Syekh Yusri Hafidzahullah: Semakin Sempit Ilmu, Maka Seseorang Semakin Banyak Menyalahkan Orang Lain.

Baca Juga 

Syekh Yusri Hafidzahullah: Semakin Sempit Ilmu, Maka Seseorang Semakin Banyak Menyalahkan Orang Lain.
 



KabarViral - Syekh Yusri hafidzahullah Ta'ala wa ro'ah menjelaskan dalam pengajian kitab Bahjat Annufusnya, bahwa semakin sempit ilmu seseorang maka semakin banyak menyalahkan orang lain.

Ketika seseorang berwawasan sedikit tentang ajaran agama baginda Nabi SAW, melalui pemahaman para ulama madzhab, maka semakin sering pula dirinya menyalahkan amaliyah orang lain yang tidak sesuai dengan madzhabnya.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa para ulama dalam memahami sebuah nash yaitu Al Qur'an dan hadits, terkadang berbeda sudut pandang antara yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan ijtihad masing-masing dari mereka.

Dicontohkan sepertihalnya lafadz القرء yang merupakan lafadz musytarak (satu kata yang memiliki lebih dari satu arti), di dalam bahasa arab memilki dua makna yang saling berlawanan, yaitu suci dan haid.

Allah Ta'ala telah berfirman:

"وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ"

Artinya: "Dan perempuan-perempuan yang dicerai mereka menunggu (masa 'iddahnya) selama tiga sucian atauhaidan"(QS. Al Baqarah:228). Para ulama berijtihad di dalam memahami satu nash yang sama, yaitu ayat Al Qur'an, dimana sebagian mereka memaknai dengan haid seperti Imam Abu Hanifah RA, dan sebagian yang lain memahaminya dengan suci seperti Imam Syafi'I RA.

Dimana perbedaan pendapat ini tidak hanya muncul pada masa para imam madzhab saja, akan tetapi perbedaan pendapat ini sudah ada sejak zaman para sahabat baginda Nabi SAW. Ibnu Abbas RA berpendapat bahwa lafadz al qur'u yang dimaksudkan dalam ayat adalah berarti haid, begitu juga dengan sahabat Umar bin Khattab RA dan Abdullah bin Mas'ud RAyang merupakan sumber dari perpanjangan madzhab Imam Abu Hanifah RA.

Berbeda dengan pendapatnya sayyidah Aisyah RA, yang mengatakan bahwa lafadz alqur'u pada ayat di atas adalah berarti suci, sebagaimana Imam Malik meriwayatkan bahwa sayyidah Aisyah RA berkata:

"تَدْرُونَ مَا الأَقْرَاءُ إِنَّمَا الأَقْرَاءُ الأَطْهَارُ"

Artinya: "Apakah kalian tahu apa itu aqra', sesungguhnya aqra' itu adalah beberapa sucian"(HR. Malik), yang kemudian diambil oleh madzhab Imam Syafi'I RA.

Sehingga bisa diambil kesimpulan, bahwa perbedaan pendapat ini adalah sudah ada sejak zaman para sahabat baginda Nabi SAW, akan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mengklaim dirinya paling betul dan yang lain sesat masuk neraka, dimana semuanya saling menghormati pendapat dan ijtihad orang lain.

Perbedaan inilah yang merupakan rahmat bagiumat baginda Nabi SAW, yaitu sebagai bentuk keragaman yang memiliki makna attaisir (kemudahan) di dalam beragama.Wallahu A'lam….bersambung.

-kabarviral/aktual

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top