Fenomena ORANG GILA 'hanya' SERANG ULAMA ?

Baca Juga 



  Yes  Muslim  - Mantan Kepala BIN Sutiyoso Yakin Ada Operator Aksi ‘Orang Gila’ Serang Ulama


Mantan Kepala BIN Sutiyoso Yakin Ada Operator Aksi ‘Orang Gila’ Serang Ulama



Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso yakin ada operator dalam insiden penyerangan pada tokoh agama oleh orang-orang yang diduga mengalami gangguan jiwa. Hal ini juga diduga terkait dengan tahun politik.


Sedikit menyindir, Sutiyoso mengatakan, saat ini banyak orang berpura-pura untuk tujuan tertentu. Misalnya, pura-pura sakit dan kecelakaan untuk menghindari pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Itu jadi modus dan orang kita tidak malu termasuk pura-pura gila,” kata Sutiyoso di Jakarta, Kamis (22/2).

Karena itu sulit dipercaya jika ada kejadian berturut-turut yang diduga melibatkan orang gila dengan kasus yang sama, penganiayaan tokoh agama, tanpa ada rekayasa di belakangnya.


“Karena berulang kali pastilah itu ada operatornya,” ujar Sutiyoso.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan diperlukan pemeriksaan medis untuk membuktikan bahwa orang diduga menganiaya tokoh agama benar-benar gila.

Sutiyoso juga yakin insiden penganiayaan tokoh agama ini terkait dengan tahun politik. Hal ini bisa dilihat dari target penganiayaan yakni tokoh agama yang merupakan tokoh informal yang punya massa.

Namun untuk memastikan, ia menyebut negara dalam hal ini penegak hukum seharusnya bisa mengurainya. Termasuk untuk menyelidiki secara pasti apakah benar pelakunya adalah orang gila atau bukan dan siapa yang ada di belakang semua ini.


Rentetan aksi penyerangan terhadap pemuka agama terjadi sejak akhir Januari lalu.

Aksi pertama terjadi di Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pimpinan Ponpes KH Umar Basri dianiaya usai melaksanakan Salat Subuh, pada 27 Januari lalu.

Kemudian penyerangan terjadi terhadap pengurus Persis Ustaz Prawoto pada 1 Februari 2018. Lalu, pada Minggu (11/2), penyerangan terjadi di Gereja Santa Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta. [cnn][www.tribunislam.com




Pengamat Intelejen: Orang Gila Ternyata Bisa ’Dioperasikan’


Pengamat Intelejen: Orang Gila Ternyata Bisa ’Dioperasikan’

Kasus penyerangan orang gila terhadap tokoh agama, ulama atau kiai, seperti yang disampaikan polisi, memunculkan banyak spekulasi dari masyarakat. Mulai dari keraguan diagnosa polisi hingga kecurigaan dalang yang mengarahkan orang yang disebut gila tersebut.


Apakah benar orang gila bisa diarahkan untuk melakukan operasi dan penyerangan di lapangan? Ternyata Pengamat Intelejen, Soeripto mengatakan, orang gila pun bisa 'dioperasikan'.

"Operasi penyerangan seperti ini bisa menggunakan orang gila. Mereka bukan didoktrin, seperti orang waras, tapi mereka direkayasa suasana jiwanya, disentuh sisi emosinya," ungkap Soeripto yang dikenal sebagai tokoh intelijen 'tiga zaman' ini, Rabu (21/2).

Orang gila yang akan dioperasikan ini, kata dia, dipelajari dulu dimana sisi emosinya tersentuh. Kapan orang-orang gila ini mudah terpancing, dan bertindak agresif dan kapan dia menjadi tenang.

Setelah dipelajari sisi emosinya, kemudian disentuh emosinya tersebut, hingga kemudian orang gila yang siap dioperasikan ini akan bertindak agresif. "Jadi, orang gila pun sangat bisa untuk dioperasikan," ujarnya.

Mantan staf Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) periode 1967-1970 ini mengatakan contohnya ada. Salah satunya, kasus pembunuhan Presiden AS John F Kennedy. Pelaku pembunuhan Kennedy, menurutnya, latar belakang kejiwaannya tidak stabil. Tapi pelaku berhasil membunuh Kennedy.

Secara nalar orang awam memang sulit diterima, bagaimana orang gila bisa menentukan targetnya. Tapi bagi Soeripto, dalam pengetahuan intelejen kemampuan observasi dan mengidentifikasi orang dengan tepat itu bisa. Dan setelah itu barulah mereka diprogram.

"Jadi sebelum mereka diprogram dan dioperasikan, mereka sudah dipelajari lebih dulu. Dan ketika dioperasikan, ternyata bisa berjalan beriringan di berbagai daerah. Ini berarti jaringannya berjalan baik," ujarnya.

Karena itu, diungkapkan dia, tidak heran bila kejadian penyerangan tokoh agama dan ulama ini terjadi berturut-turut dan tidak hanya terjadi di satu tempat. Dan tidak mungkin ini disebut kebetulan. "Pasti ada skenario dan rekayasanya," tegasnya.

Dan yang bisa melakukan hal semacam ini, menurutnya, adalah mereka yang punya kemahiran dan pengetahuan untuk melakukan operasi intelejen tertutup, bukan terbuka.

