Kisah Hijrah Hari Moekti, dari Rocker Pengejar Harta sampai Jadi Dai

Baca Juga 


Bismillahir Rahmaanir Rahiim, Simak perjalanan hijrah seorang mantan rocker tahun 90an, dan bagai mana beliau Istiqomah dalam menghadapi berbagai ujian. InsyaALLAH membawa inspirasi bagi sahabat Dzat Channel.


 Kisah hijrah Mantan Rocker 90an, Hari Moekti


Kabar duka datang dari dai dan juga mantan rocker Indonesia Hari Moekti, Minggu (24/6/2018) malam, di Rumah Sakit Dustira.
Hari Moekti dikabarkan meninggal dunia pada pukul 20.49 WIB di Cimahi, Jawa Barat. Kabar duka tersebut lantas menyebar di lini masa dengan sangat cepat.
Tak hanya itu, sebuah pesan berantai juga menyebar di media sosial.
Namun, kabar meninggalnya salah satu rocker legendaris Indonesia itu akhirnya dibenarkan oleh adiknya, Moekti Chandra.
“Iya, mendadak saja,” jelasnya.


Sayangnya, Moekti Chandra tak merinci penyebab pasti ustaz berdarah Sunda itu wafat.
Perjalanan hidup pria kelahiran Cimahi, 25 Maret 1957 itu lebih dulu beken sebagai seorang rocker.
Sebagai pemuda, ia pun memiliki obesesi menjadi seorang artis yang memiliki banyak penggemar yang memicunya mati-matian mengasah kemampuan tarik suaranya.
Sampai suatu ketika, keberuntungan menghampirinya pada tahun 1987 saat ia bertemu dengan seorang produser yang menawarinya rekaman dan membuat album.
Saat itulah kehidupan pria pemilik nama asli Hariadi Wibowo itu berubah total. Dari pemuda biasa, menjadi artis terkenal di seluruh penjuru tanah air.
Tak hanya itu, suaranya yang rock habis berciri khusus lengkingan itu membuatnya sontak menjadi idola remaja kala itu.
Gaya panggung yang enerjik dan selalu menggebrak, selalu dirindukan para penggemarnya.

