalat gerhana, serta doanya.

Berbicara mengenai doa, bagaimanakah doa shalat gerhana matahari lengkap dengan shalat gerhana bulan yang sesuai dengan sunnah?

2. Doa Shalat Gerhana Matahari dan Bulan Lengkap

Mengenai doa dari kedua shalat sunnah tersebut, berikut adalah bacaan yang bisa dilafalkan ketika telah menunaikan shalat gerhana.

Jangan sampai disepelekan, karena bukan hanya sekedar berdoa akibat adanya gerhana yang datang saja. Akan tetapi lebih dari itu, seperti ulasan berikut ini.

Doa shalat gerhana

اَللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَالِكُ السَّمَوَاتِ واْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ 

Allaahumma lakal hamdu anta qayyimus samaa waati wal ardhi wa man fiihinna.

Wa lakal hamdu anta malikus samaa waati wal ardhi wa man fiihinna.

Wa lakal hamdu anta nuurus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna.

Wa lakal hamdu antal haqqu, wa wa'dukal haqqu, wa liqaa'uka haqqun, wa qauluka haqqun, wal jannatu haqqun, wannaaru haqqun,

wannabiyyuuna haqqun, wa muhammadun shallallaahu 'alaihi wasallama haqqun wassaa'atu haqqun.

Allaahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa 'alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khaashamtu, wa ilaika haakamtu,

faghfirlii maa qaddamtu, wa maa akh-khartu, wa maa asrartu, wa maa a'lantu, wa maa anta a'lamu bihiminnii.

Antal muqaddimu, wa antal mu'akhkhiru, laa ilaaha illaa anta, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Artinya:

"Wahai Allah! Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penegak dan pengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji.

Engkaulah penguasa (raja) langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya.

Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah Yang Hak (benar),janji-Mu lah yang benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar (ada), neraka itu benar (ada), para nabi itu benar,

Nabi Muhammad saw itu benar, dan hari kiamat itu benar(ada).

Wahai Allah! Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dehgan-Mu lah kuhadapi musuhku, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum.

Oleh karena itu ampunilah segala dosaku, yang telah kulakukan dan yang (mungkin) akan kulakukan, yang kurahasiakan dan yang kulakukan secara terang-terangan,

dan dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku.

Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah Yang Maha Terakhir. tak ada Tuhan selain Engkau, dan tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."


Panduan dan doa shalat gerhana / Pic source : konfrontasi

Baca juga : Amalkan Doa ini Agar Terhindar dari Fitnah

Bisa ditambahkan dengan memperbanyak berdzikir agar semakin lengkap ibadah sunnah yang kita lakukan tersebut.

Itulah ulasan lengkap mengenai doa shalat gerhana matahari dan bacaannya doa gerhana bulan.

Semoga menjadikan diri kita sebagai pribadi yang lebih baik lagi kedepannya, dan berbahagialah ketika sudah pernah melaksanakan shalat gerhana.

Bukan karena apa, namun ketahui pula bahwa gerhana baik bulan maupun matahari bisa saja hanya terjadi sekali dalam seumur hidup seorang manusia. MasyaAllah...

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top