Operasi terbuka biasanya dilakukan orang biasa, mereka memiliki pengetahuan secara umum. Tapi kalau operasi tertutup dioperasikan oleh orang orang yang memiliki pengetahuan khusus, dan biasanya memiliki kemampuan operasi intelejen yang baik.

"Jadi dari analisa deduktif spekulatif saya pasti ada yang 'ngerjain' artinya ada rekayasa." Walau benar secara medis penyerang didiagnosa gila, tapi dia bisa direkayasa melakukan penyerangan kepada pada orang orang tertentu.

"Bukan berarti saya menuduh lembaga intelejen terlibat disini," tegasnya. Tapi, mereka yang mengoperasikan ini, bisa jadi memiliki kemampuan intelejen, dan memiliki kemampuan operasi tertutup.

Dan apa tujuan operasi ini?. Menurut Soeripto tentu tujuannya tidak lain untuk memberikan kepanikan dan ketakutan pada masyarakat. Karena dulupun, menurutnya, hal seperti ini pernah terjadi, jadi cara seperti ini bukanlah hal yang aneh.[www.tribunislam.com

Sumber : republika.co.id, b-islam.com

MUI Tuntut Polri Selesaikan Kasus ‘Orang Gila’ yang Serang Tokoh Agama


MUI Tuntut Polri Selesaikan Kasus ‘Orang Gila’ yang Serang Tokoh Agama

Dewan Pertimbangan Mejelis Ulama Indonesia (Wantim-MUI) menggelar pertemuan dengan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal (Pol) Ari Dono Sukmanto dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen (Pol) Suhardi Alius guna mendapatkan kejelasan terkait kejadian penyerangan “orang gila” terhadap beberapa ulama yang terjadi belakangan ini.


Selain Polri dan BNPT, pertemuan ini juga dihadiri oleh para pimpinan ormas Islam.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof Dr HM Din Syamsuddin, di kalangan ulama dan umat Islam umumnya muncul persepsi bahwa rentetan penyerangan terhadap tokoh agama dan ulama tidaklah berdiri sendiri.

“Muncul persepsi yang menyimpulkan ini tidak berdiri sendiri. Tapi bagian dari rekayasa sistematis, itu kesimpulan kami,” kata Din di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Rabu (21/2/2018).

Persepsi seperti itu, menurut Sekjen MUI, KH Dr Anwar Abbas, sangatlah wajar karena kejadiannya serupa dan dalam waktu yang berdekatan.

“Jadi masyarakat tidak bisa disalahkan juga menyebut ada rekayasa,” ujar Abbas.

Oleh karenanya, agar tidak muncul berbagai persepsi, dia mendesak hal ini diselesaikan dan diungkap secara jelas oleh pihak kepolisian.
“Jika ada rekayasa berarti negara ini sudah sangat masalah,” kata Abbas.

Hal yang sama diungkapkan Din. Jika kasus tersebut tidak segera diselesaikan, ujarnya, maka akan menimbulkan praduga yang akhirnya saling menyalahkan dan membuat reaksi umat Islam tidak proporsional. Sebab, terangnya, kejadian tersebut menimpa ulama.

“Kalau sudah ulama, mudah sekali untuk menyulut dari umat, apalagi dengan persepsi, wah ini tiba-tiba ada ‘orang gila’, apalagi dikaitkan dengan proses politik,” ungkap mantan Ketua Umum MUI ini.

Selain itu, menurut Din, potensi adu domba antarumat beragama juga bisa terjadi karena muncul praduga-praduga yang bias di kalangan masyarakat.

“Kita tidak ingin seperti itu. Kita mendukung dan mendorong masalah ini diselesaikan,” ujarnya.

Tanggapan Polri

Dalam kesempatan ini, Kabareskrim Polri Komjen (Pol) Ari Dono Sukmanto mengatakan bahwa ada beberapa akun media sosial yang menyebarkan berita bohong untuk memanfaatkan situasi yang menimpa ulama dan tokoh agama.
“Cerita tidak benar, hoax, yang memang diciptakan dan menimbulkan ketakutan, peristiwanya penganiayaan biasa, bukan terhadap kiai atau ulama,” terang Komjen Ari.

Dia menjelaskan bahwa sampai saat ini sudah ada 5 orang yang dijadikan tersangka lantaran telah menyebarkan berita bohong terkait kasus penganiayaan ulama dan tokoh agama tersebut.

“Sudah ada 5 tersangka yang kita proses, khususnya yang dari Jawa Barat yang menyebarkan isu-isu tidak benar,” kata dia.

Adapun dengan dugaan gila terhadap pelaku penganiayaan ulama, menurutnya, hal itu memang pantas dikatakan jika pelaku tidak normal. Sampai saat ini, paparnya, ada pelaku yang belum berbicara sehingga menyulitkan proses pengungkapan.

Komjen Ari mengungkapkan pihaknya akan terus mengungkap kejadian tersebut, terutama terkait identitas pelaku. Nantinya, pelaku yang dianggap tidak normal akan ditangani oleh ahli kejiwaan.

“Meskipun dia tidak normal akan kita proses terus, nanti hakim yang menentukan bisa bertanggungjawab terhadap perbuatannya atau tidak, perbuatan penganiayaan atau pengrusakan,” tuturnya.

“Insya Allah paling lama dua minggu,” janji Komjen Ari.[www.tribunislam.com

Sumber : salam-online.com


Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top