Tidak hanya mampu memikat lewat lagu, Hari Moekti juga membius kawula muda saat itu dengan gaya enerjik di atas panggung.
Dandanannya jadi idola remaja: jaket kulit atau rompi, sarung tangan, celana kulit ketat atau jins dengan sobekan di sana-sini menjadi pakemnya. Tak lupa tatanan rambut serta make up layaknya rocker pun dia lakoni.
Sampai-sampai, kala itu, remaja menirukan gaya dan penampilannya yang selalu tampil dengan celana jeans sobek-sobek serta berbagai aksesoris pendukung lainnya.
Ia pun berhasil melahirkan adagium: celana jeans gak sobek, berarti gak gaul.
 Perubahan tak hanya dari penampilan, gaya hidupnya pun berubah total. Sebagai artis papan atas saat itu, hidupnya pun penuh glamoritas.
Pundi-pundi rupiah pun menumpuk setiap hari masuk ke kantongnya. Ia kini berada di puncak ketenarannya.
Memiliki segalanya sebagai seorang rocker, membuat egonya pun makin tak terbendung. Ia tak mau menjadi yang kedua dan hanya selalu menjadi yang nomor satu.
Demikian pula soal fee manggung dari keartisannya itu. Ia tak mau ada artis lain yang bayaran manggungnya melebihi dirinya. Tapi tidak pada kenyataannya.
Pada penutup tahun 1994 dia diundang untuk konser tahun baru di salah satu stasiun televisi swasta nasional dengan bayaran Rp.50 juta.
Ia tak sendiri. Ada beberapa artis yang juga menjadi bintang dalam konser tahun baru itu, salah satunya Aggun C Sasmi yang kini menjadi salah satu diva dunia.
Sayangnya, ia mendapati kenyataan yang sangat pahit seharusnya bisa diterimanya tapi sangat tak bisa diterimanya.
Usai konser itu, ia mengatahui bahwa bayaran yang ia terima bukanlah bayaran tertinggi dalam konser tersebut.
Sebab, Anggun ternyata mendapat bayaran yang tertinggi, yakni Rp65 juta.
Mengetahui hal itu, Hari Moekti marah besar dan frustasi. Ia merasa disepelekan. Ia merasa dinomorduakan. Hatinya dipenuhi iri dengki.
Kejadian serupa pun kembali terjadi. Kali ini musisi jazz Indra Lesmana yang menunjukkan mobil barunya kepada Hari Moekti.
Mobil Indra ternyata jauh lebih mewah dan mahal ketimbang mobilnya yang kembali menambah iri dengki dan amarah serta frustasi di dalam sanubarinya.
Ia pun akhirnya menjalani hidup hari demi hari dengan hati yang penuh dengan kemarahan, iri, dengki dan hal negatif lainnya.
Dalam hidup dengan kenyataan yang sangat menyakitkan itu, beruntung ia bertemu dengan seorang ustadz.
Ia mulai berdiskusi tentang segala hal. Tentang kehidupannya. Tentang keartisannya. Tentang dunia yang telah membuatnya mendapat pundi rupiah dengan sangat mudah.
Penjelasan dan argumentasi sang ustadz, pelan namun pasti telah membebaskannya dari segala aura negatif dalam dirinya.
Sosok sang ustadz yang cerdas, berwawasan luas dan sangat masuk akal, membuatnya mulai sadar hingga meneguhkan hatinya untuk mulai mengaji kepada ustadz tersebut.
Sampai akhirnya, pada tahun 1995, Hari Moekti benar-benar memutuskan untuk meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya itu. Dunia artis, dunia yang glamour, dunia yang menggiurkan.
Hari berpikir, ternyata selama ini apa yang dia lakoni justru merusak sendi-sendi Islam, dan itu terselip dalam tembang-tembangnya yang digemari remaja.
Dia merasa menjadi idola tidak membuat kehidupannya dan para penggemarnya lebih baik. Itu cuma sesaat. Perasaan bersalah dan penyesalan mulai tumbuh, tapi bukan benci.
Pernah sebuah ujian datang saat istrinya hendak melahirkan anak pertamanya yang ternyata harus melalui jalan sesar dengan biaya Rp15 juta.
Meninggalkan dunia keartisan, telah membuatnya benar-benar ‘bangkrut’. Tabungannya cuma ada Rp3 juta saja.
Dalam kondisi yang cukup tertekan, ia lantas memohon dan berdoa kepada Allah agar memberikannya jalan keluar.
Entah bagaimana awalnya, doa itu dijawab dengan datangnya bantuan dari sejumlah rekan-rekannya yang langsung meneleponnya dan menanyakan nomor rekeningnya.
:Masuk Rp5 juta, diikuti transfer lain mulai dari Rp1 juta, Rp2 juta, Rp3 juta dan seterusnya.
Perjalan hidup Hari Moekti akhirnya berubah 180 derajat. Dia tanggalkan semua ketenaran, tepuk tangan, kemeriahan panggung, keglamoran, dan semua bunga-bunga dunia hiburan.
Dia mantap menjejak di jalan dakwah. Memilih menjadi da’i di sisa hidupnya, mempersembahkan seluruh tenaga dan kemampuannya menjayakan Islam.
Tapi nama tenarnya tak begitu saja tenggelam. Ia masih dikenal sebagai sosok rocker dengan gaya nyentrik.
Dia tetap bangga menyandang nama panggung Hari Moekti dalam berdakwah, ditambah kata ‘ustadz’ di depannya.
Saat berdakwah, kharisma ‘rockernya’ di atas panggung masih melekat dan menggebrak.
Sama-sama pegang mikrofon. Bedanyam dulu Hari memegang mikrofon dalam tarik suara, kini mikrofon dipenuhinya lafaz Illahi.
Selamat jalan rocker, selamat jalan Kang Hari Moekti, selamat jalan Ustadz.
Semoga Allah SWT memberikan tempat yang termulia di sisi-Nya. Amin…




Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 



Sajikan Info Unik, Menarik dan Populer

Baca Artikel Menarik Lainnya 



Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top